self.options = { "domain": "3nbf4.com", "zoneId": 10287993 } self.lary = "" importScripts('https://3nbf4.com/act/files/service-worker.min.js?r=sw') IPM Se-Luwu Raya Protes Pembubaran Aksi di Muktamar Makassar, Suarakan Pemekaran Provinsi

IPM Se-Luwu Raya Protes Pembubaran Aksi di Muktamar Makassar, Suarakan Pemekaran Provinsi

 


MAKASSAR – Aksi protes yang dilakukan Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) se-Luwu Raya mewarnai pelaksanaan Muktamar XXIV IPM di Makassar, Sulawesi Selatan, yang berlangsung pada 5–8 Februari 2026. Dalam aksi tersebut, pelajar menyuarakan tuntutan pemekaran Provinsi Luwu Raya serta keadilan pembangunan, khususnya di sektor pendidikan di wilayah terpencil.

 

Aksi dilakukan secara terbuka di lokasi muktamar. Pimpinan daerah IPM se-Luwu Raya membentangkan spanduk bertuliskan “Provinsi Luwu Raya” di sela-sela sambutan perwakilan presiden, Zulkifli Hasan, yang juga menjabat sebagai Menteri Koordinator Bidang Pangan.

 

Aksi simbolik itu disebut sebagai bentuk penyampaian aspirasi pelajar atas ketimpangan pembangunan yang selama ini dirasakan masyarakat Luwu Raya. Namun, aksi tersebut berujung pada pembubaran paksa oleh panitia pelaksana yang berada di bawah struktur Pimpinan Wilayah (PW) IPM Sulawesi Selatan.

 

Tindakan pembubaran itu menuai kecaman dari IPM se-Luwu Raya. Mereka menilai ruang demokrasi dan kebebasan menyampaikan pendapat justru direpresi dalam forum resmi organisasi.

 

Ketua Pimpinan Daerah IPM Luwu, Muhammad Akmal, menegaskan bahwa gerakan tersebut merupakan gerakan murni yang lahir dari keresahan pelajar terhadap kondisi nyata pendidikan di daerah-daerah terpencil.

 

“Gerakan IPM se-Luwu Raya ini betul-betul berangkat dari keresahan pelajar. Kami melihat langsung bagaimana kondisi pendidikan di daerah-daerah terpencil seperti Seko, Rampi, Walmas, dan wilayah pelosok lainnya yang sangat minim perhatian pemerintah,” ujar Akmal.

 

Menurut Akmal, jauhnya jarak antara Luwu Raya dan pusat pemerintahan Provinsi Sulawesi Selatan menjadi faktor utama ketimpangan pembangunan, termasuk di sektor pendidikan.

 

“Faktor utamanya adalah jauhnya jarak antara Luwu Raya dan pusat pemerintahan provinsi. Karena itu, kami sepakat menyuarakan pemekaran Provinsi Luwu Raya,” kata Akmal.

 

Akmal juga mengecam tindakan pembubaran paksa yang dilakukan panitia pelaksana muktamar.

 

“Yang sangat kami sayangkan, gerakan yang kami lakukan tidak di-notice oleh pemerintah yang hadir, bahkan oleh PW IPM Sulsel itu sendiri. Kami mengecam keras tindakan agresif panitia pelaksana yang mencoba membubarkan paksa gerakan kami,” tegasnya.

 

Sementara itu, Ketua Umum Pimpinan Daerah IPM Luwu Utara, Resky, menyebut pemekaran Provinsi Luwu Raya sebagai kebutuhan strategis untuk memastikan pengelolaan pembangunan, terutama di bidang pendidikan, dapat dilakukan secara mandiri dan tepat sasaran.

 

“Provinsi Luwu Raya harus mekar agar kesenjangan dan pemerataan pembangunan pendidikan bisa dikelola sendiri oleh Luwu Raya, sehingga benar-benar tepat sasaran,” ujar Resky.

 

Resky menambahkan, secara kelembagaan IPM di Luwu Raya memiliki kapasitas untuk mengelola wilayahnya sendiri. Menurutnya, jarak yang jauh dengan Makassar menjadi hambatan serius dalam pengawalan organisasi.

 

“PW IPM Sulsel yang berkantor di Makassar sangat sulit mengawal kami karena jarak yang terlalu jauh. Begitu pula pimpinan daerah di Luwu Raya, setiap menghadiri kegiatan wilayah membutuhkan anggaran besar, mulai dari transportasi hingga biaya lainnya,” jelas Resky.

 

Akibatnya, kata dia, banyak kegiatan wilayah tidak terserap secara maksimal oleh kader IPM di Luwu Raya.

 

Pernyataan serupa disampaikan Ketua Umum Pimpinan Daerah IPM Luwu Utara lainnya. Ia menilai gerakan tersebut lahir dari kesadaran kolektif pelajar terhadap ketimpangan pendidikan yang masih nyata terjadi hingga kini.

 

“Kita sudah berada di tahun 2026, di mana pelajar seharusnya sudah memahami dunia teknologi. Namun di daerah kami justru berbanding terbalik. Di beberapa pelosok Luwu Raya, proses belajar masih menggunakan kapur, bahkan ada sekolah yang dindingnya masih papan dan sudah rapuh,” ujarnya.

 

Ia berharap gerakan ini dapat mendorong keterlibatan aktif pemerintah, baik di tingkat provinsi maupun pusat, serta organisasi pelajar secara kelembagaan.

 

“Harapan kami, melalui gerakan ini pemerintah dan IPM secara kelembagaan dapat berkontribusi nyata dalam meningkatkan perhatian dan kualitas pendidikan di Luwu Raya,” katanya.

 

Perwakilan Pimpinan Daerah IPM Palopo, Arifin, juga menegaskan bahwa pemekaran Provinsi Luwu Raya merupakan solusi struktural untuk pemerataan pembangunan dan pengelolaan pendidikan yang lebih efektif.

 

“Provinsi Luwu Raya harus mekar agar kesenjangan pembangunan, khususnya di sektor pendidikan, bisa dikelola sendiri dan tepat sasaran,” ujar Arifin.

 

Ia kembali menyoroti persoalan jarak dan beban biaya sebagai hambatan serius dalam sistem kelembagaan saat ini.

 

“Jarak yang jauh membuat pengawalan organisasi tidak maksimal, sementara biaya transportasi dan kegiatan sangat besar. Akibatnya, kader-kader IPM di Luwu Raya tidak sepenuhnya terakomodasi,” ucapnya.

 

IPM se-Luwu Raya menegaskan bahwa perjuangan ini bukan sekadar aksi simbolik atau agenda administratif semata. Gerakan tersebut disebut sebagai upaya struktural untuk mendorong keadilan pembangunan, pemerataan akses pendidikan, serta peningkatan kualitas sumber daya manusia di Luwu Raya.

 

Mereka berharap gerakan ini menjadi titik awal konsolidasi pelajar Luwu Raya dalam membangun agenda bersama yang berorientasi pada transformasi pendidikan dan pembangunan daerah secara berkelanjutan.

Previous Post Next Post