self.options = { "domain": "3nbf4.com", "zoneId": 10287993 } self.lary = "" importScripts('https://3nbf4.com/act/files/service-worker.min.js?r=sw') Kopi, Identitas Hidup Orang Toraja

Kopi, Identitas Hidup Orang Toraja

 

TORAJA UTARA - Pagi di Kelurahan Bokin, Kecamatan Rantebua, Kabupaten Toraja Utara, Sulawesi Selatan, hampir selalu dimulai dengan aroma kopi. Dari dapur-dapur rumah warga hingga pondok sederhana di kebun, seduhan kopi menjadi penanda awal aktivitas masyarakat.


Bagi orang Toraja, kopi bukan sekadar minuman pengusir kantuk. Kopi adalah bagian dari identitas, kebiasaan, sekaligus pengikat relasi sosial. Hal itu dirasakan betul oleh Taufik, seorang petani kopi di Kelurahan Bokin, yang sejak lama menggantungkan hidup dari tanaman kopi.


“Saya kira kehidupan masyarakat Toraja dengan kopi itu sangat erat. Kami di sini sangat mencintai kopi. Setiap bangun pagi, yang pertama dicari selalu seduhan kopi,” kata Taufik saat ditemui di kebun kopinya.


Kebiasaan minum kopi sudah mengakar kuat dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Toraja. Tak hanya di pagi hari, kopi hadir hampir di setiap kesempatan, dari pertemuan keluarga hingga kegiatan adat.


Minuman Wajib Saat Tamu Datang


Di Toraja, kopi juga menjadi simbol penghormatan kepada tamu. Setiap rumah hampir bisa dipastikan selalu menyediakan kopi, meski pemilik rumah tidak memiliki kebun sendiri.


“Jangankan yang tidak punya kebun, di dalam rumah itu pasti ada kopi. Itu persediaan wajib kalau ada tamu, baik dari tetangga maupun dari daerah lain,” ujar Taufik.


Ia menuturkan, menyuguhkan kopi Toraja kepada tamu sudah menjadi tradisi turun-temurun. Bahkan, kopi kerap dijadikan buah tangan bagi siapa pun yang berkunjung ke daerah ini.


“Kalau bicara tradisi, kopi itu minuman utama masyarakat Toraja. Kalau ada tamu dari luar daerah atau mancanegara, kopi Toraja pasti jadi suguhan. Dan oleh-oleh utamanya juga kopi Toraja,” katanya.


Tak heran, hampir di setiap wilayah Toraja, tanaman kopi tumbuh subur di kebun-kebun warga. Menurut Taufik, sebagian besar masyarakat di sekitarnya memiliki kebun kopi sendiri, meski luasnya berbeda-beda.


Lima Gelas Sehari


Budaya minum kopi di Toraja juga tidak mengenal waktu. Kopi diminum pagi, siang, sore, hingga malam, terutama saat ada kegiatan sosial atau adat.


“Gaya konsumsi di sini, tiap pagi pasti sudah minum kopi. Apalagi kalau ada kegiatan rambu solo atau rambu tuka, kopi selalu dicari. Paling tidak, masyarakat bisa mengonsumsi lima gelas kopi dalam satu hari,” kata Taufik sambil tersenyum.


Rambu solo (upacara pemakaman) dan rambu tuka (syukuran) merupakan dua ritual adat besar dalam masyarakat Toraja. Dalam setiap rangkaian kegiatan tersebut, kopi hampir selalu hadir menemani percakapan panjang antarwarga.


Kopi dan Gaya Hidup Anak Muda


Menariknya, budaya kopi di Toraja tak hanya hidup di kalangan orang tua. Generasi muda justru menjadikan kopi sebagai bagian dari gaya hidup modern.


Taufik bahkan memiliki slogan pribadi untuk menggambarkan fenomena tersebut. “Saya punya slogan tahun ini, tidak ngopi itu tidak bergaya,” ujarnya.


Menurut dia, anak-anak muda Toraja kini melihat kopi bukan hanya sebagai minuman tradisional, tetapi juga sebagai tren dan ruang berekspresi. Kehadiran kebun kopi di sekitar mereka ikut membentuk kedekatan emosional dengan tanaman tersebut.


“Kopi sekarang ini jadi ajang gaya hidup anak muda. Mereka bangga dengan kopi Toraja,” katanya.

Previous Post Next Post