Save the Children Distribusikan Selimut dan Hunian Sementara untuk Puluhan Ribu Warga Terdampak Bencana Aceh dan Sumut

 

JAKARTA - Hujan deras yang melanda sejumlah wilayah di Provinsi Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat dalam beberapa hari terakhir memicu banjir besar dan longsor. Sedikitnya 90 orang dilaporkan meninggal dunia, tiga di antaranya anak-anak, sementara puluhan lainnya masih dinyatakan hilang.


Badan Penanggulangan Bencana Aceh (BPBA) melaporkan, sepanjang periode 18 November 2025 pukul 07.00 WIB hingga 27 November 2025 pukul 16.00 WIB, bencana tersebut telah berdampak pada 33.817 kepala keluarga (119.988 jiwa). Selain itu, 6.998 kepala keluarga (20.759 jiwa) harus mengungsi, termasuk ribuan anak-anak.


Merespons kondisi tersebut, Save the Children Indonesia mengerahkan tim dan berkoordinasi dengan mitra lokal di Aceh dan Sumatera Utara. Bantuan darurat yang disiapkan meliputi perlengkapan hunian sementara, air bersih, dan selimut bagi sekitar 51.000 warga, termasuk 21.000 anak.


Tim kami sudah berada di Medan dan Nias untuk memastikan bantuan darurat dapat segera diterima oleh keluarga terdampak, terutama anak-anak yang paling rentan. Situasi ini sangat memprihatinkan, akses jalan terputus dan jaringan listrik yang belum pulih membuat proses evakuasi serta distribusi bantuan semakin menantang,” ujar CEO Save the Children Indonesia, Dessy Kurwiany Ukar, Jumat (28/11/2025).


Dessy menegaskan bahwa organisasinya berkomitmen memastikan anak-anak memperoleh kebutuhan dasar seperti hunian sementara, akses air bersih, serta dukungan yang diperlukan dalam masa krisis.


Sementara itu, Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menjelaskan bahwa cuaca ekstrem tersebut dipicu siklon tropis Senyar. Siklon ini membentuk meso-scale convective complex, yaitu klaster awan hujan berukuran masif yang menghasilkan curah hujan berkelanjutan disertai angin kencang.


Menurut BMKG, pemanasan suhu permukaan laut akibat perubahan iklim diduga memperkuat potensi terbentuknya siklon tropis yang lebih intens. Masyarakat diimbau meningkatkan kewaspadaan terhadap kemungkinan cuaca ekstrem dan risiko bencana susulan.


Dessy Kurwiany menambahkan, riset global Save the Children tahun 2025 berjudul “Born Into the Climate Crisis 2” menunjukkan bahwa krisis iklim merupakan ancaman terbesar bagi pemenuhan hak anak. Studi tersebut mengungkap bahwa anak-anak yang lahir sejak 2020 berpotensi mengalami bencana iklim pada skala yang belum pernah terjadi di generasi sebelumnya, mulai dari gelombang panas, banjir sungai, kekeringan, kebakaran hutan, hingga kegagalan panen.

Previous Post Next Post