self.options = { "domain": "3nbf4.com", "zoneId": 10287993 } self.lary = "" importScripts('https://3nbf4.com/act/files/service-worker.min.js?r=sw') Angggota DPRD Sulsel Komisi A, Fadriaty AS Serap Aspirasi Petani di Bajo Barat, Irigasi Lekopini Ditargetkan Rampung 2027

Angggota DPRD Sulsel Komisi A, Fadriaty AS Serap Aspirasi Petani di Bajo Barat, Irigasi Lekopini Ditargetkan Rampung 2027


LUWU – Anggota DPRD Provinsi Sulawesi Selatan, Komisi A, Fadriaty AS, ST, MM, melaksanakan reses dan silaturahmi Masa Persidangan II Tahun Sidang 2025/2026 di Desa Bone Lemo, Kecamatan Bajo Barat, Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan, Senin (16/2/2026) sore.


Kegiatan tersebut disambut antusias warga yang memadati lokasi pertemuan. Reses menjadi ruang dialog terbuka antara wakil rakyat dan masyarakat, terutama kalangan petani yang menjadi mayoritas penduduk di wilayah tersebut.


Dalam pertemuan itu, sejumlah aspirasi disampaikan warga, mulai dari persoalan irigasi, jalan tani, hingga akses layanan kesehatan. Sektor pertanian menjadi isu dominan, mengingat sebagian besar masyarakat Bajo Barat menggantungkan penghidupan pada hasil sawah dan kebun.


Fadriaty mengatakan, pembangunan infrastruktur pertanian, khususnya irigasi Bendungan Lekopini, telah masuk dalam skema tahun jamak (multi years). Proyek tersebut ditargetkan rampung pada 2027.


“Lekopini sudah masuk skema multi years, sudah selesai tender dan akan dikerjakan dua tahun ini sampai selesai 2027,” kata Fadriaty di hadapan warga.


Menurut dia, keberlanjutan pembangunan irigasi menjadi prioritas karena berpengaruh langsung terhadap produktivitas pertanian. Dengan sistem pengairan yang lebih baik, petani diharapkan dapat meningkatkan intensitas tanam dan hasil panen.


Sementara itu, Bendungan Radda yang mengalami kerusakan akibat banjir besar pada 2024 disebut menjadi kewenangan pemerintah pusat. Hingga kini, perbaikannya masih menunggu tindak lanjut dari pemerintah pusat.


Selain sektor pertanian, Fadriaty juga menyinggung pembangunan rumah sakit regional di Kecamatan Bua, Kabupaten Luwu. Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan mengalokasikan anggaran fisik sekitar Rp 220 miliar melalui skema multi years selama dua tahun.


“Rumah sakit regional di Sulawesi Selatan hanya ada dua, di Gowa dan di Luwu. Yang di Luwu ini dibangun di Bua, depan bandara,” ujarnya.


Ia menjelaskan, kehadiran rumah sakit regional tersebut diharapkan memperluas akses layanan kesehatan rujukan bagi masyarakat Luwu Raya dan sekitarnya, sehingga tidak seluruhnya bergantung pada fasilitas kesehatan di Makassar.


Di tengah keterbatasan anggaran, Fadriaty mengakui ruang fiskal untuk program skala kecil, seperti pembangunan jalan tani, lebih terbatas dibandingkan periode sebelumnya. Pemerintah provinsi saat ini memprioritaskan pembangunan infrastruktur jalan skala besar.


Terdapat enam paket proyek jalan dengan total anggaran hampir Rp 2,5 triliun hingga 2027 yang menjadi fokus utama pemerintah daerah. Proyek-proyek tersebut diproyeksikan meningkatkan konektivitas antarwilayah dan mendukung pertumbuhan ekonomi daerah.


Meski demikian, Fadriaty memastikan tetap berupaya memperjuangkan aspirasi masyarakat Bajo Barat sesuai dengan kemampuan anggaran yang tersedia.


“Reses ini menjadi kewajiban kami untuk mendengar langsung kebutuhan masyarakat. Aspirasi yang disampaikan akan kami bawa dan perjuangkan di tingkat provinsi,” katanya.


Bagi warga, pertemuan tersebut bukan sekadar agenda formal, melainkan kesempatan menyampaikan kebutuhan mendesak yang dirasakan sehari-hari. Harapan mereka sederhana: infrastruktur pertanian yang memadai, akses kesehatan yang lebih dekat, serta pembangunan yang menyentuh langsung kebutuhan dasar masyarakat desa.

Previous Post Next Post