Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Sereh Wangi Ubah Lahan Pascabanjir di Desa Pulu Menjadi Sumber Ekonomi Baru

| July 23, 2026 WIB | 0 Views

SIGI - Lahan yang sebelumnya tertutup hamparan pasir akibat banjir di Desa Pulu, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, kini mulai kembali produktif. Melalui budidaya sereh wangi, masyarakat tidak hanya memulihkan kondisi lingkungan, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru berbasis produk bernilai tambah.


Inisiatif tersebut bermula dari upaya memulihkan lahan yang rusak akibat banjir berulang pascagempa dan hujan ekstrem yang melanda wilayah tersebut. Desa Pulu menjadi salah satu kawasan yang mengalami kerusakan cukup parah, dengan tanah pertanian berubah menjadi hamparan pasir sehingga tidak lagi produktif untuk ditanami.


Data menunjukkan, banjir yang terjadi pada periode 2020 hingga 2021 berdampak kepada sekitar 1.365 warga. Bencana tersebut menyebabkan hasil pertanian merosot drastis dengan tingkat kerugian yang dirasakan masyarakat mencapai hampir 70 persen. Kondisi itu membuat banyak petani kehilangan sumber penghidupan.


Melihat situasi tersebut, Direktur Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Pulu sekaligus pendiri usaha Lana Tumbavani, Dilah Sahim, mulai mencari solusi yang tidak hanya mampu memulihkan lahan, tetapi juga memberikan manfaat jangka panjang bagi masyarakat.


Ia memilih menanam sereh wangi, bukan semata sebagai komoditas pertanian, melainkan sebagai tanaman restoratif yang mampu tumbuh di lahan berpasir dan miskin unsur hara.


Sistem perakaran sereh wangi dinilai efektif memperkuat struktur tanah. Bersama tanaman bambu, sereh wangi dimanfaatkan untuk mengurangi erosi sekaligus membantu memperkuat bantaran sungai sehingga risiko kerusakan akibat banjir dapat ditekan.


"Di awal kami tidak berpikir soal bisnis sama sekali. Yang penting lahan aman dan tidak semakin rusak, soal ekonomi itu datang belakangan," ujar Dilah.


Berawal dari Pemulihan Lingkungan


Seiring membaiknya kondisi lahan, masyarakat mulai melihat potensi ekonomi dari tanaman tersebut. Daun sereh wangi kemudian diolah melalui proses penyulingan menjadi minyak esensial yang memiliki nilai jual tinggi sebagai bahan baku produk spa, aromaterapi, hingga perawatan tubuh.


Usaha itu berkembang dengan nama Lana Tumbavani, yang dalam bahasa Kaili berarti minyak sereh.


Namun, proses produksinya tidak mudah. Tanaman sereh wangi membutuhkan waktu sekitar delapan bulan sebelum panen perdana. Setelah itu, panen dapat dilakukan setiap tiga bulan sekali.


Produktivitasnya juga relatif rendah. Dari sekitar 200 kilogram daun sereh wangi hanya dihasilkan sekitar 200 mililiter minyak esensial murni tanpa tambahan bahan sintetis maupun pewangi buatan. Keterbatasan hasil tersebut justru menjadi keunggulan karena menghasilkan minyak berkualitas tinggi.


Selain minyak esensial, Lana Tumbavani kini memproduksi berbagai produk turunan seperti minyak pijat, sabun herbal berbahan daun kelor lokal, lilin aromaterapi berbahan lilin lebah, hingga parfum padat.


Pada 2024, skala produksinya memang masih tergolong kecil. Namun kualitas produk berhasil menarik perhatian pembeli dari berbagai negara seperti Malaysia, Nepal, hingga Amerika Serikat.


Didampingi Gampiri Interaksi


Pertumbuhan usaha tersebut mendapat pendampingan melalui Program Inkubasi GIAT 2.0 yang dijalankan Gampiri Interaksi.


Pendampingan difokuskan pada penguatan model bisnis, mulai dari penyusunan struktur biaya produksi, strategi penetapan harga, peningkatan kapasitas usaha hingga kesiapan memasuki pasar yang lebih luas.


Perwakilan Gampiri Interaksi, Nedya Sinintha Maulaning, mengatakan pihaknya melihat Lana Tumbavani sebagai contoh nyata penerapan ekonomi restoratif.


"Kami melihat ini sebagai praktik ekonomi restoratif, bukan bisnis konvensional. Alam dipulihkan, masyarakat bergerak, dan produk punya nilai yang jelas. Kalau salah satu dilepas, model ini runtuh," kata Nedya.


Menurutnya, pendekatan tersebut berbeda dari pola pembangunan yang selama ini lebih menitikberatkan pada eksploitasi sumber daya alam.


"Biasanya alam diperas dulu, baru ekonomi dibagi. Di sini justru alam dipulihkan dulu, baru ekonomi tumbuh. Itu yang membuatnya lebih tahan lama," ujarnya.


Menjadi Contoh Ekonomi Restoratif


Hingga kini, penanaman sereh wangi telah membantu menstabilkan lahan seluas kurang dari satu hektare yang sebelumnya dianggap tidak produktif. Berdasarkan pengamatan masyarakat, kondisi bantaran sungai juga mulai lebih stabil sehingga risiko banjir di beberapa titik berkurang.


Dilah menegaskan bahwa keberhasilan usaha tersebut tidak dapat dipisahkan dari keberhasilan memulihkan lingkungan.


"Kalau lingkungannya tidak pulih, tidak akan ada produk, dan tidak akan ada pendapatan. Yang kami lakukan hanya membuktikan bahwa merawat alam bisa langsung berdampak ke ekonomi warga," katanya.


Praktik yang dilakukan Desa Pulu kini menjadi bagian dari pengembangan ekonomi restoratif yang didorong Lingkar Temu Kabupaten Lestari (LTKL). Melalui pendekatan tersebut, pemulihan lingkungan ditempatkan sebagai fondasi utama untuk menciptakan pertumbuhan ekonomi desa yang berkelanjutan.


Model yang diterapkan Lana Tumbavani menunjukkan bahwa lahan yang sebelumnya rusak akibat bencana dapat kembali produktif dan menghasilkan nilai ekonomi apabila proses pemulihan alam menjadi titik awal pembangunan.

×
Berita Terbaru Update