PALOPO - Warga Muhammadiyah di Kota Palopo, Sulawesi Selatan, merayakan Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriah pada Jumat (20/3/2026) pagi. Pelaksanaan salat Id berlangsung di sejumlah titik, dengan salah satu lokasi terpusat di Kampus Universitas Muhammadiyah Palopo.
Sejak
pagi, ribuan jemaah telah memadati area kampus. Mereka datang dari berbagai
penjuru kota, memenuhi ruang dalam gedung hingga meluber ke halaman masjid
kampus. Jemaah yang hadir pun beragam, mulai dari anak-anak hingga orang tua,
menciptakan suasana khidmat dan penuh kebersamaan.
Meski
terdapat perbedaan waktu pelaksanaan Idul Fitri dengan pemerintah, jalannya
ibadah tetap berlangsung lancar dan tertib.
Usai pelaksanaan salat,
jemaah saling bersalaman dan bermaaf-maafan. Momen ini menjadi simbol
kemenangan setelah menjalani ibadah puasa selama bulan Ramadan.
Tokoh Muhammadiyah yang juga mantan Wakil Wali Kota Palopo periode
2018–2023, Rahmat Masri Bandaso, yang turut hadir dalam pelaksanaan salat Id,
mengajak masyarakat menjadikan perbedaan sebagai ruang untuk memperkuat
persaudaraan.
“Idul
Fitri tahun ini harus menjadi momentum untuk meningkatkan ukhuwah Islamiah.
Meski ada perbedaan pelaksanaan, kita harus saling menghargai, menjaga
kondusivitas, dan mempererat silaturahmi,” kata Rahmat,
Jumat.
Rahmat juga
menyampaikan bahwa tradisi open house tetap dilakukan sebagai bagian dari upaya
menjaga hubungan sosial di tengah masyarakat.
“Kami
tetap open house seperti biasa,” ucapnya.
Dalam khutbahnya, khatib Imam
Pribadi mengingatkan pentingnya menjadikan Idul Fitri sebagai sarana
introspeksi diri, sekaligus meningkatkan kepedulian sosial antar sesama.
Menurut
Imam, Idul Fitri
tidak hanya berbicara tentang hubungan manusia dengan Tuhan, tetapi juga
hubungan antarsesama manusia.
“Momentum
puasa dan Idul Fitri ini harus kita maknai sebagai upaya memperbaiki hubungan
vertikal kepada Allah SWT dan hubungan horizontal kepada sesama manusia,” ujar
Imam.
Imam juga menegaskan
bahwa Kampus Universitas Muhammadiyah Palopo sejak awal berdiri telah menjadi
pusat pelaksanaan salat Id bagi warga Muhammadiyah di Kota Palopo.
“Tahun
ini, jumlah jemaah yang hadir melebihi ekspektasi panitia, menunjukkan
tingginya antusiasme masyarakat,” tuturnya.
Selain di kampus, pelaksanaan salat Idul Fitri Muhammadiyah di Palopo juga digelar di 10 titik yang tersebar di sejumlah kecamatan, seperti Bara, Wara Timur, Wara Selatan, dan Telluwanua.
Imam
Pribadi mengimbau masyarakat untuk tetap menjaga persatuan di tengah adanya
perbedaan penentuan hari raya.
“Perbedaan
ini tidak boleh membuat kita terpecah. Justru harus menjadi penguat untuk tetap
saling menghormati, terutama kepada saudara-saudara kita yang masih menjalankan
ibadah puasa,” jelasnya.
Salah seorang jemaah, Naifah,
mengaku bersyukur dapat merayakan Idul Fitri tahun ini dengan penuh
kebahagiaan.
“Semoga
silaturahmi yang sempat terputus bisa kembali terjalin. Kita saling memaafkan
dan menjaga kebersamaan,” ungkap Naifah.
Naifah menambahkan,
tradisi Lebaran di rumah tetap dijalankan seperti biasa, dengan hidangan khas umunya
masyarakat Kota Palopo.
“Seperti biasa ada
ketupat, buras, serta
opor ayam. Kalau Buras kan menjadi
ciri khas masyarakat Palopo, jadi tetap ada,” imbuhnya.
Naifah
juga mengingatkan masyarakat, khususnya yang melakukan perjalanan mudik, agar
tetap berhati-hati di jalan serta menjaga sikap saling menghargai di tengah
perbedaan waktu perayaan Idul Fitri.
“Walaupun kita berbeda dalam pelaksanaan, semoga kita tetap saling mendukung dan tidak menjadikan perbedaan sebagai pemecah persatuan,” ujarnya.
