LUWU – PT Masmindo Dwi Area (MDA) memperkenalkan program Desa Tangguh Bencana (Destana) sebagai salah satu program unggulan perusahaan dalam kegiatan sharing session bersama Pemerintah Kabupaten Luwu di stan pameran UMKM Hari Jadi ke-67 Kabupaten Luwu, Belopa, Minggu (5/7/2026).
Pada hari kedua kegiatan tersebut, PT MDA memaparkan upaya kolaboratif dalam meningkatkan kapasitas masyarakat menghadapi bencana, khususnya di wilayah Kecamatan Latimojong yang memiliki tingkat kerawanan bencana cukup tinggi.
Program Destana merupakan hasil kolaborasi PT MDA bersama Pusat Studi Pemetaan dan Bencana (Puspena) Universitas Cokroaminoto Palopo (UNCP) serta Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Luwu. Program ini dirancang untuk meningkatkan pengetahuan, kesiapsiagaan, dan kemampuan masyarakat dalam melakukan mitigasi bencana.
Ketua Puspena UNCP, Ikhawan Muis, mengatakan program tersebut lahir sebagai respons atas bencana alam yang melanda Kecamatan Latimojong pada 2024. Peristiwa tersebut menjadi momentum bagi berbagai pihak untuk memperkuat kesiapsiagaan masyarakat melalui edukasi dan pembentukan sistem mitigasi berbasis desa.
"Desa Tangguh Bencana merupakan forum di tingkat desa yang bertujuan mengonsolidasikan seluruh elemen masyarakat dalam upaya mengurangi risiko bencana. Melalui kelompok ini, masyarakat diharapkan mengetahui langkah-langkah yang harus dilakukan sebelum, saat, maupun setelah bencana terjadi," kata Ikhawan.
Menurutnya, program Destana tidak hanya berfokus pada pembentukan forum kebencanaan dan pelatihan masyarakat, tetapi juga menghadirkan inovasi digital melalui peluncuran situs puspena.com yang memuat peta potensi bencana di Kecamatan Latimojong, hasil kajian mitigasi, serta informasi kawasan rawan bencana yang dapat diakses masyarakat.
"Website ini dirancang oleh PT MDA bersama UNCP untuk memetakan titik-titik rawan bencana berdasarkan pengalaman bencana longsor tahun 2024. Melalui pemetaan tersebut, kami juga melakukan penguatan kapasitas di setiap desa yang memiliki tingkat kerawanan bencana," ujarnya.
Hingga saat ini, program Destana telah terbentuk di enam desa di Kecamatan Latimojong, yakni Desa Ulusalu, Bonelemo, Boneposi, Kadundung, Tolajuk, dan Ranteballa.
Di setiap desa, telah dibentuk tim yang bertugas memberikan edukasi kepada masyarakat sebelum maupun saat bencana terjadi. Para anggota Destana juga memperoleh pelatihan mengenai pencegahan, mitigasi, hingga penanganan awal bencana agar mampu menjadi garda terdepan dalam melindungi warga di wilayahnya.
Ikhawan menjelaskan, program tersebut mulai dijalankan sejak 2024 hingga awal 2025 dengan Desa Ulusalu dan Bonelemo sebagai desa percontohan yang mewakili karakteristik ancaman bencana berbeda. Pada 2026, cakupan program diperluas dengan penambahan desa binaan.
"Ke depan kami berharap semakin banyak desa yang bergabung, sejalan dengan visi dan misi Bupati Luwu agar seluruh desa di kawasan berisiko tinggi memiliki Desa Tangguh Bencana," ujarnya.
Sementara itu, Ketua Destana Boneposi, Akbar, menilai keberadaan Destana menjadi wadah penting untuk membangun kemandirian masyarakat dalam menghadapi ancaman bencana.
"Kita menyadari wilayah kita memiliki risiko bencana. Melalui wadah ini, kita tidak hanya belajar bagaimana menyelamatkan diri, tetapi juga bagaimana melindungi keluarga, tetangga, serta meminimalisir kerugian harta benda," katanya.
