Java Fresh Dorong Ekspor Buah Indonesia ke 25 Negara, Berdayakan Petani Mikro

JAKARTA – Perusahaan agribisnis, Java Fresh, terus memperkuat perannya dalam mendorong ekspor buah Indonesia ke pasar global. Hingga 2025, perusahaan ini telah menjangkau 25 negara tujuan ekspor sekaligus memberdayakan ratusan petani mikro di berbagai daerah.



Indonesia sendiri dikenal memiliki potensi besar di sektor hortikultura. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat produksi buah nasional mencapai 28,24 juta ton pada 2023. Bahkan, per Maret 2024, Indonesia menjadi produsen buah terbesar keenam di dunia. Namun, potensi tersebut masih terkendala pengelolaan kebun yang belum optimal serta inkonsistensi kualitas untuk pasar ekspor.


Java Fresh hadir sejak 2014 untuk menjawab tantangan tersebut dengan membangun sistem yang menghubungkan petani kecil ke pasar global.


Co-Founder & CEO Java Fresh, Margareta Astaman, mengatakan pencapaian perusahaan tidak lepas dari kolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk lembaga riset, universitas, dan sektor swasta.


“Sepanjang 2025 saja, kami berhasil mengekspor sekitar 300.000 ton buah segar,” ujar Margareta.


Dalam perjalanannya, Java Fresh menghadapi sejumlah tantangan utama di sektor agrikultur. Di antaranya adalah keterbatasan lahan petani yang rata-rata di bawah 0,5 hektar, minimnya akses terhadap sertifikasi global, keterbatasan teknologi pascapanen, serta kendala pendanaan.


Untuk mengatasi hal tersebut, perusahaan menerapkan berbagai strategi, mulai dari standar grading dan penanganan buah, sistem ketertelusuran (traceability), hingga pengembangan teknologi untuk memperpanjang umur simpan produk.


Java Fresh juga mengusung pendekatan berbasis komunitas dengan menggandeng petani kecil agar mampu menghasilkan buah berkualitas ekspor. Melalui model ini, petani tidak lagi bergantung pada rantai distribusi tradisional, sehingga memperoleh pendapatan lebih stabil.


Dampak sosial dari pendekatan tersebut mulai terlihat. Salah satunya dari kisah petani binaan yang mampu meningkatkan taraf hidup, termasuk menyekolahkan anak hingga perguruan tinggi dan memperbaiki kondisi tempat tinggal.


Selain itu, perusahaan turut mendorong pemberdayaan perempuan melalui pelatihan dan keterlibatan dalam proses pascapanen, seperti sorting dan grading. Hingga kini, lebih dari 200 pekerja perempuan telah diberdayakan di enam fasilitas pengemasan (packing house).


Pada 2025, Java Fresh juga mendapat dukungan dari DBS Foundation melalui program hibah wirausaha sosial. Dukungan ini dimanfaatkan untuk memperkuat kapasitas riset dan pengembangan (R&D), termasuk teknologi yang mampu memperpanjang umur simpan buah hingga 35 hari pada skala industri.


Head of Group Marketing & Communications PT Bank DBS Indonesia, Mona Monika, mengatakan kolaborasi tersebut merupakan bagian dari komitmen mendorong bisnis berdampak sosial yang berkelanjutan.


“Dukungan ini diharapkan dapat membantu Java Fresh dan para petani memperluas akses ke pasar global,” ujarnya.


Saat ini, Java Fresh tengah mengembangkan ekspor melalui jalur laut, termasuk uji coba pengiriman manggis menggunakan kontainer ke China, yang dikenal memiliki standar kualitas ketat.


Melalui berbagai inovasi tersebut, Java Fresh tidak hanya memperluas pasar ekspor, tetapi juga memperkuat ketahanan rantai pasok serta meningkatkan kesejahteraan petani lokal.

Previous Post Next Post