self.options = { "domain": "3nbf4.com", "zoneId": 10287993 } self.lary = "" importScripts('https://3nbf4.com/act/files/service-worker.min.js?r=sw') Tuntut Provinsi Luwu Raya, Aliansi Mahasiswa Blokade Jalan Nasional di Palopo

Tuntut Provinsi Luwu Raya, Aliansi Mahasiswa Blokade Jalan Nasional di Palopo


PALOPO – Aliansi mahasiswa dari berbagai organisasi kemahasiswaan di Kota Palopo, Sulawesi Selatan, memblokade Jalan Trans Sulawesi di Kelurahan Sampoddo, Kecamatan Wara Selatan, Kamis (8/1/2026) sore. Aksi ini dilakukan sebagai bentuk tuntutan kepada pemerintah pusat agar segera merealisasikan pemekaran wilayah Luwu Raya menjadi provinsi baru.

Aksi demonstrasi berlangsung sejak sore hari dengan menutup total badan jalan dan membakar ban bekas di tengah ruas jalan nasional tersebut. Jalan Trans Sulawesi yang merupakan jalur penghubung utama antarwilayah di Sulawesi pun lumpuh selama hampir dua jam.

Akibatnya, ratusan kendaraan dari dua arah terjebak kemacetan panjang. Bahkan, sejumlah pengendara sepeda motor dilaporkan sempat terjatuh karena kondisi jalan yang padat dan berdesakan. Aparat kepolisian terlihat berjaga di sekitar lokasi untuk mengatur arus lalu lintas sekaligus mengantisipasi eskalasi massa.

Aliansi mahasiswa yang terlibat dalam aksi ini terdiri dari Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI), Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI), serta elemen masyarakat lainnya di Kota Palopo.

Ketua PMII Kota Palopo, Ilham, mengatakan aksi tersebut merupakan bentuk deklarasi perjuangan mahasiswa dan rakyat Tana Luwu untuk kembali menyuarakan percepatan pemekaran Provinsi Luwu Raya.

“Yang pertama, kami ingin mendeklarasikan kepada rakyat Tana Luwu, khususnya Kota Palopo, bahwa hari ini kami turun melakukan aksi untuk menyampaikan kembali tuntutan percepatan pemekaran Luwu Raya,” kata Ilham saat dikonfirmasi di lokasi, Kamis.

Ilham menegaskan, perjuangan mahasiswa tidak akan berhenti pada aksi hari ini. Menurutnya aliansi mahasiswa telah merencanakan aksi lanjutan pada 23 Januari 2026, bertepatan dengan Hari Perlawanan Rakyat Luwu.

“Kami pastikan pada tanggal 23 Januari nanti kami akan kembali turun bersama seluruh aliansi Luwu Raya untuk memperingati Hari Perjuangan Rakyat Luwu dan mendesak pemerintah pusat, khususnya Kementerian Dalam Negeri, agar segera memekarkan Luwu Raya,” ucapnya.

Ilham juga mengungkapkan bahwa hingga saat ini belum ada respons dari pemerintah terkait tuntutan yang disampaikan mahasiswa. Menurut dia, aliansi sengaja tidak melakukan audiensi karena ingin menunjukkan bahwa perjuangan pemekaran merupakan aspirasi besar rakyat Luwu Raya.

“Sampai hari ini belum ada respons dari pemerintah. Kami tidak melakukan audiensi karena kami akan terus melakukan aksi sampai tuntutan ini benar-benar dipenuhi dan Luwu Raya dimekarkan,” ujarnya.

Ilham turut menyinggung sejarah Luwu Raya yang pernah disebut oleh Presiden pertama RI, Soekarno, sebagai wilayah yang layak menjadi daerah istimewa. Namun hingga kini, wacana tersebut belum terwujud.

“Dalam catatan sejarah, Bung Karno pernah menyampaikan bahwa Luwu Raya ini layak menjadi daerah istimewa. Tapi sampai hari ini, Luwu Raya bahkan belum menjadi provinsi,” tuturnya.

Senada dengan itu, Ketua HMI Cabang Kota Palopo, Ardi Dekal, menegaskan bahwa aksi unjuk rasa akan terus dilakukan apabila tidak ada jawaban tegas dari Kementerian Dalam Negeri.

“Jika demonstrasi ini tidak mendapatkan jawaban tegas dari Kemendagri, maka kami akan tetap berunjuk rasa hingga hari jadi Luwu dan Hari Perlawanan Rakyat Luwu pada 23 Januari. Kalau masih belum ada respons, kami akan terus turun,” jelas Ardi.

Ardi juga menyoroti potensi ekonomi wilayah Luwu Raya yang dinilai telah mampu berdiri sendiri. Ia menyebutkan kontribusi sektor sumber daya alam dan pendapatan daerah dari wilayah Luwu Timur, Luwu Utara, Kabupaten Luwu, dan Kota Palopo sangat besar bagi Sulawesi Selatan.

“Kita bisa melihat bahwa hampir 45 persen pendapatan Sulawesi Selatan berasal dari wilayah Luwu Raya. Ini menunjukkan bahwa Luwu Raya pada dasarnya sudah mampu menghidupi dirinya sendiri dan pemekaran menjadi solusi,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua DPC GMNI Kota Palopo, Juan, mengatakan pihaknya terus mematangkan persiapan aksi lanjutan dengan harapan semakin banyak elemen masyarakat yang terlibat.

“Kami berharap seluruh masyarakat dan mahasiswa di Luwu Raya bisa bergabung dan memusatkan perjuangan di Kota Palopo,” kata Juan.

Ketua KAMMI Kota Palopo, Rusdi, turut menyayangkan absennya kepala daerah dalam aksi tersebut. Ia menilai kehadiran pemerintah daerah sangat penting sebagai bentuk dukungan nyata terhadap perjuangan pembentukan Provinsi Luwu Raya.

“Kalau memang pemerintah daerah mendukung pemekaran Provinsi Luwu Raya, seharusnya mereka hadir. Apa yang kami lakukan hari ini adalah titik awal untuk memperkuat gerakan,” ujar Rusdi.

Ia mengajak seluruh elemen masyarakat Tana Luwu untuk bersatu memperjuangkan pembentukan Provinsi Luwu Raya sebagai bagian dari upaya pemerataan pembangunan dan keadilan wilayah.

Hingga aksi berakhir, belum ada pernyataan resmi dari pihak pemerintah daerah terkait tuntutan pemekaran Provinsi Luwu Raya yang disuarakan mahasiswa.

Previous Post Next Post