LUWU – Aliansi Masyarakat Padang Sappa,
Kecamatan Ponrang, Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan, gelar aksi mimbar orasi
untuk menyuarakan dukungan terhadap pembentukan Provinsi Luwu Raya. Aksi
tersebut berlangsung di perempatan lampu merah Padang Sappa, Kamis (5/2/2026).
Mimbar
orasi dilakukan di atas dua unit alat berat jenis ekskavator yang diparkir di
badan jalan, akibatnya arus lalu lintas dari dua arah mengalami
kemacetan panjang.
Sejumlah warga secara bergantian naik ke atas alat berat tersebut untuk
menyampaikan aspirasi terkait pemekaran wilayah.
Koordinator
Lapangan aksi, Iwan Tangke, mengatakan kegiatan itu merupakan aksi lanjutan
yang sebelumnya telah digelar beberapa waktu lalu. Aksi ini, kata dia, menjadi
bentuk konsistensi masyarakat Padang Sappa dalam mendukung pembentukan Provinsi
Luwu Raya.
“Aksi
ini kami lanjutkan sebagai bentuk dukungan masyarakat Padang Sappa terhadap pembentukan
Provinsi Luwu Raya,” kata Iwan
saat ditemui di lokasi aksi, Kamis (5/2/2026).
Iwan
menegaskan, aksi tersebut murni merupakan inisiatif masyarakat tanpa
kepentingan kelompok atau pihak tertentu. Mimbar orasi di atas ekskavator, kata
dia, sengaja dipilih sebagai simbol keterbukaan ruang aspirasi bagi seluruh
warga.
“Ini
murni gerakan masyarakat. Mimbar orasi di atas ekskavator kami jadikan wadah
penyampaian aspirasi. Siapa pun boleh naik dan menyampaikan pendapatnya tentang
Provinsi Luwu Raya,” ucapnya.
Menurut Iwan, massa aksi
berasal dari berbagai latar belakang, mulai dari petani, pedagang, sopir hingga pekerja informal. Hal itu
menunjukkan bahwa aspirasi pemekaran bukan hanya milik segelintir orang,
melainkan keinginan bersama masyarakat.
Salah
seorang warga Padang Sappa, Sunyi (35), yang turut berorasi, mengaku
kehadirannya dalam aksi tersebut merupakan bentuk dukungan sebagai warga kecil.
Ia datang secara spontan setelah mengetahui adanya aksi.
“Saya
tadi di sawah. Setelah dengar ada aksi ini, saya hentikan dulu pekerjaan saya.
Saya datang untuk mengajak masyarakat Padang Sappa, khususnya para petani,
supaya bersama-sama menyuarakan Provinsi Luwu Raya,” ujar Sunyi.
Sunyi
menyebut pemekaran Provinsi Luwu Raya merupakan harapan lama masyarakat. Ia
menilai wilayah Luwu Raya sudah layak berdiri sebagai provinsi sendiri karena
memiliki sumber daya alam yang melimpah.
“Kita
ini rakyat kecil, tapi kita juga punya hak menyuarakan harapan. Menurut saya,
Luwu Raya sudah sangat layak mekar. Sumber daya alam kita banyak dan bisa
dikelola sendiri untuk kesejahteraan masyarakat,” tuturnya.
Ia
pun mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk tidak ragu mendukung pemekaran
tersebut. Menurutnya, pembentukan Provinsi Luwu Raya merupakan kepentingan bersama
demi percepatan pembangunan dan pemerataan pelayanan publik.
“Tidak
ada alasan untuk menolak. Provinsi Luwu Raya harga mati,” imbuhnya.
Selama aksi berlangsung,
situasi di lokasi terpantau kondusif. Aparat kepolisian dan petugas terkait
melakukan pengamanan sekaligus pengaturan arus lalu lintas. Kendaraan roda
empat masih dapat melintas melalui jalur alternatif yang disiapkan di sekitar
lokasi aksi.
Namun,
kendaraan bertonase besar sempat terhenti karena sebagian ruas jalan digunakan
untuk kegiatan mimbar orasi. Kondisi ini menyebabkan antrean kendaraan cukup
panjang di jalur Trans Sulawesi.
Memasuki
waktu salat, massa aksi membuka akses bagi kendaraan bertonase besar untuk
melintas secara bergantian. Koordinator aksi menyebutkan kegiatan akan terus
berlangsung hingga sore hari dengan tetap mengedepankan ketertiban dan keamanan
pengguna jalan.
Dukungan
terhadap pembentukan Provinsi Luwu Raya juga datang dari para pekerja lapangan
yang terdampak langsung aksi di jalanan. Salah satunya disampaikan Zainuddin
(44), sopir angkutan rute Luwu–Palopo.
Zainuddin menyatakan
dukungan penuh terhadap perjuangan pembentukan Provinsi Luwu Raya meskipun
harus diiringi dengan aksi blokade jalan yang sempat mengganggu aktivitas
transportasi.
“Kalau
saya pribadi, 100 persen setuju sebagai orang Wija Luwu. Karena itu untuk
kebaikan kita semua di wilayah Luwu,” ujar Zainuddin.
Menurut
Zainuddin, perjuangan tersebut bukan hanya untuk kepentingan generasi saat ini,
tetapi juga investasi jangka panjang bagi anak dan cucu di masa depan.
“Kami
ini mungkin sudah tua. Kami punya anak, punya cucu. Yang menikmati nanti kan
mereka,” katanya.
Zainuddin bahkan
membandingkan perjuangan pembentukan Provinsi Luwu Raya dengan pengorbanan para
pejuang kemerdekaan Indonesia.
“Pejuang-pejuang
kita dulu sampai korban jiwa. Yang menikmati sekarang kita yang merdeka. Kalau
cuma soal blokade jalan beberapa jam, saya mendukung 100 persen,” ujarnya.
Zainuddin
mengakui adanya dampak dari blokade jalan, namun menilai dampaknya tidak
signifikan, khususnya di jalur selatan Kota Palopo.
“Kalau
ke arah selatan Palopo, tidak terlalu signifikan. Tidak sampai ada pohon
ditumbang seperti di Luwu Utara,” katanya.
Ia
menyebutkan, di wilayah selatan, aksi blokade lebih banyak berupa pembakaran
ban dan masih tersedia jalur alternatif bagi kendaraan kecil.
“Masih
ada jalan-jalan tikus untuk mobil kecil. Kalau mobil besar memang harus antre,”
ujar dia.
Meski
tidak turun langsung mengikuti aksi, Zainuddin mengaku tetap memberikan
dukungan dengan cara lain.
“Paling
tidak kami beri dukungan lewat doa,” katanya.
Zainuddin
juga menyebutkan dukungan sederhana seperti memberi sumbangan kepada massa
aksi.
“Kadang
sumbang sedikit, lima ribu di jalan, atau belikan air minum untuk yang demo,”
ujarnya.
Zainuddin
berharap pembentukan Provinsi Luwu Raya segera terwujud dan berdampak pada
terbukanya lapangan kerja baru bagi masyarakat.
“Kalau
Provinsi Luwu Raya terbentuk, otomatis lapangan pekerjaan, termasuk PNS, pasti
bertambah,” katanya.
Menurut
dia, pemekaran wilayah akan mempercepat pembangunan dan pemerataan kesempatan
kerja bagi generasi muda di Tanah Luwu.
“Harapan
kami, semoga Provinsi Luwu Raya ini bisa segera terwujud,” ujar Zainuddin.
