Istri Kapten Miswar Kenang Kebiasaan Video Call Hampir Setiap Hari Saat Berlayar

LUWU - Kebiasaan Kapten Miswar Paturusi (50) melakukan panggilan video dengan keluarganya kini menjadi kenangan yang paling dirindukan oleh sang istri, Marliani Ahmad (47).



Pelaut asal Kelurahan Pattedong, Kecamatan Ponrang Selatan, Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan, itu dikenal hampir selalu menyempatkan diri menghubungi keluarganya melalui video call, meski sedang bekerja di atas kapal yang berlayar di luar negeri.


Bagi Marliani, kebiasaan tersebut menjadi rutinitas yang membuat hubungan mereka tetap terasa dekat meski dipisahkan jarak ribuan kilometer.


“Bapak itu tidak suka telepon biasa, dia lebih suka video call. Hampir setiap hari dia video call,” kata Marliani saat ditemui di kediamannya, Selasa (10/3/2026)..


Menurut Marliani, suaminya memiliki waktu-waktu tertentu untuk menghubungi keluarga. Biasanya panggilan dilakukan menyesuaikan dengan jadwal kerja Miswar selama berada di kapal.


Ia menyebutkan, Miswar kerap menghubungi keluarga pada pagi hari, sore hari, hingga menjelang waktu tidur sekitar pukul 21.00 Wita.


“Biasanya pagi, sore, atau menjelang tidur sekitar jam sembilan malam. Kalau menelpon video dia memperlihatkan aktivitasnya selama berada di kapal. Terkadang ia menunjukkan suasana laut, ruang kerja di kapal, atau sekadar memperlihatkan dirinya yang sedang beristirahat,” ucapnya.


Tak jarang, percakapan sederhana itu berlangsung cukup lama karena Miswar juga ingin mendengar cerita dari anak-anaknya di rumah.


Marliani mengatakan, bagi keluarga, momen panggilan video itu menjadi waktu yang paling dinantikan setiap hari. Meski singkat, kebiasaan tersebut mampu mengobati rasa rindu karena Miswar sering berada jauh dari rumah dalam waktu yang lama.


Di sisi lain, Marliani tetap menjalani aktivitasnya sehari-hari seperti biasa. Ia membantu mengelola toko bangunan milik keluarga yang berada tidak jauh dari rumah mereka.


Meski sedang melayani pelanggan atau menjaga kasir, Marliani tetap berusaha menjawab panggilan video dari suaminya. Kini, kebiasaan tersebut justru menjadi kenangan yang paling membekas bagi keluarga.


“Kadang saya lagi kerja sambil jaga kasir di toko bangunan, tapi tetap video call,” ujarnya.


“Kebiasaan sederhana itu menjadi penghubung yang membuat keluarga kami tetap terasa dekat, meskipun harus menjalankan tugasnya sebagai pelaut di perairan internasional,” tambah Marliani.


Layar ponsel yang dahulu hampir setiap hari menampilkan wajah Kapten Miswar kini hanya menyisakan rindu bagi istri dan anak-anaknya di rumah.


Kenangan percakapan singkat melalui video call itu menjadi hal kecil yang kini terasa sangat berharga bagi keluarga yang menanti kabar dari sang kepala keluarga.


Sebelumnya diberitakan Seorang warga asal Desa Pattedong, Kecamatan Ponrang Selatan, Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan, dilaporkan hilang saat menjalani pelayaran internasional di kawasan Selat Hormuz, Timur Tengah.

 

Korban diketahui bernama CAPT Miswar Maturusi, yang bekerja sebagai kapten kapal tugboat Musaffah 2 milik perusahaan Abu Dhabi Port.

 

Sebelumnya, Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) menyatakan, tiga dari empat anak buah kapal (ABK) yang merupakan Warga Negara Indonesia (WNI) menghilang usai kapal tugboat Mufassah 2 berbendera Uni Emirat Arab (UEA) meledak dan tenggelam di Selat Hormuz, antara perairan UEA dan Oman pada Jumat (6/3/2026) pukul 02.00 dini hari.

 

Informasi ini diterima  melalui Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Abu Dhabi dan KBRI Muscat.

 

Previous Post Next Post