LUWU – Kabar insiden kapal Mussafah II di perairan Selat Hormuz menyisakan kecemasan mendalam bagi keluarga Sirajuddin, salah satu kru kapal yang berasal dari Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan.
Selain Kapten Miswar Maturusi, Sirajuddin tercatat sebagai warga Kabupaten Luwu yang berada di kapal tersebut saat insiden terjadi. Ia merupakan Chief Engineer kapal Mussafah II dan berasal dari Desa Temboe, Kecamatan Larompong Selatan.
Rumah Sirajuddin berada tepat di depan Kantor Desa Temboe, sekitar 30 menit perjalanan dari ibu kota Kabupaten Luwu, Belopa. Sejak kabar ledakan kapal itu beredar, keluarga terus menunggu perkembangan informasi dengan penuh harap.
Istri Sirajuddin, Sri Dwi Aisyah, mengatakan komunikasi terakhir dengan suaminya terjadi pada Kamis (5/3/2026). Percakapan itu kini menjadi kenangan yang terus terngiang di benaknya.
Dalam percakapan terakhir tersebut, Sirajuddin berpamitan kepada istrinya karena akan berlayar menuju Selat Hormuz untuk menarik kapal.
“Hari Kamis itu dia bilang, ‘Ma, sehari mau perjalanan, tidak ada sinyal karena mau berlayar tarik kapal ke Selat Hormuz’. Dia juga sempat video call dengan anaknya yang kecil,” kata Sri saat ditemui di rumahnya di Jalan Poros Makassar–Palopo, Senin (9/3/2026) sore.
Sirajuddin dan Sri dikaruniai dua anak perempuan, yakni Najwa Ajlea dan Azkaira Nur Malaika.
Sri menuturkan, dalam percakapan terakhirnya, sang suami juga sempat menyampaikan pesan kepada anak bungsunya.
“Kalau Mama salat, ikut juga salat ya,” ujar Sri dengan suara lirih sambil menahan tangis.
Ia mengaku pertama kali mengetahui kabar insiden kapal tersebut dari seorang teman sekolah suaminya yang datang ke rumah.
“Teman SD-nya datang tanya, benar kah nama suami ta Sirajuddin? Pas saya bilang iya benar, dia bilang ‘Sabar ya Bu, ada musibah’,” tuturnya.
Sejak saat itu, keluarga terus memantau perkembangan informasi dari Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) terkait proses pencarian korban.
Sri berharap pihak perusahaan Abu Dhabi Ports bertanggung jawab penuh atas insiden tersebut dan memastikan proses pencarian terus dilakukan.
“Harapan saya dia selamat dan cepat ditemukan dalam keadaan baik-baik saja. Harus dicari terus sampai dapat,” kata Sri.
Kepala Desa Temboe, Abdul Azis, mengatakan Sirajuddin dikenal sebagai sosok yang aktif bersosialisasi dengan warga di kampung halamannya.
Menurut dia, setiap kali pulang ke desa, Sirajuddin sering meluangkan waktu untuk bermain sepak bola bersama warga di lapangan yang berada tidak jauh dari rumahnya.
“Kalau ada anak-anak minta sumbangan untuk urusan bola, pasti dikasih. Dia aktif bersosialisasi ke masyarakat,” ujar Abdul Azis.
Ia juga mengungkapkan bahwa Sri Dwi Aisyah sempat datang ke rumahnya setelah mendengar kabar insiden tersebut.
“Waktu itu hari Jumat, langsung saya sampaikan di Masjid Temboe agar jemaah sempatkan mengirim doa untuk keselamatan keluarga kita,” katanya.
Sementara itu, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri RI Yvonne Mewengkang mengatakan insiden kapal tersebut terjadi pada Jumat (6/3/2026) sekitar pukul 02.00 waktu setempat.
Lokasinya berada di perairan Selat Hormuz yang terletak di antara wilayah Persatuan Emirat Arab dan Oman.
“Pada 6 Maret 2026, Kementerian Luar Negeri melalui KBRI Abu Dhabi dan KBRI Muscat menerima laporan terkait insiden yang menimpa satu tugboat bernama Musafa II berbendera Persatuan Emirat Arab,” kata Yvonne dalam pernyataan resmi yang dikutip Senin (9/3/2026).
Kapal tersebut diketahui membawa tujuh awak kapal, termasuk empat warga negara Indonesia yang bekerja sebagai anak buah kapal, serta enam teknisi, di antaranya satu WNI.
Saat insiden terjadi, kapal Mussafah II sedang melakukan pengecekan terhadap kapal kontainer Safin Prestis yang mengalami kerusakan.
“Berdasarkan saksi mata, Musafa II mengalami ledakan yang menyebabkan kapal terbakar. Pada saat kejadian, empat WNI ABK berada di kapal Musafa II dan satu WNI teknisi sedang berada di kapal kontainer Safin Prestis,” ujarnya.
Hingga kini proses pencarian terhadap para korban masih terus dilakukan oleh otoritas setempat.
