Jembatan Maut Pajalesang Belum Diperbaiki, Warga dan Pelajar Masih Nekat Melintas

PALOPO - Tiga bulan pasca tragedi tewasnya seorang warga akibat terjatuh dari jembatan gantung rapuh di Kelurahan Pajalesang, Kecamatan Wara, Kota Palopo, Sulawesi Selatan, kondisi jembatan tersebut hingga kini belum juga diperbaiki.



Pantauan di lokasi pada Senin (25/5/2026) sekitar pukul 09.30 Wita, jembatan gantung yang menghubungkan antarwilayah itu masih tampak rusak parah. Sejumlah papan alas jembatan terlihat rapuh dan berlubang, sementara sebagian lainnya licin akibat lembab dan sering terkena air.


Palang penutup yang sebelumnya dipasang warga usai insiden maut tersebut kini juga telah dibuka. Akibatnya, warga kembali melintasi jembatan itu meski kondisinya membahayakan keselamatan.


Beberapa warga bahkan terlihat tetap nekat menyeberang karena jembatan tersebut merupakan akses tercepat menuju kebun, sawah, hingga sekolah.


“Cuma ini jalan ke sebelah, kalau memutar jauh sekali,” ujar Imam, salah seorang warga yang ditemui di lokasi, Senin.


Imam mengaku dirinya hampir setiap hari melewati jembatan tersebut untuk menuju sawah miliknya. Menurut dia, bukan hanya petani, para pelajar dan warga sekitar juga masih bergantung pada akses itu.


“Mau lewat mana lagi, sawahku di sebelah. Kalau memutar jauh sekali. Anak sekolah dan warga saja masih lewat sini semua,” katanya.


Ia mengaku kecewa karena hingga kini belum ada langkah nyata dari pemerintah untuk memperbaiki jembatan tersebut, padahal sebelumnya sempat dijanjikan akan segera dibenahi.


“Kalau pemerintah mau ditunggu, tidak ke sawah maki’. Sudah berapa tahun dijanji tidak ada perbaikan,” tegas Imam.


Menurutnya, pasca jatuhnya korban beberapa waktu lalu, warga berharap ada penanganan cepat minimal penggantian papan kayu yang rusak. Namun hingga kini kondisi jembatan tetap sama.


“Dulu setelah ada yang jatuh dibilang mau diperbaiki, tapi sampai sekarang tidak ada juga,” ujarnya.


Sebelumnya diberitakan, seorang warga bernama Marwan (50) tewas usai terjatuh dari jembatan gantung setinggi sekitar enam meter di Kompleks Cempaka, Kelurahan Pajalesang, Kecamatan Wara, pada Selasa (10/2/2026) sekitar pukul 18.40 Wita.


Korban terjatuh saat melintasi jembatan bersama istrinya menuju penggilingan padi miliknya. Saat berada di tengah jembatan, kayu alas yang diinjak korban patah hingga membuatnya jatuh ke sungai.


Lurah Pajalesang, Irwan, sebelumnya mengatakan korban datang bersama istrinya menggunakan mobil dan memarkir kendaraan di ujung jembatan sebelum menyeberang.


“Setelah salat Magrib korban menyeberang bersama istrinya menuju penggilingan berasnya. Saat di tengah jembatan, kayunya patah dan korban jatuh ke sungai,” kata Irwan.


Usai kejadian itu, warga bersama aparat kelurahan sempat menutup akses jembatan menggunakan tumpukan kayu karena dinilai membahayakan. Namun keterbatasan akses membuat warga kembali menggunakan jembatan tersebut.


Irwan menyebut jembatan itu memang menjadi jalur utama warga karena jika memutar harus menempuh jarak sekitar dua kilometer.


“Memang ini akses utama warga, jadi harus ada perbaikan,” pungkasnya.

Previous Post Next Post