Pawai Obor Semarakkan Malam Takbiran di Luwu, Tradisi Lama yang Terus Dijaga

LUWU – Suasana malam takbiran jelang Idul Fitri di Desa Pabbaresseng, Kecamatan Bua, Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan, Jumat (20/3/2026) malam, berlangsung semarak. Ratusan warga, mulai dari remaja hingga anak-anak, turun ke jalan mengikuti pawai obor yang telah menjadi tradisi turun-temurun di desa tersebut.


Dengan menggenggam obor yang menyala, para peserta berjalan berkeliling dari satu dusun ke dusun lainnya sambil mengumandangkan takbir. Sebagian diantaranya juga mengikuti pawai menggunakan kendaraan roda dua, menambah kemeriahan suasana malam menjelang hari kemenangan.


Mutia, salah seorang peserta pawai, mengaku terharu dapat mengikuti kegiatan tersebut bersama warga lainnya. Ia merasakan kebersamaan yang kuat selama pawai berlangsung.


“Di malam takbiran ini rasanya sangat terharu, karena kami akan meninggalkan bulan Ramadhan dan menyambut Idul Fitri,” kata Mutia saat dikonfirmasi usai melaksanakan pawai obor..


Mutia mengungkapkan rasa syukur atas kebersamaan yang terjalin selama pawai berlangsung.


“Alhamdulillah, kami semua kompak, bahagia, dan bisa takbir bersama sambil membawa obor,” ucapnya.


Mutia mengatakan rute pawai obor yang ditempuh peserta mencapai sekitar dua kilometer.


“Walaupun rutenya cukup jauh, rasa capek tidak terasa karena kami menikmatinya bersama,” ujar Mutia.


Cahaya obor yang berkelip di sepanjang jalan menciptakan suasana yang khidmat sekaligus meriah. Lantunan takbir yang menggema memperkuat nuansa religius, menandai berakhirnya bulan suci Ramadhan dan datangnya Idul Fitri.


Warga tampak antusias mengikuti jalannya pawai. Tidak hanya peserta, masyarakat yang berada di pinggir jalan juga turut menyaksikan dan memberikan dukungan. Anak-anak terlihat penuh semangat berjalan bersama teman-temannya, sementara para orang tua mengawasi dengan penuh kebanggaan.


Tradisi pawai obor ini tidak sekadar menjadi perayaan, tetapi juga menjadi ajang mempererat silaturahmi antarwarga. Kegiatan ini telah lama menjadi bagian dari kearifan lokal masyarakat Desa Pabbaresseng yang terus dilestarikan dari generasi ke generasi.


Selain itu, pawai obor juga dimaknai sebagai sarana edukasi bagi anak-anak untuk mengenal nilai-nilai keagamaan dan kebersamaan sejak dini. Melalui kegiatan ini, generasi muda diajak untuk turut merasakan semangat kebersamaan dalam menyambut hari besar keagamaan.


Dukungan terhadap kegiatan ini juga datang dari pemerintah desa dan para orang tua. Mereka memberikan ruang bagi generasi muda untuk berpartisipasi dalam kegiatan keagamaan sebagai bentuk rasa syukur setelah menjalani ibadah puasa selama sebulan penuh.


Panitia pelaksana pawai obor, Dandi Anies, mengatakan kegiatan tersebut dipersiapkan secara gotong royong oleh warga dan pemuda desa.


“Kegiatan ini kami siapkan bersama-sama dengan teman-teman pemuda dan dukungan penuh dari masyarakat. Alhamdulillah, pelaksanaannya berjalan lancar dan mendapat antusias yang tinggi,” tutur Dandi.


Dandi menjelaskan, rute pawai obor yang ditempuh peserta mencapai sekitar dua kilometer dan melintasi beberapa dusun di Desa Pabbaresseng.


“Kami sengaja menentukan rute yang bisa menjangkau hampir seluruh wilayah dusun agar semua warga bisa ikut merasakan kemeriahannya,” tambahnya.


Dandi berharap kegiatan pawai obor ini dapat terus dilaksanakan setiap tahun dan semakin berkembang dengan melibatkan lebih banyak generasi muda.


“Kami berharap tradisi ini tetap terjaga dan kedepan bisa lebih meriah lagi, tentunya dengan tetap mengedepankan nilai kebersamaan dan keselamatan,” harapnya.


Salah seorang tokoh agama setempat, Wahyu, menilai kegiatan seperti ini penting untuk terus dilaksanakan karena memiliki nilai spiritual dan sosial yang kuat.


“Anak-anak perlu diberi kesempatan untuk memeriahkan malam takbiran sebagai bentuk rasa syukur atas nikmat yang diberikan Allah SWT setelah menjalankan ibadah Ramadhan. Kami berharap kegiatan ini terus dilaksanakan setiap tahun,” ungkap Wahyu.


Wahyu juga menyebutkan bahwa pawai obor telah beberapa kali digelar, namun pada tahun ini terasa lebih ramai dibandingkan sebelumnya. Hal itu, menurut dia, tidak lepas dari meningkatnya partisipasi masyarakat serta semangat generasi muda yang semakin tinggi.


“Pawai obor ini sudah sering dilaksanakan, namun tahun ini lebih ramai. Kami berharap tahun depan bisa lebih meriah lagi dengan keterlibatan masyarakat yang lebih luas,” jelasnya.


Masyarakat Desa Pabbaresseng sendiri dikenal memiliki nilai historis dalam penyebaran Islam di Sulawesi. Desa ini diyakini sebagai salah satu titik awal masuknya Islam yang dibawa oleh tiga datok dari Sumatera Barat, sehingga nilai-nilai keagamaan sangat melekat dalam kehidupan sehari-hari warga.


Karena itu, tradisi pawai obor tidak hanya menjadi simbol perayaan, tetapi juga bagian dari upaya menjaga identitas dan warisan budaya lokal yang sarat makna.


Pawai obor pun menjadi salah satu cara masyarakat menyambut Idul Fitri dengan penuh sukacita, sekaligus memperkuat ikatan sosial di tengah kehidupan bermasyarakat yang terus berkembang.

Previous Post Next Post