PALOPO - Penyalahgunaan obat-obatan tertentu (OOT) seperti Tramadol dan Trihexyphenidyl kini menjadi perhatian serius di Kota Palopo. Kalangan pelajar hingga usia produktif disebut menjadi kelompok paling rentan terpapar penyalahgunaan obat keras tersebut.
Kondisi itu dikhawatirkan dapat memicu lahirnya generasi yang kehilangan masa depan atau lost generation apabila tidak ditangani secara serius sejak dini.
Sebagai langkah pencegahan, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Palopo menggelar Aksi Nasional Pencegahan Penyalahgunaan OOT bertema “Lawan Penyalahgunaan Obat-obat Tertentu, Selamatkan Generasi Bangsa” di Aula SMA Negeri 5 Palopo, Senin (25/5/2026).
Kegiatan tersebut melibatkan berbagai unsur lintas sektor, mulai dari kepolisian, lembaga pemasyarakatan, perguruan tinggi, hingga instansi pemerintah daerah. Selain edukasi dari BPOM dan Satresnarkoba Polres Palopo, kegiatan juga dirangkaikan dengan penandatanganan komitmen bersama dalam upaya pencegahan penyalahgunaan OOT.
Kepala Balai POM Palopo, Darman, mengatakan penyalahgunaan obat-obatan tertentu kini semakin marak dan membutuhkan penanganan bersama seluruh pemangku kepentingan.
Menurutnya, OOT merupakan sediaan farmasi golongan obat keras maupun obat bebas terbatas yang sering disalahgunakan di luar ketentuan medis. Ia menyebut hasil pengujian menunjukkan kandungan zat dalam sejumlah OOT bahkan melebihi ambang standar yang dipersyaratkan.
“Standar farmakope Indonesia itu sekitar 98 sampai 110 persen. Tetapi setelah diuji, ada yang kandungannya mencapai 200 persen. Inilah yang memicu adiksi dan penumpukan zat di organ tubuh jika dikonsumsi terus-menerus,” kata Darman.
Ia menjelaskan penyalahgunaan OOT umumnya bermula dari rasa penasaran dan coba-coba. Namun penggunaan dalam jumlah kecil sekalipun dapat memicu ketergantungan dan menjadi pintu masuk menuju penyalahgunaan psikotropika maupun narkotika.
“Ini gerbang awal masuknya penggunaan psikotropika dan narkotika. Karena itu generasi muda jangan coba-coba menggunakan obat ini, meskipun hanya separuh tablet,” ujarnya.
Darman mengatakan upaya penanganan dilakukan melalui pendekatan represif dan preventif. Pendekatan represif dilakukan lewat pengawasan dan penindakan di lapangan, sedangkan pendekatan preventif dilakukan melalui edukasi serta penguatan kolaborasi lintas sektor.
Ia mengungkapkan data BPOM menunjukkan pelajar tingkat SMP dan SMA kini berada dalam kondisi darurat penyalahgunaan OOT. Karena itu, pelajar menjadi sasaran utama edukasi dalam aksi nasional tersebut.
“Indonesia emas 19 tahun ke depan dimulai dari anak-anak sekolah hari ini. Mereka yang harus dijaga,” tuturnya.
Selain di kalangan pelajar, penyalahgunaan OOT juga ditemukan pada sejumlah kelompok pekerja. Darman mengaku pernah menemukan penggunaan obat tertentu di kawasan pelabuhan dengan alasan meningkatkan stamina saat bekerja.
Sementara itu, Sekretaris Daerah Kota Palopo, Zulkifli Halid, mengaku prihatin dengan maraknya penyalahgunaan narkoba dan obat keras di kalangan anak muda.
Ia mengapresiasi langkah BPOM Palopo yang aktif melakukan edukasi kepada peserta didik terkait bahaya penyalahgunaan obat-obatan tertentu.
“Yang banyak menyalahgunakan narkoba dan obat-obatan ini dipastikan anak-anak kita. Karena itu pemerintah kota mendukung penuh upaya pencegahan,” kata Zulkifli.
Menurutnya, pencegahan tidak bisa hanya dilakukan pemerintah. Orang tua, tenaga pendidik, aparat penegak hukum, hingga masyarakat harus ikut terlibat aktif dalam pengawasan dan edukasi generasi muda.
“Kita harus bersama-sama. Kalau hanya pemerintah saja tentu tidak cukup. Orang tua, sekolah, dan seluruh stakeholder harus berkolaborasi,” jelasnya.
Pemerintah Kota Palopo juga berencana memperluas sosialisasi serupa ke lebih banyak sekolah dengan melibatkan siswa SMP hingga SMA dalam satu kegiatan besar agar edukasi mengenai bahaya penyalahgunaan OOT dapat menjangkau lebih luas.
