Pelajar SMP di Pedalaman Luwu Berharap Prabowo Realisasikan MBG dan Perbaikan Jalan

LUWU – Di balik pegunungan yang memisahkan Kabupaten Luwu dan Toraja Utara, berdiri SMP Negeri Paranta di Desa Ilan Batu Uru, Kecamatan Walenrang Barat, Sulawesi Selatan. Sekolah di wilayah pedalaman itu menjadi tempat belajar bagi puluhan siswa yang harus menempuh perjalanan berat setiap hari demi mendapatkan pendidikan.

Hingga kini, para siswa di sekolah tersebut belum menikmati Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dicanangkan pemerintah. Di tengah keterbatasan akses dan kondisi ekonomi masyarakat, mereka berharap program itu suatu saat dapat menjangkau wilayah terpencil seperti desa mereka.


Akses menuju SMP Negeri Paranta terbilang sulit. Jalan menuju sekolah hanya bisa dilalui kendaraan roda dua dengan kondisi rusak, berbatu, berlumpur saat hujan, serta dipenuhi tanjakan dan tikungan tajam di kawasan perbukitan.


Di beberapa titik, pengendara harus berhati-hati agar tidak tergelincir. Warga maupun guru disebut kerap mengalami kecelakaan ringan saat melintasi jalur tersebut, terutama pada musim hujan.


Wilayah itu juga belum dapat dijangkau kendaraan roda empat karena kondisi jalan yang sempit dan rusak. Selain itu, jaringan telepon seluler hampir tidak tersedia di kawasan tersebut.


Akses komunikasi baru dapat dinikmati di area sekolah melalui bantuan jaringan Bakti Kominfo yang dipasang sekitar dua tahun lalu. Di luar lingkungan sekolah, warga harus mencari titik tertentu di perbukitan untuk mendapatkan sinyal telepon maupun internet.


Bagi para siswa, perjalanan menuju sekolah menjadi tantangan tersendiri. Sebagian dari mereka harus berjalan kaki sejauh enam kilometer bahkan lebih melewati jalan setapak, tanjakan curam, sungai kecil, hingga jalur berbatu agar bisa tiba tepat waktu di sekolah.


Mereka berangkat sejak pagi buta dengan perlengkapan sederhana. Ada yang menggunakan sandal dan membawa bekal seadanya dari rumah. Setelah belajar hingga siang hari, mereka kembali berjalan kaki melewati medan yang sama untuk pulang.


Salah seorang siswa, Arel, berharap pemerintah dapat menghadirkan Program Makan Bergizi Gratis sekaligus memperbaiki akses jalan menuju desa dan sekolah mereka.


“Kami berharap sekolah kami bisa mendapatkan MBG karena sekolah kami terletak jauh. Kami juga berharap jalan menuju sekolah diperbaiki,” kata Arel, Senin (25/5/2026).


Menurutnya, kondisi jalan yang sulit membuat masyarakat di wilayah pegunungan merasa tertinggal dibanding daerah lain yang akses infrastrukturnya lebih baik.


Harapan serupa disampaikan Aini. Ia mengaku ingin merasakan program makan bergizi gratis seperti siswa di wilayah perkotaan maupun daerah yang mudah dijangkau kendaraan.


“Kami ingin seperti siswa lainnya bisa menikmati MBG,” ujarnya.


Aini mengatakan pilihan makanan di sekolah sangat terbatas karena lokasi sekolah jauh dari pusat keramaian. Sebagian siswa bahkan memilih menahan lapar hingga pulang ke rumah karena tidak memiliki cukup uang saku.


Mayoritas orang tua siswa bekerja sebagai petani dengan kondisi ekonomi yang sederhana.


Kepala SMP Negeri Paranta, Usman, mengatakan sekolahnya belum pernah menerima program MBG sejak diluncurkan pemerintah. Padahal, menurut dia, siswa di daerah terpencil justru membutuhkan perhatian lebih.


“Anak-anak kami seharusnya mendapat MBG karena mereka harus berjalan kaki berkilo-kilo ke sekolah. Saat pulang mereka sudah kelelahan bahkan lapar,” ujar Usman.


Menurutnya, program makan bergizi gratis akan sangat membantu menjaga stamina dan kesehatan siswa yang setiap hari menempuh perjalanan jauh.


Ia juga berharap pemerintah dapat memperhatikan pembangunan infrastruktur di wilayah pedalaman, khususnya perbaikan jalan agar kendaraan roda empat bisa menjangkau desa tersebut.


Usman menilai akses jalan yang layak tidak hanya penting untuk pendidikan, tetapi juga mendukung pelayanan kesehatan, aktivitas ekonomi, dan mobilitas masyarakat di kawasan pegunungan.


Meski hidup di tengah keterbatasan fasilitas, akses transportasi yang sulit, dan minimnya jaringan komunikasi, para siswa SMP Negeri Paranta tetap menunjukkan semangat belajar tinggi. Dari balik pegunungan Luwu, mereka menyimpan harapan agar perhatian pemerintah dapat menjangkau anak-anak di pelosok yang selama ini masih minim pembangunan.

Previous Post Next Post