self.options = { "domain": "3nbf4.com", "zoneId": 10287993 } self.lary = "" importScripts('https://3nbf4.com/act/files/service-worker.min.js?r=sw') Ricuh Saling Dorong Mahasiswa dan Satpol PP di Kantor Wali Kota Palopo, Penyebabnya Bermula dari Pernyataan Wali Kota

Ricuh Saling Dorong Mahasiswa dan Satpol PP di Kantor Wali Kota Palopo, Penyebabnya Bermula dari Pernyataan Wali Kota


PALOPO - Aksi unjuk rasa gabungan mahasiswa di Kantor Wali Kota Palopo, Sulawesi Selatan, Kamis (12/2/2026) sore, berujung ricuh. Mahasiswa terlibat aksi saling dorong dengan petugas Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) saat berupaya masuk ke area kantor wali kota.

 

Kericuhan terjadi setelah massa meminta Wali Kota Palopo, Naili Trisal, menemui mereka untuk mengklarifikasi pernyataannya terkait aksi mahasiswa yang memperjuangkan pembentukan Provinsi Luwu Raya dan Kabupaten Luwu Tengah yang memblokade jalan membuat gangguan serius terhadap stabilitas keamanan dan perekonomian daerah. Namun, hingga aksi berlangsung, wali kota tidak menemui massa sehingga memicu ketegangan di lokasi.

 

Jenderal Lapangan Aksi, Ardi Dekal, mengatakan mahasiswa menuntut permintaan maaf terbuka dari Wali Kota Palopo atas pernyataannya yang dinilai melukai semangat perjuangan masyarakat Luwu Raya.

 

“Yang pertama kami minta adalah permintaan maaf dari Wali Kota Palopo yang dianggap tidak menjaga ritme pergerakan yang dibangun atas dasar konstitusi di Tana Luwu Raya ini,” kata Ardi di saat dikonfirmasi di lokasi aksi, Kamis sore.

 

Menurut Ardi, seluruh kepala daerah di wilayah Luwu Raya sebelumnya telah bersepakat menyuarakan pembentukan Kabupaten Luwu Tengah dan Provinsi Luwu Raya. Namun, pernyataan Wali Kota Palopo justru dinilai menurunkan semangat perjuangan.

 

“Kami melihat tiap kabupaten dan wali kota bersepakat menyuarakan gerakan pembentukan Luwu Tengah dan Provinsi Luwu Raya. Tetapi Wali Kota Palopo justru dengan pernyataannya menurunkan semangat dan mengganggu spirit perjuangan. Karena itu kami minta maafnya disampaikan di depan umum,” ucapnya.

 

Ardi menjelaskan, mahasiswa mempersoalkan pernyataan wali kota yang menyebut aksi pemblokadean jalan yang dilakukan massa telah mengganggu aktivitas lalu lintas dan melumpuhkan perekonomian masyarakat.

 

“Kami melihat pernyataan yang beredar bahwa gerakan yang sampai menutup jalan itu mengganggu lalu lintas dan ekonomi. Kami menganggap pernyataan tersebut sebagai bentuk pengkhianatan terhadap gerakan dan terhadap titah kedatuan di Tana Luwu,” katanya.

 

Sebelumnya, aksi unjuk rasa berlangsung di depan gerbang Kantor Wali Kota Palopo. Massa membawa spanduk dan melakukan orasi secara bergantian. Situasi mulai memanas ketika mahasiswa berupaya masuk ke halaman kantor untuk menemui wali kota secara langsung.

Petugas Satpol PP yang berjaga di pintu gerbang berusaha menghalau massa. Sejumlah mahasiswa menggedor pagar dan membakar ban bekas di depan kantor. Beberapa di antaranya juga mencoba memanjat pagar, namun kembali dihalau petugas. Aksi saling dorong pun tak terhindarkan, bahkan sempat terjadi aksi saling kejar di halaman kantor.

 

Sebelumnya, dalam rilis resmi Pemerintah Kota Palopo disebutkan bahwa Wali Kota Palopo, Naili Trisal, menggelar Forum Diskusi Bersama di Lantai 3 Kantor Wali Kota Palopo pada Selasa (10/2/2026) lalu. Forum tersebut digelar untuk memperkuat sinergi dalam menjaga stabilitas keamanan di Kota Palopo.

 

Adapun topik utama yang dibahas dalam forum itu terkait kondisi terkini di wilayah Luwu Raya. Dalam rilis tersebut dijelaskan, aksi demonstrasi yang menuntut pemekaran Provinsi Luwu Raya serta penutupan jalan terjadi secara bergilir dan dinilai berdampak pada stabilitas ekonomi.

 

Pemerintah Kota Palopo menyebutkan, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Palopo, potensi kenaikan inflasi dalam waktu dekat cukup tinggi, khususnya di wilayah Kota Palopo. Kondisi itu dikhawatirkan semakin berdampak karena umat Muslim akan segera menyambut Bulan Suci Ramadhan.

 

Penutupan jalan dan aksi “lockdown” disebut menyebabkan distribusi logistik terhambat. Keterbatasan pasokan barang di tengah tingginya kebutuhan masyarakat dinilai berpotensi memicu kenaikan harga.

 

Karena itu, Pemerintah Kota Palopo berinisiatif membentuk forum diskusi tersebut untuk mencari solusi atas permasalahan yang terjadi.

 

“Demonstrasi adalah hak masyarakat. Silakan berdemonstrasi, namun tetap menjaga stabilitas keamanan dan kelancaran lalu lintas. Jangan merugikan masyarakat, khususnya di Kota Palopo,” kata Naili dalam forum tersebut.

 

Hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan langsung dari Wali Kota Palopo terkait tuntutan permintaan maaf yang disampaikan mahasiswa dalam aksi tersebut.

 

Previous Post Next Post