LUWU – Tangan Yeni (48) masih gemetar saat menatap lampu yang baru saja menyala di rumahnya. Cahaya putih itu perlahan memenuhi setiap sudut bangunan sederhana berukuran sekitar 3 x 4 meter yang selama ini menjadi tempat tinggalnya bersama sang suami, Mursalim (45), dan putra mereka, Muhammad Ghibran (7).
Untuk pertama kalinya, rumah bekas dapur pengolahan gula aren di Dusun Minanga Tallu, Desa Tanjong, Kecamatan Bua Ponrang (Bupon), Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan, diterangi aliran listrik.
Selama
ini, keluarga kecil itu menjalani malam hanya dengan cahaya pelita berbahan
bakar minyak tanah atau lampu sederhana yang bersumber dari aki sepeda motor.
Kini, suasananya berubah.
Cahaya
lampu listrik menerangi ruang utama rumah, memantul di dinding papan yang mulai
lapuk, hingga menyinari halaman depan. Dari kejauhan, rumah yang sebelumnya
selalu tenggelam dalam gelap itu akhirnya tampak terang.
Melihat
perubahan itu, Yeni tak kuasa membendung air mata. Perempuan yang selama ini
menjalani hidup dalam segala keterbatasan itu menangis haru. Bukan karena
kesedihan, melainkan rasa syukur setelah penantian panjang keluarganya akhirnya
berbuah kebahagiaan.
"Terima
kasih, Pak PLN. Rumah kami sudah terang. Ini yang kami tunggu-tunggu selama
ini," kata Yeni sambil mengusap air matanya.
Di
sampingnya, Mursalim hanya tersenyum. Bagi pasangan suami istri itu, hadirnya
listrik merupakan impian sederhana yang selama ini terasa sulit diwujudkan.
Selama
ini, setiap malam mereka harus menghemat minyak tanah agar pelita tetap bisa
menyala. Ketika minyak habis atau aki sepeda motor tidak lagi memiliki daya,
aktivitas keluarga otomatis berhenti lebih cepat karena rumah kembali
diselimuti kegelapan.
Kini
keadaan itu berubah setelah PT PLN (Persero) melalui Yayasan Baitul Maal (YBM)
PLN memberikan bantuan sambungan listrik gratis kepada keluarga tersebut.
Bantuan
itu datang setelah kisah perjuangan Yeni dan Mursalim yang tinggal di rumah
bekas dapur gula aren menjadi perhatian publik dan mendapat respons dari
berbagai pihak.
Tak
hanya listrik, keluarga ini juga menerima bantuan sembako, perlengkapan tidur,
hingga bantuan dana dari sejumlah dermawan.
Dengan
suara lirih, Yeni menyampaikan rasa terima kasih kepada semua pihak yang telah
membantu keluarganya.
"Terima
kasih kepada Pak Unru Baso selaku Anggota DPR RI, Dinas Sosial Kabupaten Luwu,
Kepala Desa, dan semua yang sudah membantu kehidupan kami," ucapnya.
Bagi
Yeni, bantuan yang diterima bukan hanya meringankan beban ekonomi keluarga.
Lebih dari itu, perhatian dari banyak orang membuat dirinya merasa tidak lagi
berjuang sendirian menghadapi kerasnya kehidupan.
Di
bawah cahaya lampu yang kini menerangi rumah mereka, Muhammad Ghibran dapat
belajar dengan lebih nyaman pada malam hari. Mursalim pun tidak lagi harus
menyiapkan pelita setiap kali matahari terbenam.
Malam itu menjadi malam yang
berbeda bagi keluarga kecil tersebut.
Lampu
yang menyala mungkin hanya sebuah fasilitas sederhana bagi sebagian orang.
Namun bagi Yeni dan Mursalim, cahaya itu menjadi simbol harapan baru di tengah
keterbatasan, kepedulian masih ada, dan uluran tangan banyak orang mampu
mengubah kehidupan sebuah keluarga.
Rumah
sederhana yang dulu hanya diterangi temaram pelita kini telah bercahaya.
Bersamaan dengan itu, harapan Yeni dan Mursalim untuk menatap masa depan yang
lebih baik perlahan ikut menyala.
Penyalaan
listrik gratis tersebut dilakukan PT PLN (Persero) melalui Yayasan Baitul Maal
(YBM) PLN sebagai bentuk kepedulian insan PLN terhadap masyarakat prasejahtera.
Manajer
PLN UP3 Palopo, Yekti Kurniawan, menyatakan bantuan tersebut merupakan hasil
kepedulian para pegawai PLN yang dihimpun melalui YBM PLN untuk membantu masyarakat
memperoleh akses listrik yang layak.
"Alhamdulillah,
hari ini keluarga Bapak Mursalim akhirnya dapat menikmati listrik di rumahnya.
Bantuan ini berasal dari kepedulian insan PLN yang disalurkan melalui Yayasan
Baitul Maal (YBM) PLN," kata Yekti, Kamis (2/7/2026).
Menurut
Yekti, kehadiran listrik diharapkan tidak hanya memberikan penerangan bagi
rumah Mursalim, tetapi juga membawa perubahan positif bagi kehidupan
keluarganya.
"Kami
berharap kehadiran listrik tidak hanya menerangi rumah, tetapi juga membawa
semangat baru bagi keluarga untuk menjalani kehidupan yang lebih baik. Semoga
anak-anak dapat belajar dengan lebih nyaman, aktivitas sehari-hari menjadi
lebih mudah, dan listrik ini menjadi awal dari harapan serta kesempatan yang
lebih besar bagi keluarga," ujarnya.
Ia
menambahkan, berbagai program sosial yang dijalankan YBM PLN merupakan bentuk
nyata kepedulian pegawai PLN kepada masyarakat yang membutuhkan.
"Melalui
YBM PLN, semangat berbagi para pegawai PLN diwujudkan dalam berbagai program
sosial yang memberikan manfaat langsung kepada masyarakat," katanya.
Sementara
itu, Ketua Yayasan Baitul Maal (YBM) PLN UP3 Palopo, Bramanto Suryanto,
mengatakan pihaknya akan terus berupaya menghadirkan manfaat bagi masyarakat
prasejahtera, salah satunya melalui program bantuan sambungan listrik gratis.
"Kami
percaya bahwa kebahagiaan akan semakin bermakna ketika dapat dibagikan kepada
sesama. Melalui YBM PLN, kami ingin terus menghadirkan manfaat nyata bagi
masyarakat yang membutuhkan, salah satunya melalui bantuan sambungan listrik
gratis bagi keluarga prasejahtera," ujar Bramanto.
Ia
berharap semakin banyak keluarga yang dapat merasakan manfaat kehadiran listrik
di rumah mereka.
"Mudah-mudahan
semakin banyak rumah yang dapat diterangi dan semakin banyak keluarga yang
merasakan manfaat dari hadirnya listrik," terangnya.
Kisah
keluarga Mursalim sebelumnya menjadi perhatian publik setelah diberitakan
tinggal di sebuah rumah bekas dapur gula aren berukuran sekitar 3 x 4 meter
tanpa aliran listrik. Selama lebih dari setahun, keluarga tersebut menjalani
aktivitas pada malam hari dengan penerangan pelita dan lampu sederhana yang
menggunakan aki sepeda motor.
Setelah
kisah mereka viral, berbagai bentuk kepedulian mulai berdatangan. Selain
bantuan pemasangan listrik gratis dari PLN melalui YBM PLN, keluarga Mursalim
juga menerima bantuan sembako dari Polsek Bupon serta bantuan kebutuhan pokok,
perlengkapan tidur, dan dana dari Anggota DPR RI Komisi VI, Unru Baso.
Kini,
cahaya lampu yang menyala di rumah sederhana itu menjadi simbol harapan baru
bagi keluarga Mursalim. Bagi putra mereka, Muhammad Ghibran, yang baru duduk di
bangku sekolah dasar, kehadiran listrik menjadi kesempatan untuk belajar dengan
lebih nyaman pada malam hari, sesuatu yang selama ini hanya bisa dilakukan di
bawah temaram cahaya pelita.
