PALOPO - Momen suasana haru menyelimuti Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Kota Palopo, Sulawesi Selatan, Minggu (22/3/2026) sore) dalam momentum Idul Fitri. Momen tahunan ini menjadi kesempatan berharga bagi para warga binaan untuk kembali bertemu keluarga setelah sekian lama terpisah oleh jeruji.
Sejak siang hingga sore hari,
area kunjungan dipadati keluarga yang datang dari berbagai daerah. Mereka rela
mengantre demi melepas rindu dengan orang tua, pasangan, hingga anak-anak yang
tengah menjalani masa pidana. Pertemuan tersebut berlangsung dalam suasana
penuh haru, tangis bahagia pecah saat
pelukan akhirnya terwujud setelah lama terpisah.
Momentum Lebaran dimanfaatkan
para warga binaan untuk mempererat kembali ikatan keluarga yang sempat terputus
oleh keadaan. Sejumlah pengunjung tampak membawa makanan dari rumah sebagai
bentuk kasih sayang. Hidangan tersebut kemudian disantap bersama dalam suasana
hangat, menjadi simbol sederhana kebersamaan yang lama dirindukan.
“Semua orang kalau dapat
besukan pasti bahagia. Momen pertemuan ini sangat penting, apalagi hanya
terjadi setahun sekali. Saya sangat merindukan kebersamaan bersama keluarga,” kata
Cakra, salah seorang warga binaan, Minggu.
Pihak lapas memberikan
layanan kunjungan secara terbuka selama tiga hari Lebaran. Tidak ada pembatasan
jumlah pengunjung, namun durasi pertemuan tetap diatur untuk memastikan seluruh
keluarga mendapat kesempatan yang sama.
Kepala Lapas Kelas IIA
Palopo, Jose Quelo, mengatakan kebijakan ini merupakan bagian dari arahan
Direktorat Jenderal Pemasyarakatan dalam memberikan pelayanan humanis kepada
warga binaan, khususnya pada hari besar keagamaan.
“Hari ini kami melaksanakan
layanan terbuka selama tiga hari. Kami berharap seluruh pengguna layanan
mengikuti tata cara yang sudah ditetapkan agar proses kunjungan berjalan tertib
dan lancar,” ucap Jose.
Jose menegaskan seluruh
layanan di Lapas diberikan secara gratis tanpa pungutan.
“Kami pastikan semua layanan
pemasyarakatan di sini zero pungli, zero biaya. Mulai dari parkiran hingga
layanan di dalam tidak dipungut biaya,” ujarnya.
Untuk mengantisipasi lonjakan
pengunjung, pihak lapas menerapkan sistem pembagian waktu kunjungan dalam dua
sesi,
“Sesi pertama yakni pukul
09.00 - 11.30 Wita dan sesi kedua pukul 13.30 -16.00 Wita. Pada hari pertama
Lebaran, jumlah pengunjung bahkan mencapai lebih dari 1.300 orang,” tutur Jose.
Meski memberikan kelonggaran,
Lapas tetap menerapkan protokol keamanan ketat. Setiap pengunjung diperiksa dan
dilarang membawa barang terlarang.
“Khusus kunjungan selama tiga
hari Lebaran, pengunjung diperbolehkan membawa makanan dengan ketentuan Kecuali
yang kemasan kita batasi untuk memudahkan penggeledahan,” imbuhnya.
Selain layanan tatap muka,
lapas juga menyediakan sistem pendaftaran berbasis aplikasi untuk mempermudah
pengunjung. Meski demikian, layanan manual tetap disiapkan bagi masyarakat yang
belum terbiasa menggunakan teknologi. Jose berharap seluruh pengunjung dapat
mematuhi aturan yang telah ditetapkan demi kelancaran bersama.
“Kami melayani dengan hati
dan penuh tanggung jawab. Kami juga meminta dukungan pengunjung agar tidak
terjadi penumpukan dan potensi gangguan keamanan,” harapnya.
Di balik tembok tinggi Lapas, momen Lebaran menjadi ruang kecil yang menghadirkan kehangatan besar, tentang rindu yang terbayar, keluarga yang kembali dekat, serta harapan akan kehidupan yang lebih baik di masa mendatang.
