Notification

×

Iklan

INSPIRASI TIMUR INDONESIA

Iklan

Indeks Berita

Asap Karhutla dari Papua Terdeteksi di Luwu Raya

Friday, 16 October 2026 | October 16, 2026 WIB | 0 Views Last Updated 2026-10-16T08:02:39Z

LUWU - Pengamat Meteorologi dan Geofisika (PMG) Stasiun Meteorologi BMKG Andi Jemma Masamba, Luwu Utara, Muhammad Zaqi Fikanza Takdir, mengatakan kabut asap yang menyelimuti Luwu Raya dalam beberapa hari terakhir diduga berkaitan dengan asap kebakaran hutan dan lahan dari wilayah Papua.

Zaqi yang bertugas sebagai observer dan forecaster menjelaskan, pergerakan asap dari Papua mengarah ke barat laut hingga utara. Pergerakan tersebut menyebabkan sejumlah wilayah, termasuk Sulawesi dan Maluku, turut terdampak kabut asap.


“Untuk kabut asap di Luwu Raya beberapa hari belakangan ini disebabkan oleh asap karhutla dari wilayah Papua yang menyebar ke arah barat laut-utara sehingga sebagian wilayah seperti Sulawesi dan Maluku juga terdampak oleh kabut asap tersebut,” kata Zaqi.


Menurut dia, kondisi atmosfer dan arah pergerakan asap menjadi faktor yang perlu diperhatikan untuk memahami penyebaran kabut asap hingga ke wilayah yang berjarak jauh dari sumber kebakaran.


Kabut asap lintas wilayah dapat terbawa oleh aliran angin sehingga dampaknya tidak hanya dirasakan di sekitar lokasi kebakaran. Karena itu, wilayah yang tidak mengalami kebakaran secara langsung pun dapat mengalami penurunan jarak pandang akibat kiriman asap dari daerah lain.


Meski demikian, kondisi kabut asap dapat berubah mengikuti dinamika atmosfer dan pergerakan massa udara. Pemantauan kondisi cuaca serta citra satelit diperlukan untuk melihat perkembangan sebaran asap dan potensi dampaknya terhadap wilayah terdampak.


Kondisi udara mulai membaik

Zaqi mengatakan kondisi udara pada Jumat (16/10/2026) mulai menunjukkan perbaikan dibandingkan hari sebelumnya. Awan mulai terlihat di sejumlah wilayah, meskipun sisa kabut asap masih teramati.


Kondisi tersebut menjadi perkembangan positif setelah kabut asap sempat menyelimuti wilayah Luwu Raya dengan cukup pekat.


Menurut Zaqi, kondisi paling buruk terjadi pada Kamis (15/10/2026). Saat itu, kabut asap yang menyelimuti wilayah tersebut berdampak pada operasional penerbangan karena jarak pandang yang terganggu.


“Untuk kondisi udara paling parah itu terjadi kemarin sehingga beberapa pesawat sempat cancel,” terangnya.


Gangguan penerbangan tersebut menunjukkan bahwa dampak kabut asap tidak hanya dirasakan masyarakat yang beraktivitas di darat. Penurunan jarak pandang juga dapat memengaruhi keselamatan dan kelancaran operasional transportasi udara, bergantung pada kondisi aktual di bandara serta persyaratan keselamatan penerbangan.


Dalam situasi seperti itu, keputusan untuk melanjutkan, menunda, atau membatalkan penerbangan berada pada pihak operasional penerbangan dengan mempertimbangkan kondisi cuaca, jarak pandang, dan ketentuan keselamatan yang berlaku.


Zaqi menambahkan, meskipun kondisi udara mulai membaik, masyarakat tetap perlu mewaspadai kemungkinan kabut asap kembali menyelimuti wilayah Luwu Raya.


Pasalnya, asap dari kebakaran hutan dan lahan di Papua maupun sumber kebakaran di sekitar Luwu Raya masih terdeteksi melalui citra satelit.


Keberadaan titik panas atau indikasi kebakaran serta sebaran asap yang terpantau melalui satelit menjadi salah satu informasi penting dalam pemantauan kondisi lingkungan. Namun, titik panas tidak selalu berarti kebakaran aktif, sehingga tetap diperlukan analisis lebih lanjut untuk memastikan kondisi di lapangan.


Masyarakat diminta mengantisipasi paparan asap

Di tengah kondisi tersebut, pembagian masker yang dilakukan PT BMS menjadi salah satu upaya untuk membantu masyarakat menghadapi dampak kabut asap saat beraktivitas di luar ruangan.


Masyarakat yang harus bepergian atau bekerja di luar rumah diimbau memperhatikan perkembangan informasi cuaca dan kualitas udara dari sumber resmi. Apabila kabut asap kembali menebal, aktivitas luar ruangan yang tidak mendesak sebaiknya dikurangi.


Penggunaan masker yang mampu menyaring partikel halus, seperti respirator berstandar N95 atau KN95 yang digunakan dengan benar, dapat membantu mengurangi paparan partikel asap. Masker kain atau masker medis biasa tidak memberikan tingkat perlindungan yang setara terhadap partikel halus.


Kelompok rentan, seperti anak-anak, lanjut usia, ibu hamil, serta masyarakat yang memiliki gangguan pernapasan atau penyakit jantung, perlu memberikan perhatian lebih terhadap paparan asap.


Apabila mengalami keluhan seperti sesak napas, nyeri dada, atau gangguan pernapasan yang memburuk, masyarakat perlu mencari pertolongan medis.


Upaya pembagian masker diharapkan dapat membantu masyarakat menjalankan aktivitas sehari-hari dengan lebih terlindungi selama kabut asap masih berpotensi terjadi.


Sementara itu, perkembangan kondisi udara di Luwu Raya masih perlu dipantau seiring kemungkinan perubahan arah angin dan keberadaan sumber kebakaran di sejumlah wilayah.


Perbaikan kondisi udara pada Jumat menjadi perkembangan yang menggembirakan. Namun, selama asap masih terdeteksi, kewaspadaan dan langkah pencegahan tetap diperlukan untuk mengurangi dampak kabut asap terhadap kesehatan masyarakat maupun aktivitas transportasi.

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update