JAKARTA - PT Pupuk Indonesia (Persero) memastikan kesiapan pasokan dan produksi guna mendukung rencana pemerintah dalam memanfaatkan peluang ekspor pupuk urea ke pasar global. Kebijakan ini ditegaskan tetap mengedepankan pemenuhan kebutuhan pupuk dalam negeri sebagai prioritas utama.
Direktur Utama Pupuk Indonesia, Rahmad Pribadi, menyampaikan bahwa di tengah dinamika geopolitik global, perusahaan memiliki ketahanan pasokan yang kuat, khususnya untuk komoditas urea. Hal tersebut disampaikannya usai mendampingi Wakil Menteri Pertanian Sudaryono dalam pertemuan dengan Duta Besar India untuk Indonesia di Kantor Kementerian Pertanian, Jakarta.
“Arahan pemerintah sangat jelas, ekspor dilakukan ketika kebutuhan dalam negeri telah terpenuhi,” ujar Rahmad.
Sebagai salah satu produsen urea terbesar dunia, Pupuk Indonesia dinilai memiliki posisi strategis dalam menjaga stabilitas pasokan global di tengah disrupsi rantai pasok pupuk. Kondisi tersebut membuka peluang bagi Indonesia untuk memperluas peran melalui ekspor, sekaligus memperkuat kontribusi terhadap perekonomian nasional dan ketahanan pangan regional.
Rahmad menegaskan, di tengah gejolak global, sektor industri pupuk nasional justru menunjukkan ketahanan yang kuat. Indonesia bahkan berpotensi menjadi penopang ekosistem pangan di kawasan dengan membantu negara-negara yang mengalami kekurangan pasokan pupuk.
Sejalan dengan itu, Wamentan Sudaryono mengungkapkan bahwa setidaknya empat negara telah menjalin komunikasi untuk mengimpor urea dari Indonesia, yakni Australia, India, Filipina, dan Brasil. Permintaan tersebut meningkat seiring terganggunya distribusi pupuk global akibat situasi di kawasan Selat Hormuz.
Meski peluang ekspor terbuka lebar, pemerintah menegaskan kebijakan tersebut akan dijalankan secara hati-hati. Pemenuhan kebutuhan petani dalam negeri, terutama pada masa tanam, tetap menjadi pertimbangan utama.
“Kita tidak akan mengekspor saat musim tanam. Ekspor dilakukan di luar periode tersebut setelah kebutuhan domestik dipastikan aman,” kata Rahmad.
Saat ini, Pupuk Indonesia memiliki kapasitas produksi urea mencapai 9,4 juta ton per tahun, lebih tinggi dari kebutuhan domestik yang berkisar 6–7 juta ton per tahun. Kapasitas tersebut didukung oleh ketersediaan gas alam domestik sebagai bahan baku utama yang dijamin pemerintah dari sisi volume maupun harga.
Dari sisi stok, hingga 14 April 2026, ketersediaan pupuk tercatat sekitar 1,2 juta ton, baik subsidi maupun non-subsidi. Angka ini terus diperkuat dengan produksi harian yang mencapai sekitar 25 ribu ton urea dan 15 ribu ton pupuk NPK.
Dengan kondisi tersebut, perusahaan memastikan ketersediaan pupuk nasional tetap aman dan mampu memenuhi kebutuhan petani di seluruh Indonesia.
Di tengah fluktuasi harga pupuk global, pemerintah juga menjaga stabilitas harga pupuk subsidi. Kebijakan penurunan Harga Eceran Tertinggi (HET) sebesar 20 persen sejak Oktober 2025 menjadi instrumen untuk melindungi petani dari gejolak harga internasional.
“Ketika harga dunia naik, harga pupuk subsidi di Indonesia tetap stabil, bahkan lebih rendah. Ini bentuk keberpihakan kepada petani,” ujar Rahmad.
