self.options = { "domain": "3nbf4.com", "zoneId": 10287993 } self.lary = "" importScripts('https://3nbf4.com/act/files/service-worker.min.js?r=sw') Harga Dunia dan Mutu Jadi Penentu Pembelian Kopi Petani oleh PT Toarco Jaya

Harga Dunia dan Mutu Jadi Penentu Pembelian Kopi Petani oleh PT Toarco Jaya


TORAJA UTARA – Perusahaan perkebunan kopi skala besar PT Toarco Jaya tidak hanya mengandalkan kebun sendiri dalam memenuhi kebutuhan produksi, tetapi juga bermitra dengan petani kopi di wilayah Tana Toraja dan Toraja Utara. Namun, kemitraan tersebut dijalankan dengan standar mutu yang ketat, menyesuaikan kebutuhan pasar ekspor.


Perwakilan PT Toarco, Suwardi, menjelaskan bahwa perusahaan memiliki kebun inti yang berlokasi di Pedamaran Bokin, Toraja Utara, dengan luas sekitar 530 hektare. Dari kebun tersebut, perusahaan memproduksi kopi secara mandiri.


“Selain produksi dari kebun sendiri, kami juga menampung kopi dari petani masyarakat. Kopi itu berasal dari petani di Tana Toraja dan Toraja Utara yang sudah menjadi relasi kami,” ujar Suwardi saat ditemui, belum lama ini.


Menurut Suwardi, kemitraan dengan petani tidak bersifat terbuka tanpa syarat. PT Toarco menerapkan seleksi ketat terhadap kopi yang dibeli dari masyarakat. Hal inilah yang kerap memunculkan anggapan bahwa perusahaan sulit menerima kopi petani.


“Memang kami selektif. Petani yang bermitra dengan kami harus menjaga mutu kopi mereka sejak dari proses pemetikan buah hingga pengolahan menjadi pacman, atau biji kopi yang sudah dikupas kulitnya. Kami membeli kopi dalam bentuk pacman,” kata dia.


Setelah diserahkan ke perusahaan, kopi akan melalui beberapa tahapan seleksi. Pemeriksaan awal dilakukan secara visual untuk memastikan warna biji sesuai standar dan tidak tercampur benda asing maupun bau yang menyimpang.


“Setelah lolos di meja awal, kami lanjutkan pemeriksaan defect, seperti biji berlubang, biji muda, dan cacat lainnya. Tahap terakhir adalah uji citarasa,” ujar Suwardi.


Jika kualitas kopi tidak memenuhi standar kopi Toraja yang ditetapkan perusahaan, maka kopi tersebut terpaksa ditolak. “Kalau mutunya terlalu rendah, kami kasihan juga kepada petani, tapi tetap harus kami reject. Yang bisa kami terima hanya kopi dengan mutu benar-benar bagus,” katanya.


Terkait harga pembelian, Suwardi mengatakan PT Toarco mengikuti harga pasar dunia dan tren perdagangan kopi internasional. Perusahaan juga mempertimbangkan pasar lokal serta biaya produksi.


“Harga pembelian tergantung pasar. Kalau mutunya bagus, kami bisa berikan premi tambahan. Tapi kami juga tidak bisa membeli jauh di atas harga pasar internasional karena akan merugikan perusahaan,” ujarnya.


Dalam kondisi normal, PT Toarco menargetkan pembelian kopi dari masyarakat berkisar 400 hingga 600 ton per tahun. Namun, dalam tiga tahun terakhir target tersebut sulit tercapai.


“Mutu kopi yang sesuai standar kami semakin sulit dikumpulkan. Tahun 2025 ini, total produksi untuk ekspor tidak sampai 300 ton, itu gabungan dari kopi masyarakat dan kebun sendiri,” kata Suwardi.


Penurunan produksi juga dipengaruhi faktor iklim. Musim hujan berkepanjangan disebut berdampak signifikan terhadap pembungaan kopi di kebun perusahaan.


“Musim hujan yang tidak berhenti membuat pembungaan hampir tidak jadi. Produksi kebun kami tahun lalu anjlok, mungkin yang terjelek selama saya di Toarco,” ujarnya.


Padahal, permintaan kopi pada 2025 terbilang tinggi. Di sisi lain, menjamurnya kafe dan warung kopi justru tidak dianggap sebagai ancaman oleh perusahaan.


“Kami justru bersyukur banyak kafe dan pembeli lain yang menampung kopi masyarakat. Itu bisa menggairahkan petani untuk menanam kopi. Kami tidak ingin bersaing,” kata Suwardi.


Meski demikian, ia mengakui ada tantangan ketika pembeli skala kecil menawarkan harga tinggi untuk volume terbatas. “Itu kadang merusak pasar, karena kami membeli berdasarkan harga jual kami yang terbatas,” ujarnya.


Suwardi juga menyinggung tren produksi kopi PT Toarco yang pernah mencapai puncaknya pada awal 1990-an. “Paling tinggi itu tahun 1992–1993, kami bisa menampung lebih dari 1.000 ton kopi. Setelah itu terus menurun, menjadi 800 ton, lalu 600 ton, salah satunya karena muncul pembeli lain,” kata dia.


Menurut Suwardi, tantangan utama ke depan adalah menjaga standar mutu kopi di tengah perubahan iklim dan dinamika pasar global yang terus berubah.

Previous Post Next Post