PALOPO - Kisah cinta lintas negara terjadi di Kota Palopo, Sulawesi Selatan. Seorang perempuan asal Kelurahan Lebang, Kecamatan Wara Barat, Asni Manggasa, resmi dipersunting pria asal Turki, Huseyin Dinc, setelah menjalani hubungan jarak jauh selama enam bulan.
Akad nikah pasangan ini digelar di Gedung Saodenrae Convention Centre, Rabu (6/5/2026) sekitar pukul 10.00 Wita. Keduanya tampil mengenakan busana adat Sulawesi Selatan bernuansa biru muda.
Asni, yang akrab disapa Nining, merupakan putri kedua pasangan Purnawirawan Polri Agustinus Duma dan Suryani Yatim. Sementara Huseyin adalah putra ketiga dari almarhum Abdullah dan Muzeyyen.
Asni mengungkapkan, perkenalannya dengan sang suami berawal dari seorang teman yang memiliki kerabat menikah dengan warga Turki. Dari situ, komunikasi keduanya mulai terjalin hingga semakin intens.
“Awalnya dikenalkan sama teman. Teman saya punya saudara bersuamikan orang Turki, lalu saya diperkenalkan,” ujar Asni, Rabu.
Selama masa perkenalan, keduanya berkomunikasi melalui aplikasi WhatsApp dengan bantuan bahasa Inggris, bahasa Turki, serta aplikasi penerjemah.
“Perkenalan kami sekitar enam bulan sampai akhirnya memutuskan untuk menikah,” ucapnya.
Menariknya, selama menjalin hubungan, keduanya belum pernah bertemu secara langsung. Hubungan dijalani sepenuhnya secara jarak jauh.
“Kami belum pernah bertemu sama sekali. LDR-an melalui WhatsApp, lalu dia melamar dan kami memutuskan untuk menikah,” katanya.
Asni menuturkan, keputusan menerima pinangan Huseyin didasari keyakinannya terhadap karakter sang suami yang dinilai religius dan berakhlak baik.
“Alhamdulillah, dia rajin sholat, dari segi akhlak dan agamanya bagus. Dia juga seorang hafidz,” tuturnya.
Keseriusan Huseyin dibuktikan dengan kedatangannya langsung ke Indonesia. Sebelumnya, ia sempat melamar melalui sambungan telepon, namun Asni meminta agar lamaran dilakukan secara langsung.
Pertemuan pertama keduanya terjadi pada 10 April 2026 di Bandara Soekarno-Hatta, saat Asni menjemput langsung calon suaminya yang datang dari Turki.
Dalam prosesi pernikahan, Huseyin memberikan mahar berupa emas seberat 10 gram serta uang panai sebesar Rp100 juta, sesuai tradisi Bugis-Makassar.
Usai menikah, pasangan ini sepakat untuk sementara menetap di Indonesia sambil menyusun rencana kehidupan ke depan.
“Untuk sementara kami tinggal di Indonesia. Kami juga sudah sepakat berhenti bekerja dan akan memulai semuanya dari awal bersama,” jelas Asni.
Asni juga mengaku tidak ingin menunda kehadiran anak dalam rumah tangganya. Ia berharap dapat segera dikaruniai momongan.
Di sisi lain, sang ibu, Suryani Yatim, mengaku sempat terkejut dengan keputusan putrinya menikah dengan pria dari negara yang jauh berbeda. Namun, ia akhirnya merestui setelah melihat kesungguhan Huseyin.
“Sebagai orang tua pasti ada khawatir, karena beda negara dan jauh. Tapi kami lihat kesungguhannya. Dia datang jauh-jauh, sopan, dan yang paling penting agamanya bagus,” ujar Suryani.
Ia pun berharap rumah tangga putrinya dapat berjalan harmonis.
“Kami hanya bisa mendoakan semoga mereka menjadi keluarga sakinah, mawaddah, warahmah,” ucapnya.
Kisah ini menjadi bukti bahwa jarak dan perbedaan negara bukanlah penghalang untuk menyatukan dua hati dalam ikatan pernikahan.
