Tradisi Mallekke Wai Warnai Hari Jadi ke-67 Luwu, Simbol Pelestarian Budaya Leluhur

LUWU – Ada yang berbeda dalam rangkaian peringatan Hari Jadi Kabupaten Luwu ke-67. Di tengah semarak perayaan, Pemerintah Kabupaten Luwu kembali menghadirkan prosesi adat Mallekke Wai, sebuah ritual sakral yang mengajak masyarakat menelusuri jejak sejarah sekaligus merawat warisan budaya Tana Luwu.



Prosesi yang digelar oleh Pemerintah Kabupaten Luwu melalui Dinas Pariwisata itu berlangsung di Baruga Arung Senga, Kecamatan Belopa, Kamis (2/7/2026). Ritual tersebut menjadi simbol penghormatan terhadap nilai-nilai adat yang tetap dijaga di tengah perkembangan zaman.


Kegiatan dimulai sekitar pukul 09.00 WITA dan dihadiri Wakil Bupati Luwu Muh. Dhevy Bijak Pawindu, Ketua DPRD Luwu Ahmad Gazali beserta jajaran, Sekretaris Daerah Kabupaten Luwu Muh. Rudi, para kepala perangkat daerah, tokoh adat, serta masyarakat yang antusias menyaksikan jalannya prosesi.


Mallekke Wai merupakan salah satu tradisi adat khas Tana Luwu yang memiliki makna filosofis mendalam. Air yang digunakan dalam ritual diambil dari Bubung Parani atau Sumur Arung Senga, yang diyakini sebagai tempat pemandian Opu Senga pada masa lampau.


Hingga kini, air dari sumur tersebut masih dianggap suci dan kerap digunakan dalam berbagai ritual adat masyarakat Luwu sebagai simbol kesucian, keberkahan, dan keberlangsungan kehidupan.


Pelaksanaan ritual pada pagi hari juga memiliki makna tersendiri. Waktu tersebut melambangkan harapan agar masyarakat Luwu terus bertumbuh, maju, dan sejahtera, sebagaimana matahari yang terbit dari ufuk timur membawa cahaya bagi kehidupan.


Prosesi pengambilan air dilakukan melalui tata cara adat yang khidmat. Setelah itu, air suci diarak menggunakan Sinrangeng Lakko, yakni usungan adat yang dipangku oleh seorang gadis remaja yang belum aqil balig sebagai lambang kesucian.


Arak-arakan tersebut diiringi Palluru Gau, berupa berbagai instrumen dan atribut upacara adat, serta dipimpin para pemangku adat yang mengawal jalannya prosesi hingga menuju Baruga Arung Senga.


Sesampainya di lokasi, air suci kemudian ditempatkan di atas Lamming Pulaweng atau Singgasana Kehormatan sebagai puncak dari rangkaian ritual Mallekke Wai.


Bagi masyarakat Luwu, prosesi ini bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan pengingat bahwa pembangunan daerah harus berjalan beriringan dengan pelestarian budaya. Tradisi tersebut juga menjadi media edukasi bagi generasi muda agar mengenal, menghargai, dan meneruskan nilai-nilai luhur warisan leluhur.


Melalui prosesi Mallekke Wai, peringatan Hari Jadi Kabupaten Luwu ke-67 tidak hanya dimaknai sebagai bertambahnya usia daerah, tetapi juga menjadi momentum memperkuat komitmen bersama dalam menjaga identitas budaya sebagai kekayaan dan kebanggaan masyarakat Tana Luwu.

Previous Post Next Post