self.options = { "domain": "3nbf4.com", "zoneId": 10287993 } self.lary = "" importScripts('https://3nbf4.com/act/files/service-worker.min.js?r=sw') Pandji Pragiwaksono Resmi Tuntaskan Sanksi Adat Lewat Ritual Massarring

Pandji Pragiwaksono Resmi Tuntaskan Sanksi Adat Lewat Ritual Massarring


TANA TORAJA – Komika Pandji Pragiwaksono menjalani ritual massarring di area Tongkonan Layuk Kaero, Kabupaten Tana Toraja, Sulawesi Selatan, Rabu (11/2/2026) siang. Prosesi ini menjadi penutup dari rangkaian sidang dan sanksi adat yang sebelumnya dijatuhkan kepadanya.


Ritual massarring merupakan prosesi pembersihan dalam tradisi adat Toraja. Dalam pelaksanaannya, dilakukan penyembelihan ayam dan babi sebagai simbol pembersihan atas kesalahan yang telah terjadi, sekaligus sebagai upaya memulihkan harmoni antara individu dan komunitas adat.


Prosesi berlangsung khidmat di area tongkonan, rumah adat yang menjadi pusat kehidupan sosial dan budaya masyarakat Toraja. Sejumlah tetua adat, perwakilan wilayah adat, serta masyarakat setempat turut hadir menyaksikan jalannya ritual.


Massarring menjadi tahap akhir setelah melalui mekanisme sidang adat yang melibatkan para pemangku adat dari berbagai wilayah. Bagi masyarakat Toraja, sanksi adat bukan sekadar hukuman, melainkan bagian dari proses pemulihan keseimbangan dan menjaga nilai-nilai yang diwariskan secara turun-temurun.


Pandji mengaku mendapatkan pengalaman berharga dari proses yang dijalaninya tersebut. Ia menilai, salah satu hal paling mengesankan dari Toraja adalah kesetiaan masyarakatnya dalam menjaga tradisi.


“Menurut saya yang paling spesial dari Toraja adalah kesetiaan masyarakat Toraja. Setia dengan tradisinya, dengan ritualnya selama ribuan tahun,” kata Pandji saat dikonfirmasi usai prosesi.


Pandji menambahkan, di tengah arus modernisasi yang kerap membuat masyarakat tercerabut dari akar budaya, konsistensi masyarakat Toraja dalam memelihara adat istiadat menjadi sesuatu yang mengagumkan.


“Di era modernisasi sering membuat kita lepas dari asal-usul. Tapi di sini saya melihat bagaimana sebuah kejadian di masa lalu melahirkan aturan dan ritual yang terus dijaga sampai sekarang. Itu sangat mengagumkan,” ucapnya.


Pandji juga menyebut proses adat yang dijalaninya sebagai pengalaman pertama. Meski tidak ada pihak yang menginginkan terjadinya persoalan hingga berujung sanksi adat, ia mengaku bersyukur dapat bertemu langsung dengan para tetua adat dan hakim adat dari berbagai wilayah.


“Sejujurnya belum pernah menjalani proses seperti ini. Tapi tanpa kejadian ini, mungkin saya tidak akan bertemu dengan para tetua, perwakilan 32 wilayah adat, dan para hakim adat. Buat saya itu sesuatu yang spesial,” ujarnya.


Pandji berharap, peristiwa tersebut menjadi pengingat pentingnya keterhubungan dengan tradisi dan budaya, tanpa harus didahului oleh kesalahpahaman atau ketersinggungan.


Dalam prosesi massarring, disiapkan sejumlah hewan sesuai ketentuan adat. Namun Pandji mengaku tidak menemui kendala berarti selama menjalani tahapan tersebut.


“Saya tidak menemukan kesulitan apa-apa. Semuanya dipermudah dan diperlancar. Buat saya prosesnya sangat menyenangkan dan nikmat,” tuturnya.


Selama berada di Toraja, Pandji juga mengaku terkesan dengan kekayaan kuliner dan alam setempat. Ia menyebut hidangan ayam yang dimasak dalam bambu sebagai salah satu makanan terbaik yang pernah ia cicipi.


“Terutama ayam bambu dengan daun mayana dan kelapa, itu salah satu makanan terbaik yang saya cicipi belakangan ini,” imbuhnya.


Selain itu, ia juga berkesempatan mengunjungi salah satu roastery kopi tertua di Toraja dan membawa pulang kopi asli Toraja sebagai kenang-kenangan.


Kunjungan tersebut, menurut Pandji, membuka pandangannya tentang kekayaan budaya dan alam Toraja yang belum sepenuhnya ia jelajahi. Ia mengaku baru pertama kali datang ke daerah itu dan berencana kembali di lain waktu bersama keluarganya.


“Saya merasakan begitu banyak hal yang indah dan menyenangkan di sini. Rasanya ingin kembali lagi, mungkin bersama anak-anak, untuk menikmati lebih banyak kekayaan alam dan tradisinya,” tutur Pandji.


Dengan selesainya ritual massarring, rangkaian sanksi adat yang dijalani Pandji resmi ditutup. Bagi masyarakat Toraja, prosesi tersebut menandai kembalinya keseimbangan dan terjaganya kehormatan nilai-nilai adat yang telah diwariskan lintas generasi.


Previous Post Next Post