SPACE PANJANG

 




PALOPO  – Kirab Keraton se-Nusantara meriahkan pembukaan Festival Keraton Nusantara (FKN) XIII 2019 yang berpusat di Kedatuan Luwu, Palopo, Sulawesi Selatan pada Senin (09/09) Wita.

Ke-26 kerajaan yang mengikuti kirab tersebut antara lain, Kerajaan Adat Marusu, Lembaga Adat Ammaguru Selayar, Kasultanan Bima, Kasultanan Buton, Kerajaan Kagana Palu, Kerajaan Tallo, Keraton Kasultanan Yogyakarta, Kadipaten Pakualaman, Kasultanan Bacan, Kerajaan Muna, Kerajaan Binamu Jeneponto, Tongkonan Datu Bakkaleke Awat Toroau, Kasultanan Waringin Barat-Kalteng, Kerajaan Kebuntaran Talu, Kerajaan Jambu Lipo, Pagaruyung, Sawitto, Kerajaan Suppa, Pemda Gowa, Kerajaan Gowa, Kerajaan Mentawah Amantubillah, Kerajaan Saoraja Bone, Kasultanan Bulungan, Kasultanan Kutai, dan Kerajaan Luwu.

Adapun kirab dimulai dari Lapangan Gaspa lalu melewati pusat Kota Palopo dan berakhir di Lapangan Pancasila yang berada depan Kantor Balaikota Palopo. Sebelum sampai finish, para peserta kirab menampilkan atraksi di hadapan para tamu undangan. Penampilan atraksi yang disuguhkan misalnya atraksi Bregada Trunojoyo/Lawung dari Keraton Yogyakarta dan Bregada Lombok Abang dari Puro Pakualaman. Acara ini mendapatkan antusias yang baik dari masyarakat Palopo dan sekitarnya.

Menurut Wakil Ketua Dewan Adat Luwu, Opu Sauawidi, kirab ini diselenggrakan dengan tujuan agar masyarakat lebih mengenal masing-masing budaya kerajaan nusantara dengan baik.

"Pada akhirnya diharapkan masyarakat akan mencintai budayanya sendiri serta memahami betapa besar kekayaan budaya warisan leluhur yang kemudian diteruskan generasi muda," ujarnya.

Seusai kirab, Gubernur Sulawesi Selatan, Prof. Dr. Ir. H.M. Nurdin Abdullah, bersama dengan Datu Luwu Andi La Maradang Mackulau Opu To Bau bersama permaisuri dan Walikota Palopo HM Judas Amir, beserta anggota Forkopimda setempat menghadiri puncak pembukaan FKN XIII di Lapangan Pancasila, Palopo. Dalam kesempatan tersebut Gubernur Sulawesi Selatan sekaligus membuka gelaran FKN XIII.

Dalam paparannya, Nurdin Abdullah menyerukan pada para raja, sultan dan pemangku adat yang hadir untuk selalu meningkatkan kewasdapadaan dengan kemajuan teknologi informasi agar tidak dimanfaatkan orang-orang yang tidak bertanggung jawab dengan penyebaran berita bohong atau hoaks. "FKN diharapkan juga dapat memecahkan persoalan dan mengantisipasi penyalahgunaan teknologi," ujar Nurdin.

Adapun seluruh raja, pemangku adat dan budaya peserta FKN telah tergabung Forum Komunikasi Informasi Keraton Nusantara (FKIKN). Sekretaris Jenderal FKIKN, GRAY Wandari Koes Murtiyah (Gusti Moeng) dalam kesempatan tersebut mengatakan bahwa festival yang diselenggakan sejak tahun 1995 yang dihadiri sultan, raja dan pemangku adat di Indonesia ini diharapkan mampu menata kehidupan budaya masyarakatnya. "Sebagai lapak budaya masa lalu, keraton harus dipahami masyarakat Indonesia sekarang sebagai aset budaya, pariwisata dan terutama sebagai perekat persatuan dan kesatuan bangsa," jelasnya.

Hal tersebut senada dengan pernyataan yang disampaikan dalam Sambutan Datu Luwu yang dibacakan Opu Pabbicara dari Kedatuan Luwu Drs. H. Muchtar Luthfi A. Mutti. "Sudah saatnya keraton merevitalisasi diri dalam menjaga marwahnya. Selain sebagai penjaga, pelestari, pengembang adat dan budaya, keraton juga harus peka terhadap budaya asing yang masuk," ujarnya.

FKN XIII ini sendiri akan digelar hingga Jumat (13/09) siang yang berpusat di Istana Kedatuan Luwu. Tak hanya menampilkan tarian dan defile prajurit saja, gelaran ini juga menampilkan segala macam benda pusaka, musyarawah, ekspo kerajinan, pesta kuliner, serta koleksi milik keraton yang menjadi peserta. Gelaran ini dapat disaksikan oleh masyarakat umum tanpa dipungut tanap harus melakukan registrasi. (*)
Previous Post Next Post