LUWU - Sore
itu, cahaya matahari jatuh perlahan di gerbang perbatasan Desa Pabbaresseng dan
Desa Tanarigella, Kecamatan Bua, Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan. Di antara
hamparan kebun warga dan aliran sungai yang membelah kampung, berdiri sebuah
masjid bercat putih dengan halaman lapang dan lampu-lampu yang menyala ketika
senja turun.
Masjid berukuran 18 x 12
meter itu bukan sekadar bangunan ibadah. Ia adalah jejak cinta, bakti, dan
keteguhan hati seorang anak kepada kedua orang tuanya.
Dialah Aiptu Muhammad
Sakrawi, Kaur Mintu Polres Luwu, sosok di balik berdirinya Masjid Nur Nadimah.
Lokasinya berada tepat
di perbatasan Desa Pabbaresseng dan Desa Tanarigella. Desa Pabbaresseng dikenal
sebagai salah satu titik awal masuknya Islam di Jazirah Sulawesi, tempat
pendaratan Datok Sulaiman, Datok Ribandang, dan Datok Ditiro dari Minangkabau
pada abad ke-17.
Di tanah yang menjadi
saksi awal penyebaran Islam di wilayah Luwu itu, Sakrawi melihat sebuah
kebutuhan yang belum terpenuhi. Di antara dua desa mayoritas muslim tersebut,
belum ada masjid yang mudah dijangkau warga.
“Setiap saya menuju
makam orang tua, saya selalu melintas di sini. Saya lihat warga harus berjalan
cukup jauh untuk shalat berjamaah,” kata Sakrawi, Senin (23/2/2026).
Jarak antar-masjid di
dua desa itu dinilainya cukup menguras tenaga, terutama bagi lansia dan
anak-anak. Dari situlah muncul niat awal membangun masjid. Namun dorongan
terkuat justru datang dari ruang batin yang lebih dalam.
Sejak kedua orang tuanya
wafat pada 2016 lalu, Sakrawi merasakan kehilangan yang sulit terucap.
“Orang bilang patah
hati. Dan itu patah hati yang tidak ada obatnya,” ujarnya dengan mata
berkaca-kaca.
Ia teringat ajaran
Rasulullah SAW tentang tiga amalan yang tak terputus ketika seseorang
meninggal: doa anak saleh, ilmu yang bermanfaat, dan amal jariah.
“Saya ingin orang tua
saya tetap menikmati pahala. Saya ingin bakti saya kepada mereka tidak
berhenti,” ucapnya.
Sebagian dana
pembangunan berasal dari tabungan peninggalan orang tuanya yang ia temukan
setelah keduanya wafat. Jumlahnya memang tak besar, tetapi baginya, itu adalah
simbol perjuangan hidup orang tuanya.
“Semua saya serahkan
untuk masjid ini. Supaya harta yang mereka usahakan semasa hidup tetap mengalir
manfaatnya,” katanya.
Masjid itu dinamai Nur
Nadimah. Banyak warga mengira nama tersebut hanya merujuk pada ibunya, Nadimah
Nur. Namun, Sakrawi menjelaskan bahwa nama itu merupakan gabungan dari nama
kedua orang tuanya: Nurdin dan Nadimah.
“Nur dari Nurdin, dan
Nadimah adalah nama ibu saya, meskipun nama lengkapnya memang Nadimah Nur. Jadi
ini simbol bahwa keduanya tetap bersama,” ujarnya.
Baginya, nama itu bukan
sekadar identitas, melainkan doa yang diabadikan dalam bentuk bangunan. Masjid
itu menjadi simbol kasih sayang tanpa pamrih, pengingat akan kenangan, serta
cara menjaga kehormatan orang tua.
Secara fisik, Masjid Nur
Nadimah tampil sederhana, namun memiliki karakter arsitektur yang tegas.
Bangunan ini mengusung gaya Islam modern minimalis dengan sentuhan elemen Timur
Tengah yang bersahaja.
Ciri paling menonjol
terlihat pada deretan lengkung runcing atau pointed arch di bagian teras depan.
Bentuk lengkung tersebut identik dengan arsitektur Islam klasik yang kerap
ditemukan pada masjid-masjid di kawasan Timur Tengah. Namun di sini, lengkung
itu ditampilkan lebih sederhana dan fungsional, tanpa ornamen berlebihan.
Struktur bangunannya
tegas dan simetris. Dinding polos berwarna putih memperkuat kesan bersih
sekaligus menghadirkan nuansa sakral. Pilar-pilar persegi menopang atap dengan
garis lurus dan kokoh, menunjukkan pendekatan desain yang lebih modern
dibandingkan masjid tradisional Nusantara yang biasanya kaya detail kayu dan
atap bertingkat.
Atapnya berbentuk pelana
memanjang, dipadukan dengan kubah kecil berwarna metalik di bagian tengah atas.
Kubah itu tidak mendominasi bangunan, melainkan berfungsi sebagai penanda
visual bahwa bangunan tersebut adalah masjid. Pendekatan ini lazim dijumpai
pada masjid-masjid kontemporer di kawasan pedesaan atau semi-perkotaan, yang
menggabungkan simbol arsitektur Islam global dengan kebutuhan konstruksi yang
praktis dan efisien.
Secara keseluruhan,
arsitektur masjid ini mencerminkan perpaduan identitas Islam universal dan
karakter lokal yang sederhana. Ia tidak mengedepankan kemegahan, melainkan
fungsi, keterbukaan, dan kenyamanan jamaah.
Pembangunan masjid
dimulai pada 2019 bersama sang adik dan kakaknya. Prosesnya sempat terhenti
karena keterbatasan biaya. Namun, perlahan bangunan itu berdiri hingga rampung.
“Kadang mandek karena
dana. Tapi kalau niatnya untuk umat, selalu ada jalan. Ada saja pertolongan,”
katanya.
Sebagai anggota Polri,
Sakrawi harus membagi waktu antara tugas negara dan pembangunan masjid. Ia
mengaku tak menemui kesulitan berarti. Dukungan atasan membuatnya leluasa
mengatur manajemen waktu.
Ia membentuk tim kecil
yang mengurus teknis pembangunan. Sementara dirinya memantau melalui telepon
atau datang langsung selepas jam dinas. Setiap akhir pekan, ia menyempatkan
diri memeriksa progres pembangunan.
“Ini soal kerja tim.
Saya tidak mungkin kerjakan sendiri,” ujarnya.
Masjid berdiri tepat di
perbatasan, seolah menjadi jembatan silaturahmi antara Desa Pabbaresseng dan
Desa Tanarigella. Warga dari dua wilayah kini lebih sering berinteraksi,
terutama saat salat berjamaah dan kegiatan keagamaan.
Kehadiran masjid ini
membawa perubahan sosial. Selain memudahkan warga beribadah, bangunan tersebut
menjadi jembatan silaturahmi dua desa.
Di belakang masjid
mengalir sungai kecil yang dahulu kerap dijadikan tempat berkumpul anak-anak
muda biasa minum minuman keras jenis Ballo. Sakrawi berharap keberadaan masjid
dan lantunan azan dapat menumbuhkan kesadaran baru.
“Dengan suara azan, saya
berharap muncul rasa malu dan kesadaran untuk tidak melakukan hal yang
bertentangan dengan ajaran agama,” katanya.
Lampu-lampu dipasang di
sekeliling halaman. Kawasan yang dulu gelap kini terang. Warga yang melintas
pada malam hari merasa lebih aman.
Imam Masjid Bersyukur
Imam masjid, Jamil Andi
Sappaile, berdiri di beranda Masjid Nur Nadimah sambil memandang halaman yang
mulai ramai menjelang waktu magrib. Angin sore berembus pelan, membawa suara
melintas di depan pelataran. Bagi Jamil, perubahan suasana kampung itu terasa
nyata sejak masjid berdiri di perbatasan dua desa tersebut. Ia menyaksikan
sendiri bagaimana tempat yang dulu sunyi dan jarang dilintasi warga, kini
perlahan menjadi ruang berkumpul yang hangat dan hidup.
“Masyarakat senang. Dulu
kampung agak sunyi, sekarang suasananya berbeda. Warga yang lewat juga merasa
lebih tenang,” ungkapnya Jamil.
Menurut Jamil, kehadiran
masjid tidak hanya menghadirkan tempat ibadah, tetapi juga membangun rasa aman
dan kebersamaan di tengah masyarakat.
“Kami melihat semakin
banyak warga yang singgah, sekadar beristirahat, berbincang, atau ikut salat
berjamaah sebelum melanjutkan perjalanan ke desa sebelah,” terangnya.
Kedepan, Sakrawi
berencana membangun tempat khusus mengaji bagi anak-anak. Ia ingin masjid ini
hidup oleh suara generasi muda yang belajar membaca Al Quran.
Di gerbang dua desa itu,
Masjid Nur Nadimah berdiri bukan sebagai bangunan megah, melainkan sebagai
monumen cinta yang sunyi. Ia menyatukan sejarah Islam di Luwu, bakti seorang
anak, dan harapan tentang kampung yang lebih religius dan saling terhubung.
Setiap azan yang
berkumandang dari lengkung-lengkung terasnya, menjadi doa yang tak pernah putus
untuk orang tua yang telah tiada, untuk masyarakat yang kian erat, dan untuk
seorang polisi yang memilih mengabadikan cintanya melalui amal jariah.

