Silva Paranggai, Pahlawan Tanpa Tanda Jasa dari Toraja Utara Bergelar S2 Mengajar di Pedalaman
INSPIRASI TIMUR INDONESIA

TORAJA UTARA - Pagi hari, sekitar pukul 06.30 Wita, cuaca di Dusun Limbong Dewata, Lembang Batu Lotong, Kecamatan Rante Karua, Toraja Utara, Sulawesi Selatan cukup bersahabat.,

Matahari mulai menampakkan sinarnya di balik pegunungan di ufuk timur  diiringi dengan suara riuhnya burung-burung di pagi hari. 

Anak-anak di pedalaman ini  berjalan kaki melewati perbukitan menuju ke sekolah, begitupun dengan gurunya, pagi-pagi harus berkemas bersiap menuju ke sekolah memberikan materi pelajaran.

Pagi itu, Silva Paranggai, seorang guru honorer di daerah transmigrasi Dusun Limbong Dewata, sebelum pukul 07.00 Wita, ia keluar dari rumah menuruni lembah menuju ke sekolah dengan berjalan kaki melewati pematang dan mendaki perbukitan dengan jarak tempuh satu kilometer, harus dilaluinya setiap hari. 

Setibanya di sekolah, ia  harus mengontrol para siswa dengan mengajak siswa membersihkan halaman sekolah dan berbaris sebelum masuk ke ruang kelas, bahkan memberikan permainan yang ringan dan menyenangkan sebelum masuk ruangan kelas.

Para siswa dari kelas 1 sampai kelas 6 masuk dalam ruang kelas belajar, sayangnya di sekolah kelas jauh  SDN 04 Awan, hanya tersedia 3 ruang kelas, sehingga para siswa belajar dalam satu ruangan yang digabung menjadi dua kelas, misalnya kelas 1 digabung dengan kelas 2  begitupun sterusnya. 

Ruang kelas belajar itu hanya dibatasi atau disekat dengan peralatan seadanya seperti bangku dan papan tulis yang kondisinya telah rusak dan tidak lagi digunakan melainkan hanya untuk menjadi pembatas atau sekat antar kelas belajar.

Keterbatasan sekolah ini sangat nampak, selain dari fasilitasnya yang mulai rusak,  anak-anak sekolah disinipun masih terbilang kurang mampu, mereka ke sekolah tanpa alas kaki namun mereka tetap semangat belajar, disisi lain jumlah tenaga pengajarnya hanya 3 orang non PNS, namun salah seorang dari guru tersebut bergelar Sarjana Magister Pendidikan atau S2 yakni Silva Paranggai..

Meski bergelar S2  magister pendidikan dan bekerja sebagai guru kontrak daerah,  Silva tetap memilih mengabdi mengajar di daerah pelosok di SDN 4 Awan, dengan status sekolah sebagai kelas jauh atau cabang sejak 8 tahun silam. 

Silva Paranggai mengajar di kelas 5 dan 6, bahkan jika rekannya tidak sempat hadir karena kondisi cuaca seperti hujan, terpaksa harus mengisi kelas lain untuk memberikan materi pelajaran.

Dalam satu bulan Silva hanya digaji Rp 650 ribu, meski nilainya terbilang rendah  namun Silva tidak mempersoalkan hal itu,  yang terpenting baginya adalah bagaimana anak-anak di daerah tersebut bisa sekolah. 

“Saya termotivasi dan bertahan di sekolah ini karena saya melihat masyarakat disini masih terbelakang dengan soal pendidikan, dan saat saya datang kesini saya lihat warga membutuhkan pendidikan yang lebih, jadi saya berupaya agar ada perubahan atau ada kemajuan sedikit di bidang pendidikan, ini yang membuat saya tetap bertahan meskipun dari segi honor upah atau gaji sangat tidak mendukung,” kata Silva.

Silva mengatakan dalam 10 bulan terakhir ia belum menerima honor dari Pemda Toraja Utara, meski demikian ia tetap mengajar di sekolah. 

“Sudah 10 bulan saya tidak menerima honor, kalau tahun lalu honor hanya Rp 650 ribu, tahun sekarang katanya sudah Rp 1 juta per bulan, tapi kami belum terima satu bulan pun, semoga bulan ini atau bulan depan sudah cair, karena SK kolektif sudah ada. Tapi yang terpenting adalah bagaimana anak-anak supaya ada peningkatan didalam pendidikan, ini menjadi suatu pelayanan bagi saya  untuk melayani anak-anak dengan penuh kesabaran meskipun banyak suka dan dukanya,” ucap Silva.

Sekolah tempat Silva mengajar masih jauh dari kelayakan, ruang kelas terdiri dari 3 unit sementara jumlah kelas belajar mencapai 6 kelas, sehingga siswa dibagi dua kelas dalam satu ruangan untuk menerima pelajaran, misalnya kelas 5 dan 6 digabung jadi satu hanya dibatasi oleh sekat dari bangku bekas atau papan bekas, belum lagi jumlah tenaga pengajar yang minim. 

“Selama ini kami sangat terganggu termasuk anak-anak dengan kondisi tersebut karena mereka dari kelas 4 misalnya yang sementara belajar karena hanya dipisahkan oleh sekat pembatas yang dari bangku bekas dan papan otomatis mereka saling baku lihat begitupun kami juga terganggu dengan suara-suara saat memberi materi pelajaran,” ujar Silva.

“Untungnya warga Dusun Limbong Dewata ketika kami minta tolong untuk memperbaiki sesuatu di sekolah maka warga turun tangan bergotong royong,” tutur Silva. 

Kelas jauh SDN 04 Awan berada di pedalaman, akses menuju ke lokasi sebagian jalannya masih dalam pengerasan dan sebagian sudah dirabat, namun cukup jauh dari ibu kota Kecamatan dan lebih jauh lagi ke Ibu kota Kabupaten di Rantepao yang dapat ditempuh 3 jam, hal ini membuat guru-guru lainnya terkadang lambat tiba di sekolah bahkan tidak sempat sampai ke sekolah karena terkadang terhalang dengan cuaca hujan bahkan kerap menemui jalan longsor sehingga Silva harus berinisiatif mengajar dari kelas 1 hingga kelas 6.

“Kadangkala saya harus mengajari mereka kalau rekan saya berhalangan datang karena terkendala dengan akses atau cuaca, jadi saya tuliskan saja materinya di papan tulis dan saya suruh mengerjakan tugasnya, kadang saya harus pulang pukul 13.00 siang dan sebelum pulang saya tuliskan di papan materi pelajaran untuk kelas satu untuk besok supaya mereka langsung mempelajarinya,” jelas Silva. 

Silva berharap dirinya bisa menjadi tenaga pengajar berstatus pegawai negeri atau melalui jalur formasi PPPK agar bisa lebih meningkatkan proses belajar mengajar di daerah pedalaman.

“Selama ini saya memang tidak mendaftar di seleksi penerimaan jalur PPPK karena ijazah saya waktu itu tidak linear sesuai persyaratan dan saya waktu itu lebih fokus mengajar disini, sekarang saya berharap bisa jadi tenaga minimal PPPK,” harap Silva.  

Kondisi Silva yang lebih banyak mengeluarkan materi dan energi demi anak-anak bisa sekolah di pedalaman, ia melakukan beberapa hal untuk menopang hidupnya,  seperti mengurus ternak dan usaha berjualan secara kecil-kecilan di rumah yang statusnya masih menumpang di permukiman transmigrasi, mengingat usaha suaminya di luar daerah juga goyah akibat pandemi covid-19.

“Kalau pulang mengajar saya buka usaha jualan kecil-kecilan di rumah dan mengurus ternak agar bisa menutupi kebutuhan hidup sehari-hari, karena usaha suami saya juga mengalami goyah akibat pandemi Covid-19, meski usahanya masih berjalan stagnan,” beber Silva.     

Kepala Dinas Pendidikan Toraja Utara, Martinus Manatin mengapresiasi Silva Paranggai yang telah dengan suka rela memberikan pendidikan kepada anak-anak sekolah di daerah terpencil di Toraja Utara, sayangnya Pemerintah Daerah Toraja Utara memiliki keterbatasan anggaran untuk membiayai fisik sekolah dan kesejahteraan guru honorer.

“Kami mengapresiasi ketika ada orang yang mengabdikan dirinya untuk mengajar tanpa pamrih, kami harus cek karena data Dapodik kami di Dinas Pendidikan belum ada data itu tentang guru yang mengabdi disana bergelar S2 mungkin belum diinput atau bagaimana, tapi apapun itu saya berterima kasih dan memberikan reward yang luar biasa kepada orang yang mengabdikan diri di dunia pendidikan,” ungkap Martinus. 

Martinus menjelaskan jika  pihaknya kesulitan dengan keterbatasan anggaran untuk mengakomodir seluruh tenaga honorer di Toraja Utara.

“Komposisi sekarang jumlah tenaga honorer kami ada 1.181 orang, sementara yang ada SK nya sekitar 843 orang jadi ada selisih 338 orang, kami tidak ingin sebenarnya tenaga pendidik kami ini tidak terakomodir tetapi apa boleh buat karena anggaran kami tidak mencukupi,” terang Martinus.

Previous Post Next Post