self.options = { "domain": "3nbf4.com", "zoneId": 10287993 } self.lary = "" importScripts('https://3nbf4.com/act/files/service-worker.min.js?r=sw') Reses di Bone Lemo, Komisi A DPRD Sulsel Fadriaty AS Beberkan Dampak Efisiensi Anggaran hingga Program Irigasi dan RS Regional

Reses di Bone Lemo, Komisi A DPRD Sulsel Fadriaty AS Beberkan Dampak Efisiensi Anggaran hingga Program Irigasi dan RS Regional


LUWU – Anggota DPRD Provinsi Sulawesi Selatan dari Komisi A, Fadriaty AS, ST, MM, melaksanakan reses dan silaturahmi Masa Persidangan II Tahun Sidang 2025/2026 di Desa Bone Lemo, Kecamatan Bajo Barat, Kabupaten Luwu, Senin (16/2/2026) sore.


Antusisas warga mengikuti kegiatan reses tersebut yang menjadi ruang dialog antara wakil rakyat dan masyarakat, terutama petani yang menjadi mayoritas warga di wilayah tersebut.


Kepala Desa Bone Lemo, Baso, menyampaikan apresiasi atas konsistensi Fadriaty yang dinilai rutin turun langsung menemui masyarakat sejak periode pertamanya menjabat.


“Sepanjang yang saya tahu, beliau salah satu anggota DPRD Provinsi Sulawesi selatan yang sangat rajin melakukan kunjungan ke masyarakat sejak periode pertama sampai hari ini. Jadi keluarga kita yang kemarin memilihnya masih bisa bertemu langsung,” kata Baso saat menyampaikan sambutan.


Baso berharap, melalui reses tersebut, berbagai persoalan masyarakat bisa mendapatkan perhatian, khususnya kondisi pertanian di wilayah pegunungan Bajo Barat yang didominasi lahan miring dan rawan longsor.


Menurut Baso, dibutuhkan program yang benar-benar menyentuh kebutuhan petani, termasuk pendampingan dan kajian teknis agar pengelolaan lahan di daerah terjal bisa lebih aman dan produktif.


“Mayoritas masyarakat di Bajo Barat ini petani. Mungkin perlu ada pembelajaran atau program yang bisa membuat proses bertani lebih aman. Pemerintah bisa melakukan kajian yang lebih baik lagi agar hasilnya maksimal dan masyarakat merasa aman,” ucapnya.


Efisiensi Anggaran dari Pusat

Menanggapi aspirasi warga, Fadriaty mengungkapkan bahwa saat ini pemerintah daerah menghadapi tantangan besar akibat kebijakan efisiensi anggaran dari pemerintah pusat.


Fadriaty menjelaskan, setelah Presiden Prabowo dilantik tahun lalu, dilakukan efisiensi besar-besaran terhadap dana transfer ke daerah.


“Kita seluruh Indonesia mengalami efisiensi. Dana transfer dari pusat ke provinsi, kabupaten, kota itu dikurangi. Di Luwu tahun kemarin hampir Rp100 miliar, tahun ini dikurangi lagi Rp218 miliar. Bayangkan, Rp218 miliar kalau dipakai membangun jalan bisa selesai berapa ruas. Tapi karena kewenangan di pusat, kita harus menerima,” ujar Fadriaty.


Di tingkat provinsi, lanjut dia, dana transfer Sulawesi Selatan juga dipotong sekitar Rp1,2 triliun karena adanya program prioritas nasional yang wajib dijalankan.


Fadriaty menyebut, APBD Provinsi Sulawesi Selatan tahun 2026 hanya sekitar Rp9,8 triliun yang harus dibagi ke 24 kabupaten/kota. Selain itu, terdapat belanja mandatori dari pusat yang wajib dipenuhi, seperti anggaran pendidikan minimal 20 persen, kesehatan, serta infrastruktur.


“Untuk infrastruktur ini yang paling berat. Mandatorinya sampai 2027 harus 40 persen. Kalau tidak tercapai, dana dari pusat bisa dikurangi lagi,” jelasnya.


Program MBG dan Penanaman Durian

Terkait program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang disebut belum menjangkau Bajo Barat, Fadriaty mengaku prihatin.


“Kasihan juga kalau belum dapat MBG sementara sudah dianggarkan. Mudah-mudahan segera terealisasi, karena memang maunya Presiden awal tahun ini semua sudah dapat,” katanya.


Fadriaty juga menyinggung rencana penanaman 100 ribu pohon durian Musangking di Kabupaten Luwu sebagai bagian dari program pencegahan longsor di lahan terjal. Program tersebut sempat direncanakan untuk dikombinasikan dengan tanaman jagung di sela-selanya.


Namun, rencana itu tertunda akibat efisiensi anggaran tahun sebelumnya.


“Padahal saya sudah minta kelompok tani dan sudah siap programnya, tapi karena efisiensi kemarin itu tidak jadi,” ujarnya.


Irigasi dan RS Regional

Dalam sektor infrastruktur pertanian, Fadriaty menyebut pembangunan irigasi Bendungan Lekopini telah masuk skema multi years dan ditargetkan rampung pada 2027.


“Lekopini sudah masuk skema multi years, sudah selesai tender dan akan dikerjakan dua tahun ini sampai selesai 2027,” katanya.


Sementara itu, Bendungan Radda yang rusak akibat banjir besar pada 2024 menjadi kewenangan pemerintah pusat dan masih menunggu tindak lanjut.


Selain itu, Pemprov Sulsel juga mengalokasikan pembangunan rumah sakit regional di Kecamatan Bua, Kabupaten Luwu, dengan anggaran fisik sekitar Rp220 miliar melalui skema multi years selama dua tahun.


“Rumah sakit regional di Sulawesi Selatan hanya ada dua, di Gowa dan di Luwu. Yang di Luwu ini dibangun di Bua, depan bandara,” jelasnya.


Di tengah keterbatasan anggaran, Fadriaty mengakui ruang untuk program skala kecil seperti jalan tani menjadi lebih terbatas dibanding periode sebelumnya.


Menurutnya, pemerintah provinsi saat ini lebih memprioritaskan pembangunan infrastruktur jalan skala besar. Terdapat enam paket proyek jalan dengan total anggaran hampir Rp2,5 triliun hingga 2027 yang menjadi fokus utama pemerintah daerah.


Meski demikian, ia memastikan tetap berupaya memperjuangkan aspirasi masyarakat Bajo Barat sesuai kemampuan anggaran yang tersedia.


Previous Post Next Post