LUWU – PT Bumi Mineral Sulawesi (BMS) membagikan masker kepada masyarakat dan pengguna jalan di Kecamatan Bua, Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan, sebagai upaya membantu mengurangi risiko paparan asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang menyelimuti wilayah Luwu Raya dalam beberapa hari terakhir.
Aksi pembagian masker tersebut mulai
dilakukan pada Rabu (14/10/2026). Perusahaan turun langsung ke jalan untuk
membagikan masker kepada pengendara dan masyarakat yang beraktivitas di luar
rumah, terutama di tengah kondisi udara yang masih terdampak kabut asap.
Site Manager PT BMS, Muh. Aldin,
mengatakan pembagian masker pada hari pertama dipusatkan di perempatan lampu
merah Kecamatan Bua, Kabupaten Luwu.
“Pembagian masker dipusatkan di
perempatan lampu merah Kecamatan Bua, Kabupaten Luwu,” kata Aldin.
Menurut Aldin,
kegiatan tersebut merupakan bentuk kepedulian perusahaan terhadap masyarakat
yang beraktivitas di tengah kondisi udara berkabut akibat asap.
Pembagian masker juga menyasar
masyarakat yang bermukim di sekitar area pabrik smelter
serta sejumlah sekolah di Kabupaten Luwu.
Langkah tersebut dilakukan untuk
membantu masyarakat mengurangi paparan partikel halus yang terkandung dalam
asap, terutama bagi warga yang memiliki mobilitas tinggi dan harus menjalankan
aktivitas sehari-hari di luar ruangan.
“Kami harapkan ini dapat membantu
masyarakat mengurangi risiko paparan partikel halus yang terkandung dalam asap,
terutama bagi mereka yang setiap hari harus beraktivitas di luar ruangan,” ucap
Aldin.
Pembagian masker ini dilakukan ketika
kabut asap masih menjadi perhatian masyarakat di sejumlah wilayah Luwu Raya.
Kondisi tersebut tidak hanya mengganggu kenyamanan warga saat beraktivitas,
tetapi juga berpotensi memengaruhi jarak pandang dan kelancaran transportasi.
PT BMS adalah perusahaan pengolahan mineral nikel di bawah Kalla
Group yang telah mengoperasikan smelter feronikel dan sedang membangun smelter
nikel sulfat untuk baterai. Perusahaan ini berkomitmen untuk bertanggung jawab
secara sosial, seperti penanganan sampah dan pemberdayaan masyarakat melalui
rekrutmen tenaga kerja lokal.
Asap
karhutla dari Papua terdeteksi di Luwu Raya
Pengamat Meteorologi dan Geofisika
(PMG) Stasiun Meteorologi BMKG Andi Jemma Masamba, Luwu Utara, Muhammad Zaqi
Fikanza Takdir, mengatakan kabut asap yang menyelimuti Luwu Raya dalam beberapa
hari terakhir diduga berkaitan dengan asap kebakaran hutan dan lahan dari
wilayah Papua.
Zaqi yang bertugas sebagai observer
dan forecaster menjelaskan, pergerakan asap dari Papua mengarah ke barat
laut hingga utara. Pergerakan tersebut menyebabkan sejumlah wilayah, termasuk
Sulawesi dan Maluku, turut terdampak kabut asap.
“Untuk kabut asap di Luwu Raya
beberapa hari belakangan ini disebabkan oleh asap karhutla dari wilayah Papua
yang menyebar ke arah barat laut-utara sehingga sebagian wilayah seperti
Sulawesi dan Maluku juga terdampak oleh kabut asap tersebut,” kata Zaqi.
Menurut dia, kondisi atmosfer dan
arah pergerakan asap menjadi faktor yang perlu diperhatikan untuk memahami
penyebaran kabut asap hingga ke wilayah yang berjarak jauh dari sumber
kebakaran.
Kabut asap lintas wilayah dapat
terbawa oleh aliran angin sehingga dampaknya tidak hanya dirasakan di sekitar
lokasi kebakaran. Karena itu, wilayah yang tidak mengalami kebakaran secara
langsung pun dapat mengalami penurunan jarak pandang akibat kiriman asap dari
daerah lain.
Meski demikian, kondisi kabut asap
dapat berubah mengikuti dinamika atmosfer dan pergerakan massa udara.
Pemantauan kondisi cuaca serta citra satelit diperlukan untuk melihat
perkembangan sebaran asap dan potensi dampaknya terhadap wilayah terdampak.
Kondisi
udara mulai membaik
Zaqi mengatakan kondisi udara pada
Jumat (16/10/2026) mulai menunjukkan perbaikan dibandingkan hari sebelumnya.
Awan mulai terlihat di sejumlah wilayah, meskipun sisa kabut asap masih
teramati.
Kondisi tersebut menjadi
perkembangan positif setelah kabut asap sempat menyelimuti wilayah Luwu Raya
dengan cukup pekat.
Menurut Zaqi, kondisi paling buruk
terjadi pada Kamis (15/10/2026). Saat itu, kabut asap yang menyelimuti wilayah
tersebut berdampak pada operasional penerbangan karena jarak pandang yang
terganggu.
“Untuk kondisi udara paling parah
itu terjadi kemarin sehingga beberapa pesawat sempat cancel,” terangnya.
Gangguan penerbangan tersebut
menunjukkan bahwa dampak kabut asap tidak hanya dirasakan masyarakat yang
beraktivitas di darat. Penurunan jarak pandang juga dapat memengaruhi
keselamatan dan kelancaran operasional transportasi udara, bergantung pada
kondisi aktual di bandara serta persyaratan keselamatan penerbangan.
Dalam situasi seperti itu, keputusan
untuk melanjutkan, menunda, atau membatalkan penerbangan berada pada pihak
operasional penerbangan dengan mempertimbangkan kondisi cuaca, jarak pandang,
dan ketentuan keselamatan yang berlaku.
Zaqi menambahkan, meskipun kondisi
udara mulai membaik, masyarakat tetap perlu mewaspadai kemungkinan kabut asap
kembali menyelimuti wilayah Luwu Raya.
Pasalnya, asap dari kebakaran hutan
dan lahan di Papua maupun sumber kebakaran di sekitar Luwu Raya masih
terdeteksi melalui citra satelit.
Keberadaan titik panas atau indikasi
kebakaran serta sebaran asap yang terpantau melalui satelit menjadi salah satu
informasi penting dalam pemantauan kondisi lingkungan. Namun, titik panas tidak
selalu berarti kebakaran aktif, sehingga tetap diperlukan analisis lebih lanjut
untuk memastikan kondisi di lapangan.
Masyarakat
diminta mengantisipasi paparan asap
Di tengah kondisi tersebut,
pembagian masker yang dilakukan PT BMS menjadi salah satu upaya untuk membantu
masyarakat menghadapi dampak kabut asap saat beraktivitas di luar ruangan.
Masyarakat yang harus bepergian atau
bekerja di luar rumah diimbau memperhatikan perkembangan informasi cuaca dan
kualitas udara dari sumber resmi. Apabila kabut asap kembali menebal, aktivitas
luar ruangan yang tidak mendesak sebaiknya dikurangi.
Penggunaan masker yang mampu
menyaring partikel halus, seperti respirator berstandar N95 atau KN95 yang
digunakan dengan benar, dapat membantu mengurangi paparan partikel asap. Masker
kain atau masker medis biasa tidak memberikan tingkat perlindungan yang setara
terhadap partikel halus.
Kelompok rentan, seperti anak-anak,
lanjut usia, ibu hamil, serta masyarakat yang memiliki gangguan pernapasan atau
penyakit jantung, perlu memberikan perhatian lebih terhadap paparan asap.
Apabila mengalami keluhan seperti
sesak napas, nyeri dada, atau gangguan pernapasan yang memburuk, masyarakat
perlu mencari pertolongan medis.
Upaya pembagian masker diharapkan
dapat membantu masyarakat menjalankan aktivitas sehari-hari dengan lebih
terlindungi selama kabut asap masih berpotensi terjadi.
Sementara itu, perkembangan kondisi
udara di Luwu Raya masih perlu dipantau seiring kemungkinan perubahan arah
angin dan keberadaan sumber kebakaran di sejumlah wilayah.
Perbaikan kondisi udara pada Jumat
menjadi perkembangan yang menggembirakan. Namun, selama asap masih terdeteksi,
kewaspadaan dan langkah pencegahan tetap diperlukan untuk mengurangi dampak
kabut asap terhadap kesehatan masyarakat maupun aktivitas transportasi.

No comments:
Post a Comment