Hindari Blokade Trans Sulawesi, Mobil Asal Morowali Dirusak Massa, Bocah Alami Luka Bakar



LUWU – Aksi blokade Jalan Trans Sulawesi di Kecamatan Walenrang Utara, Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan, yang berlangsung sejak beberapa hari terakhir, memaksa sejumlah pengendara mencari jalur alternatif untuk melanjutkan perjalanan.


Namun, upaya menghindari penutupan jalan tersebut berujung insiden kekerasan. Sebuah mobil asal Morowali, Sulawesi Tengah, dirusak massa di wilayah Mamara, Kecamatan Walenrang Utara. Peristiwa itu menyebabkan seorang bocah laki-laki yang berada di dalam kendaraan mengalami luka bakar akibat siraman air panas.


Dalam insiden tersebut, sopir dan penumpang lain mobil itu lari menyelamatkan diri dari amukan warga. Sementara bocah yang mengalami luka serius segera dilarikan ke Unit Gawat Darurat (UGD) RSUD Sawerigading Palopo untuk mendapatkan penanganan medis.


Menanggapi kejadian tersebut, Jenderal Lapangan Aliansi Wija to Luwu, Alif Nugraha, menegaskan bahwa insiden kekerasan tersebut tidak berkaitan langsung dengan massa aksi pemblokiran jalan Trans Sulawesi.


Alif menjelaskan, berdasarkan informasi yang diterimanya dari warga setempat, mobil travel tersebut mengambil jalan pintas melalui wilayah Bosso Timur setelah menghindari jalur utama yang ditutup.


“Informasi dari warga, mobil ini dari arah Morowali menuju ke selatan. Sopirnya hampir menabrak warga. Saat diminta berhenti untuk klarifikasi, sopir justru melaju kencang. Kemungkinan peristiwa itu terjadi saat yang bersangkutan diburu warga,” ujar Alif.


Ia menegaskan, kejadian tersebut tidak terjadi di titik aksi dan tidak bersentuhan langsung dengan massa demonstrasi. Menurutnya, insiden murni terjadi antara pengendara dengan masyarakat sekitar.


“Jadi tidak ada kaitannya dengan massa aksi. Kejadian itu bukan di lokasi titik aksi, melainkan di wilayah permukiman,” kata Alif.


Sementara itu, Kapolres Luwu AKBP Adnan Pandibu membenarkan adanya insiden penganiayaan, pengeroyokan, dan perusakan kendaraan yang terjadi di Kecamatan Walenrang Utara pada Senin (26/1/2026) dini hari.


Ia mengatakan, Kepolisian Resor (Polres) Luwu melalui jajaran Polsek Walenrang bergerak cepat menindaklanjuti laporan masyarakat terkait kejadian tersebut.


“Peristiwa terjadi sekitar pukul 03.00 WITA di wilayah Kelurahan Bosso, Kecamatan Walenrang Utara,” ujar Adnan.


Kapolres menjelaskan, kejadian bermula saat korban bersama keluarganya melintas menggunakan kendaraan roda empat dan berupaya mencari jalur alternatif akibat penutupan jalan provinsi di Kabupaten Luwu yang berkaitan dengan aksi demonstrasi tuntutan pembentukan Provinsi Luwu Raya.


Saat melintas di lorong permukiman, kendaraan korban sempat ditegur oleh pengendara sepeda motor karena hampir terjadi senggolan. Meski korban telah berhenti dan menyampaikan permohonan maaf, situasi justru berkembang dan berujung pada tindakan kekerasan.


Setibanya di wilayah Kelurahan Bosso, kendaraan korban dihadang dan dilempari batu secara berulang. Korban juga mengalami pemukulan menggunakan batu. Sementara itu, istri dan anak-anak korban menjadi sasaran penyiraman air panas oleh pelaku.


Akibat kejadian tersebut, korban mengalami luka robek pada bagian alis serta memar pada mata sebelah kanan. Anak-anak korban mengalami luka bakar akibat siraman air panas. Selain itu, kendaraan korban mengalami kerusakan parah pada beberapa bagian kaca dengan estimasi kerugian materiil mencapai sekitar Rp 40 juta.


Menindaklanjuti laporan tersebut, Unit Reskrim Polsek Walenrang bersama Reskrim Polres Luwu melakukan penyelidikan dan pengumpulan informasi di tempat kejadian perkara. Hasilnya, pada pukul 14.00 WITA, petugas berhasil mengamankan lima orang terduga pelaku.


Pengembangan kasus kembali membuahkan hasil dengan diamankannya dua terduga pelaku tambahan sekitar pukul 15.30 WITA pada hari yang sama.


Adapun tujuh terduga pelaku yang diamankan masing-masing berinisial I (29), MT (23), DA (22), OS (20), J (18), R, dan W (18). Para terduga pelaku diduga memiliki peran berbeda, mulai dari melakukan penganiayaan, pelemparan batu ke arah kendaraan, hingga penyiraman air panas terhadap korban dan keluarganya.


Seluruh terduga pelaku beserta barang bukti kini diamankan di Mapolsek Walenrang untuk menjalani pemeriksaan dan proses hukum lebih lanjut sesuai ketentuan yang berlaku.


Kapolres Luwu menegaskan komitmen jajarannya untuk menjaga situasi keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas), khususnya di tengah meningkatnya aktivitas masyarakat akibat aksi penyampaian pendapat di muka umum.


“Kami menindaklanjuti laporan ini dengan cepat dan terukur. Seluruh terduga pelaku berhasil diamankan dalam waktu singkat dan saat ini tengah menjalani pemeriksaan,” kata Adnan.


Ia juga mengimbau masyarakat agar tidak meluapkan emosi dengan tindakan anarkis dan menghindari aksi main hakim sendiri.


“Kami menghormati penyampaian aspirasi di muka umum. Namun, jangan sampai mengorbankan keselamatan dan keamanan masyarakat lainnya. Setiap permasalahan hendaknya diselesaikan melalui jalur hukum,” ujarnya.


Sebelumnya diberitakan Ratusan kendaraan roda empat, truk, bus, hingga mobil angkutan bahan bakar minyak (BBM) terjebak kemacetan panjang akibat aksi blokade Jalan Trans Sulawesi di Desa Marabuana, Kecamatan Walenrang Utara, Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan, Sabtu (24/1/2026) siang. Aksi tersebut menyebabkan arus lalu lintas lumpuh total dari dua arah.


Jenderal Lapangan aksi Aliansi Mahasiswa Wija To Luwu, Alif Nugraha, mengatakan blokade jalan dilakukan sebagai bentuk kekecewaan terhadap pemerintah yang dinilai belum merealisasikan pembentukan Kabupaten Luwu Tengah dan Provinsi Luwu Raya. 


“Dua tuntutan tersebut menjadi fokus utama kami dalam aksi ini yang telah berlangsung selama dua hari,” kata Alif, Sabtu (24/1/2026) siang.


Aksi blokade dilakukan dengan cara menebang sejumlah pohon yang kemudian dijadikan palang untuk menutup badan jalan. Akibatnya, kendaraan yang melintas tidak dapat melanjutkan perjalanan dan terpaksa berhenti di lokasi antrean yang mengular hingga beberapa kilometer.


Kemacetan panjang ini berdampak langsung pada aktivitas masyarakat dan distribusi logistik, termasuk kendaraan angkutan BBM. Sejumlah sopir mengaku telah tertahan berjam-jam tanpa kepastian kapan jalan kembali dibuka.


“Sejak kemarin kami tertahan disini, keluarga kami sudah menanti, usaha kami juga terancam bangkrut,” ucap Nuri.


Aliansi Mahasiswa Wija To Luwu menilai lambannya pembangunan dan pelayanan publik di wilayah Luwu Raya menjadi alasan utama tuntutan pembentukan Kabupaten Luwu Tengah. Selain itu, mereka juga mendorong pemekaran Provinsi Luwu Raya karena menganggap wilayah tersebut belum mendapatkan perhatian optimal selama berada di bawah naungan Provinsi Sulawesi Selatan.


“Selama ini kami menilai sering terjadi keterlambatan pembangunan serta pengalokasian anggaran di sektor ekonomi, kesehatan, dan politik. Bahkan, kami juga melihat adanya perlakuan diskriminatif terhadap Wija To Luwu, termasuk mahasiswa yang menempuh pendidikan di Makassar,” ujar Alif.


Ia menegaskan, aksi pemalangan jalan akan terus dilakukan hingga pemerintah pusat maupun Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan turun tangan secara langsung untuk merespons tuntutan massa. Massa aksi juga menyatakan siap melanjutkan aksi dalam jangka waktu yang tidak ditentukan.


“Ini adalah bentuk kemarahan, keresahan, dan kekecewaan kami terhadap pemerintah pusat dan pemerintah provinsi. Aksi ini tidak hanya berhenti hari ini, tetapi akan terus berlanjut sampai ada atensi langsung dan langkah konkret,” tuturnya.


Previous Post Next Post