PALOPO – Program buka puasa bersama di Masjid Agung Luwu Palopo yang letaknya di Jl. KH. M. Ramli No. 2, Kelurahan Batupasi, Kecamatan Wara Utara, Kota Palopo, Sulawesi Selatan, terus menunjukkan peningkatan jumlah jemaah pada Ramadhan tahun ini. Setiap sore, sedikitnya 300 hingga 400 orang memadati area masjid untuk berbuka puasa bersama.
Ketua Pengurus Masjid Agung Luwu Palopo, Bakhtiar Nawir, menyatakan tradisi berbagi hidangan berbuka sebenarnya telah lama menjadi bagian dari pelayanan masjid kepada masyarakat. Namun, pada periode kepengurusan yang baru berjalan sekitar satu bulan ini, pelaksanaan buka puasa bersama dikemas lebih terstruktur melalui pembentukan panitia khusus Amalia Ramadhan. Grafik jumlah pengunjung mengalami peningkatan signifikan dibanding tahun-tahun sebelumnya.
“Tradisi berbuka puasa bersama ini sebenarnya sudah menjadi kebiasaan kami sejak dulu, sebagai bentuk pelayanan kepada jemaah. Tetapi untuk kepengurusan baru, program ini kami mulai secara rutin sejak hari pertama Ramadhan tahun ini. Jika sebelumnya jumlah jemaah relatif stabil, kini setiap sore jumlahnya bisa 300 orang bahkan sampai 400 orang yang berbuka di sini,” kata Bakhtiar saat dikonfirmasi, Kamis (26/2/2026).
.
Didukung Donatur dan Jemaah
Untuk memenuhi kebutuhan ratusan jemaah tersebut, pengurus masjid menyiapkan ratusan porsi makanan setiap hari. Sumber pendanaan tidak hanya berasal dari kas masjid, tetapi juga dari donatur dan partisipasi jemaah.
Bakhtiar menjelaskan, salah satu donatur tetap adalah Rektor Universitas Mega Buana Palopo, Prof. Nilawati, yang setiap sore menyumbangkan 100 porsi makanan berbuka.
“Setiap hari ada 100 porsi dari Prof Nilawati. Itu kemudian diakumulasi dengan bantuan dari donatur lain dan jemaah yang ikut berpartisipasi,” jelasnya.
Ia menambahkan, pengurus juga menyiapkan dana cadangan untuk mengantisipasi kekurangan makanan apabila jumlah jemaah melebihi perkiraan.
“Kalau misalnya bantuan tidak cukup, kami sudah siapkan dana khusus. Jadi langsung kita ambil untuk menutup kekurangan saat itu juga. Prinsipnya, tidak boleh ada jemaah yang tidak berbuka,” tegas Bakhtiar.
Seluruh hidangan berbuka sudah siap sebelum pukul 17.00 Wita setiap harinya. Dalam pelaksanaannya, program buka puasa bersama ditangani oleh panitia Amalia Ramadhan yang dibentuk khusus oleh pengurus. Panitia ini bertugas mengatur distribusi makanan, memprediksi jumlah jemaah, serta menjadwalkan kehadiran instansi atau kelompok tertentu.
“Panitia ini bekerja maksimal. Mereka sudah memperkirakan berapa kira-kira jemaah yang akan datang setiap hari. Alhamdulillah, sampai hari ini kami belum pernah kewalahan,” tutur Bakhtiar.
Selain jemaah sekitar masjid, sejumlah instansi juga kerap hadir untuk berbuka puasa bersama, mulai dari unsur kejaksaan hingga pemerintah daerah. Kehadiran mereka telah dijadwalkan sebelumnya agar distribusi makanan tetap terkendali.
Musafir Banyak Hadir Berbuka Bersama
Meski demikian, tantangan terbesar justru datang dari para musafir yang singgah tanpa pemberitahuan sebelumnya. Lokasi masjid yang strategis serta area parkir yang luas dan nyaman membuat banyak pelintas memilih berhenti dan berbuka di Masjid Agung.
“Yang sulit diprediksi itu musafir. Kadang satu mobil datang, bahkan lebih. Mereka singgah karena merasa nyaman di sini,” terang Bakhtiar.
Dalam kondisi tertentu, jumlah musafir yang datang bisa membuat total jemaah melampaui stok makanan yang telah disiapkan. Namun pengurus telah menyiapkan skema darurat.
“Kalau misalnya stok hanya 300, tapi yang datang 400 orang, langsung kami pesan tambahan. Di sekitar masjid banyak penjual, dan kami sudah bekerja sama dengan mereka. Jadi bisa langsung dieksekusi. Langkah cepat tersebut menjadi komitmen pengurus agar seluruh jemaah tetap mendapatkan hidangan berbuka tanpa terkecuali,” jelasnya.
Bakhtiar berharap partisipasi masyarakat terus meningkat, tidak hanya dalam bentuk donasi, tetapi juga dukungan manajerial dan ide-ide pengembangan masjid. Ia mencontohkan, sejumlah fasilitas masjid mulai dibenahi berkat bantuan pihak luar, termasuk fasilitas bagi penyandang disabilitas pengguna kursi roda yang pembiayaannya berasal dari donatur.
“Animo masyarakat cukup besar. Banyak yang memberi bantuan, bahkan sugesti untuk pengembangan masjid. Beberapa item yang tadinya harus pakai dana masjid, sekarang sudah terbantu dari donatur,” ujarnya.
Kedepan, pengurus berharap program Amalia Ramadhan tidak hanya menjadi agenda tahunan, tetapi semakin memperkuat peran Masjid Agung Luwu Palopo sebagai ruang ibadah sekaligus ruang sosial bagi masyarakat.
“Harapan kami, masyarakat terus mengambil andil. Masjid ini milik bersama. Selama Ramadhan, kita ingin semua yang datang, baik jemaah sekitar maupun musafir, merasa terlayani dengan baik,” harap Bakhtiar.
