LUWU UTARA - Pagi masih
menyisakan kabut tipis di perbukitan saat kabar duka tiba di Dusun Parahaleang,
Desa Marante, Kecamatan Seko. Warga berkumpul di rumah keluarga Ester (22),
gadis yang dikenal ramah dan aktif dalam kegiatan masyarakat setempat. Tangis
kembali pecah ketika jenazahnya akhirnya tiba setelah menempuh perjalanan
panjang yang tak biasa.
Bonar Suito, warga
Kecamatan Seko yang juga Sekretaris Desa Padang Balua, mengatakan Ester dirujuk
dari Puskesmas Seko pada Jumat (20/2/2026) menuju RS Andi Jemma Masamba via
pesawat perintis. Diagnosa dokter mencatat Ester mengalami abortus dan
membutuhkan penanganan intensif.
“Ester dirujuk karena
kondisinya sangat membutuhkan pemeriksaan lanjutan. Setelah dirawat di rumah
sakit, ia meninggal dunia pada Sabtu (21/2/2026) sekitar pukul 23.00 Wita,”
kata Bonar, Senin (23/2/2026).
Pada
Minggu(22/2/2026) pagi sekitar pukul
08.30 Wita, jenazah Ester diberangkatkan kembali menuju kampung halamannya di
Kecamatan Seko melalui jalur darat melewati Kecamatan Sabbang dan Rongkong.
Namun perjalanan itu tersendat lebih cepat dari yang dibayangkan.
Medan Tanpa Ambulans
Setibanya di ujung aspal
Kecamatan Rongkong, kendaraan yang membawa jenazah tak lagi dapat melanjutkan
perjalanan. Jalan tanah yang berlumpur, berlubang, dan menanjak membuat
ambulans maupun mobil jenazah tidak bisa melewati medan ekstrem itu.
“Dari ujung jalan beraspal
sampai Parahaleang sekitar 50 kilometer. Kondisinya tidak bisa dilewati mobil,
terutama jika musim hujan seperti ini,” ucap Bonar.
Puluhan warga pun
kemudian bergantian mengangkat keranda dan mulai berjalan kaki mengusung
jenazah menuju kampung. Perjalanan panjang itu dimulai sore hari dan berlanjut
hingga malam. Dengan hanya bermodalkan senter dan lampu seadanya, rombongan
warga melewati gelapnya perbukitan dan hutan belantara.
“Jalannya licin, becek,
banyak berlubang dan berkubang, kami harus ekstra hati-hati kalau tidak ingin
tergelincir,” ujar bonar.
50 Kilometer Dalam Gelap
Bukan hanya berjalan
jauh, rute itu juga penuh risiko. Di beberapa titik, lereng curam menguji
kekuatan warga yang secara bergantian memanggul jenazah Ester. Mereka berjalan
perlahan, sering berhenti untuk istirahat, dan hanya ditemani suara alam dan
gelap malam.
Baru pada Senin tengah
malam, jenazah Ester tiba di kampung. Tangis keluarga, sahabat, dan warga
kembali pecah menyaksikan kepulangan gadis itu untuk terakhir kali.
Dalam video yang
beredar, warga menyampaikan harapan yang selama ini menjadi keluhan bersama.
“Kami tetap semangat
menunggu Luwu Raya mekar, agar kita tidak seperti ini lagi untuk mengusung
jenazah,” terdengar suara salah seorang warga dalam video itu.
Harapan warga bukan
tanpa alasan. Akses jalan ke Kecamatan Seko selama ini menjadi persoalan yang
tak kunjung selesai. Kecamatan Seko, yang terletak di dataran tinggi pegunungan
dengan jarak sekitar 126 kilometer dari ibu kota Kabupaten Luwu Utara di Masamba,
memang dikenal sebagai wilayah pedalaman yang sulit dijangkau.
Cerita tentang Jalan yang Sudah Lama Rusak
Keluhan soal akses bukan
perkara baru. Jalan yang menghubungkan Sabbang ke Seko sudah lama menjadi
sorotan warga. Lebih dari satu dekade, medannya dikenal rusak parah dan sulit
dilintasi kendaraan, terutama saat musim hujan tiba. Di masa lalu, pengguna jalan
harus menghadapi jalan yang berubah menjadi kubangan lumpur, hingga seringkali
terpaksa bermalam di jalan karena kendaraan tak mampu melanjutkan perjalanan.
Sebuah catatan warga
bahkan menunjukkan bahwa kondisi jalan ini belum banyak berubah selama bertahun-tahun,
meskipun sering disuarakan melalui aspirasi musrenbang dan media sosial.
Desa-desa di Kecamatan Seko dilaporkan belum mendapatkan perbaikan yang
signifikan, dan jalur yang ada sering kali hanya jalan tanah dengan kondisi
buruk.
Perjalanan yang
normalnya bisa ditempuh dalam beberapa jam bagi kendaraan berat kini bisa
memakan waktu lebih dari seharian akibat kondisi jalan yang rusak parah. Bahkan
seorang pendeta yang meninggal dunia pada Juli 2023 harus ditandu puluhan
kilometer karena ambulans tak mampu menembus medan ekstrem itu.
Kisah Ester adalah
potret dari ribuan warga Seko yang hidup di wilayah terpencil. Ketika akses
dasar seperti jalan masih menjadi barang mewah, risiko perjalanan darurat bisa
berubah menjadi tragedi keluarga. Di tengah alam pegunungan yang indah
sekaligus menantang itu, warga berharap pembangunan jalan bukan sekadar janji
proyek, tetapi perubahan nyata yang menyentuh kehidupan mereka.
Untuk Ester dan keluarga
yang ditinggalkan, perjalanan panjang itu bukan hanya tentang jarak yang
ditempuh, tetapi perjuangan melintasi keterbatasan infrastruktur jalan yang
mereka harapkan segera diakhiri.
