Sidang Sinode Am Gereja Toraja Digelar di Palopo, Bahas Tantangan Digitalisasi dan Masa Depan Pelayanan

PALOPO – Forum musyawarah dan pengambilan keputusan tertinggi dalam Gereja Toraja, yakni Sidang Sinode Am (SSA) ke-26, resmi digelar di Kota Palopo, Sulawesi Selatan. Kegiatan lima tahunan ini menjadi momentum evaluasi pelayanan sekaligus merumuskan arah pelayanan Gereja Toraja ke depan. Pelaksanaan berlangsung 9 hingga 14 Juli 2026.


Ketua Pelaksana Harian Sidang Sinode Am ke-26, Pdt. Sion K. Pamangin mengatakan, tema yang diangkat dalam sidang kali ini adalah “Teguh dalam Kebenaran. Berteguh dalam Kasih” yang diambil dari Kitab Efesus pasal 4 ayat 15.


Menurutnya, tema tersebut merupakan kelanjutan dari tema Sidang Sinode sebelumnya lima tahun lalu, yakni “Bertambah Teguh”.


“Lima tahun yang lalu kita mengambil tema bertambah teguh. Orientasinya adalah kita sedang berproses. Nah, lima tahun ini kita mengambil tema bahwa kita sudah teguh,” kata Pdt. Sion K. Pamangin.


Sion menjelaskan, melalui tema tersebut Gereja Toraja ingin menegaskan komitmen untuk tetap berdiri dalam nilai-nilai kebenaran dan kasih, meskipun menghadapi berbagai tantangan dan perubahan zaman.


“Sehingga apapun tantangan dan masalah yang kita hadapi, kita tidak akan bergeser dari kebenaran itu,” ucapnya.

 

25 Tahun Kembali Digelar di Palopo

Pelaksanaan Sidang Sinode Am Gereja Toraja di Palopo menjadi momen istimewa karena terakhir kali kegiatan serupa digelar di kota tersebut pada tahun 2001.


Setelah 25 tahun berlalu, Kota Palopo kembali dipercaya menjadi tuan rumah penyelenggaraan forum tertinggi Gereja Toraja.


Pdt. Sion menjelaskan, keputusan pelaksanaan sidang di Tana Luwu merupakan hasil usulan agar kegiatan Gereja Toraja kembali dilaksanakan di wilayah tersebut.


“Memang wilayah satu Tanah Luwu ini ditunjuk karena kami mengusulkan tahun lalu bahwa kalau bisa kembali ke Tana Luwu,” ujarnya.


Gereja Toraja saat ini memiliki 273 jemaat yang tersebar di empat kabupaten/kota di Tana Luwu, serta beberapa wilayah pelayanan lainnya seperti Kolaka dan Kendari.


Setelah wilayah satu ditetapkan sebagai tuan rumah, rapat wilayah kemudian menunjuk Jemaat Elim Palopo sebagai jemaat penghimpun sehingga pelaksanaan Sidang Sinode Am ke-26 berlangsung di Kota Palopo.


Bahas Digitalisasi hingga Tantangan Adat dan Budaya

Dalam sidang yang berlangsung selama lima tahun sekali tersebut, peserta akan mengevaluasi perjalanan pelayanan Gereja Toraja selama periode sebelumnya.


Menurut Pdt. Sion, salah satu isu utama yang akan dibahas adalah perkembangan era digitalisasi yang memberikan dampak besar terhadap kehidupan masyarakat, termasuk pelayanan gereja.


“Isu yang akan banyak dibicarakan adalah terkait dengan perkembangan era digitalisasi. Mau tidak mau ini pasti berdampak dalam kehidupan gereja,” tuturnya.


Selain digitalisasi, sidang juga akan membahas persoalan adat dan budaya yang selama ini menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Toraja.


Ia mengatakan, gereja memiliki peran untuk memberikan pandangan dan arahan mengenai bagaimana menyikapi berbagai dinamika yang terjadi di tengah masyarakat.


“Bagaimana gereja harus memberikan suara, bagaimana yang benar, bagaimana yang baik dalam pelayanan,” imbuhnya.


Selain itu, Sidang Sinode Am juga akan membahas penguatan pelayanan di daerah-daerah terpencil agar seluruh jemaat Gereja Toraja dapat mengalami pertumbuhan dan pelayanan yang lebih baik.


Dihadiri Ratusan Utusan dari Seluruh Indonesia

Sidang Sinode Am ke-26 Gereja Toraja diikuti oleh berbagai unsur peserta. Salah satunya adalah utusan dari seluruh Gereja Toraja di Indonesia yang berjumlah 557 orang.


Selain utusan jemaat, peserta juga berasal dari Badan Pekerja Sinode Gereja Toraja, Badan Verifikasi Gereja Toraja, Majelis Pertimbangan Gereja Toraja, serta unit-unit kerja yang telah menjalankan pelayanan selama lima tahun terakhir.


“Kegiatan ini juga dihadiri para pendeta, pelayan gereja, proponen dari berbagai daerah di Indonesia, serta tamu undangan dari luar negeri. Beberapa perwakilan luar negeri yang hadir berasal dari Malaysia, Belanda, Jerman, dan Amerika Serikat,” ungkapnya.

Previous Post Next Post