LUWU – Pemalangan jalan di wilayah Rante Balla, Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan, yang berdampak pada aktivitas operasional PT Masmindo Dwi Area (MDA), turut dirasakan karyawan lokal. Ditengah terganggunya aktivitas kerja, sebagian penghasilan yang biasa mereka terima ikut berkurang, termasuk dari komponen uang lembur.
Kondisi itu dirasakan Ardi Putra Wangsyah, karyawan MDA yang tinggal di Desa Rumaju, Kecamatan Bajo. Selama setahun bekerja sebagai helper spotter, ia mengandalkan penghasilan dari perusahaan untuk memenuhi kebutuhan istri dan anaknya.
Dalam pekerjaannya, Ardi bertugas membantu menjaga keamanan dan kelancaran lalu lintas kendaraan operasional, termasuk LP dan RD yang sedang beraktivitas.
Ardi mengatakan, penghasilannya dalam kondisi normal terdiri atas gaji pokok sekitar Rp 3,9 juta serta uang lembur yang besarannya bergantung pada aktivitas pekerjaan. Namun, ketika pemalangan terjadi dan aktivitas kerja terganggu, ia tidak memperoleh tambahan uang lembur seperti biasanya.
"Kalau ada pemalangan, pengurangan gaji pasti ada karena uang lembur tidak terhitung pada hari itu," kata Ardi.
Berkurangnya penghasilan tersebut membuat keluarga Ardi harus lebih cermat mengatur keuangan rumah tangga. Sebab, pendapatan dari pekerjaannya selama ini digunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, membiayai anak dan istri, serta membayar cicilan.
Mengandalkan hasil kebun
Di tengah berkurangnya pendapatan akibat terganggunya aktivitas perusahaan, Ardi berupaya mencari cara agar kebutuhan istri dan anaknya tetap terpenuhi. Ia mengandalkan hasil kebun yang masih bisa dipanen untuk membantu memenuhi kebutuhan sehari-hari. Namun, upaya itu tidak lepas dari tantangan, terlebih saat musim kemarau panjang yang membuat kondisi pertanian dan perkebunan turut menghadapi keterbatasan.
Ardi mengatakan, hasil kebun menjadi salah satu sumber penopang kebutuhan keluarga ketika penghasilan dari pekerjaan tidak lagi seperti biasanya. Selain itu, ia masih mengandalkan tabungan untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga selama aktivitas perusahaan terganggu. Meski demikian, ia menyadari bahwa tabungan tersebut tidak bisa terus diandalkan jika kondisi ini berlangsung lama, sementara hasil kebun pun belum tentu selalu tersedia di tengah kemarau berkepanjangan.
"Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, saya mengandalkan apa yang masih bisa dihasilkan dari kebun. Namun, ditengah musim kemarau yang berkepanjangan, hasil kebun juga menjadi tantangan tersendiri. Karena itu, saya masih mengandalkan tabungan untuk membantu memenuhi kebutuhan keluarga selama pendapatan dari pekerjaan berkurang," ujar Ardi.
Ardi mengatakan, tabungan yang dimilikinya masih digunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari selama pemalangan berlangsung. Namun, seiring berkurangnya pendapatan, tabungan tersebut perlahan terus terkuras untuk menutupi kebutuhan rumah tangga. Ia berharap simpanan yang tersisa masih cukup untuk bertahan hingga aktivitas perusahaan kembali normal.
Bagi Ardi, persoalan ini bukan sekadar berkurangnya uang yang diterima setiap bulan. Ada kebutuhan keluarga dan kewajiban finansial yang tetap harus dipenuhi, terlepas dari apakah aktivitas pekerjaan berjalan normal atau tidak.
Khawatir jika pemalangan berlangsung lama
Hal yang paling dikhawatirkan Ardi adalah apabila pemalangan terus berlangsung dan mengganggu aktivitas perusahaan dalam waktu yang lebih lama.
Jika kondisi itu berlanjut, ia khawatir penghasilan yang berkurang akan memengaruhi kemampuannya membayar cicilan dan memenuhi kebutuhan keluarga.
Ardi mengaku khawatir jika pemalangan berlangsung lebih lama dan kondisi keuangan keluarganya semakin tertekan. Ia tidak menutup kemungkinan akan meminta bantuan kepada keluarga terdekat atau teman jika suatu saat mengalami kesulitan memenuhi kebutuhan rumah tangga. Karena itu, ia berharap aktivitas perusahaan segera kembali normal agar penghasilannya tetap dapat diandalkan untuk memenuhi kebutuhan istri dan anaknya.
Ardi mengatakan, ketika keluarganya bertanya mengenai kondisi pendapatan, ia berusaha menjelaskan situasi yang sedang terjadi dan meminta mereka bersabar.
Jika penghasilan terus berkurang, ia berencana lebih mengandalkan hasil kebun untuk membantu memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Namun, ia berharap langkah tersebut tidak perlu dilakukan dalam waktu lama. Baginya, bekerja secara normal dan memperoleh penghasilan sebagaimana biasanya merupakan hal penting untuk menjaga keberlangsungan ekonomi keluarganya.
Berharap persoalan segera diselesaikan
Di tengah persoalan pemalangan jalan yang berdampak pada aktivitas operasional MDA, Ardi berharap semua pihak dapat menemukan penyelesaian agar kegiatan perusahaan kembali berjalan normal.
Ia juga berharap persoalan tersebut tidak berlarut-larut dan tidak menimbulkan kerugian bagi masyarakat maupun karyawan yang menggantungkan penghasilan pada pekerjaan mereka.
"Semoga persoalan ini cepat selesai dan tidak ada yang dirugikan. Semoga semua bisa bekerja seperti semula," kata Ardi.
Bagi Ardi, kembalinya aktivitas pekerjaan menjadi harapan agar ia dapat kembali mengandalkan penghasilan dari perusahaan untuk memenuhi kebutuhan istri dan anaknya.
Sementara persoalan pemalangan masih membutuhkan penyelesaian, ia berusaha bertahan dengan mengatur pengeluaran, memanfaatkan tabungan, dan mengandalkan hasil kebun yang tersedia.
Pengalaman Ardi menunjukkan bahwa gangguan aktivitas di kawasan operasional perusahaan dapat berimbas hingga ke kehidupan rumah tangga pekerja. Di balik persoalan akses jalan, ada pula pekerja yang berharap kepastian agar dapat kembali bekerja dan memenuhi kebutuhan keluarganya seperti biasa.

No comments:
Post a Comment