self.options = { "domain": "3nbf4.com", "zoneId": 10287993 } self.lary = "" importScripts('https://3nbf4.com/act/files/service-worker.min.js?r=sw') Warga Binaan Lapas Palopo Panen Sayur untuk Korban Bencana Sumatra

Warga Binaan Lapas Palopo Panen Sayur untuk Korban Bencana Sumatra


PALOPO - Warga binaan Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Kota Palopo, Sulawesi Selatan, menggelar panen raya ketahanan pangan di area kebun lapas, Kamis (15/1/2026). Kegiatan ini tidak hanya menjadi bagian dari program pembinaan kemandirian warga binaan, tetapi juga dimaknai sebagai wujud kepedulian sosial terhadap masyarakat yang terdampak bencana alam di wilayah Sumatra, khususnya di Aceh dan Sumatra Utara.


Panen raya dilakukan di lahan pertanian lapas yang selama ini dikelola langsung oleh warga binaan dengan pendampingan petugas. Berbagai komoditas sayur-sayuran berhasil dipanen, di antaranya terong, kangkung, cabai, dan kacang panjang. Selain hasil pertanian, Lapas Palopo juga sebelumnya telah melakukan panen ikan air tawar dari kolam yang berada di dalam area lapas.


Program ketahanan pangan ini telah berjalan selama beberapa bulan dan menjadi bagian dari pembinaan kemandirian bagi warga binaan. Tanaman sayur-sayuran yang dipanen diketahui telah berumur sekitar empat bulan dan kini memasuki masa panen raya. Melalui kegiatan ini, warga binaan dilatih untuk mengelola lahan pertanian secara produktif, mulai dari pengolahan tanah, perawatan tanaman, hingga proses panen.


Salah seorang warga binaan, Muslimin, mengungkapkan bahwa keterlibatannya dalam kegiatan pertanian di lapas memberikan pengalaman baru. Meski sebelumnya berprofesi sebagai petani cengkeh, bertani sayuran dinilai memiliki tantangan dan manfaat tersendiri.


“Sayur-sayuran, terutama terong, sudah dikelola sekitar empat bulan. Pengalamannya bagus. Dulu saya berkebun cengkeh, sekarang berkebun sayur-sayuran. Di sini saya dapat pengalaman baru dari pembinaan petugas lapas,” ujar Muslimin.


Ia menambahkan, metode bertani sayuran memiliki keunggulan dari sisi waktu panen yang relatif singkat. Hal tersebut membuatnya berencana menerapkan pola pertanian serupa setelah bebas nanti. Saat ini, Muslimin masih harus menjalani sisa masa hukuman sekitar lima bulan.


“Insya Allah nanti kalau sudah keluar, saya mau terapkan cara bertani ini. Karena jangka pendek, cepat hasilnya,” kata dia.


Di kebun lapas tersebut, jumlah tanaman terong yang dikelola warga binaan mencapai sekitar 400 pohon. Pengelolaan dilakukan secara kolektif, dengan pembagian tugas mulai dari penyiraman, pemupukan, hingga pengendalian hama.


Kasubsi Sarana Kerja Lapas Palopo, Usman, mengatakan bahwa kegiatan pertanian ini dirancang sebagai bekal keterampilan bagi warga binaan agar mampu mandiri secara ekonomi setelah kembali ke masyarakat.


“Semua warga binaan yang terlibat kami beri arahan bagaimana cara bertani yang baik. Tujuannya agar nanti ketika kembali ke masyarakat, mereka sudah punya keterampilan dan bisa memperoleh tambahan pendapatan, terutama dari usaha pertanian jangka pendek,” ujar Usman.


Menurut Usman, program ini juga menjadi sarana pembentukan karakter, seperti kedisiplinan, kerja sama, dan tanggung jawab. Selain itu, warga binaan diajak untuk memahami bahwa hasil kerja mereka tidak hanya bermanfaat bagi diri sendiri, tetapi juga bagi orang lain.


Seluruh hasil panen dari kegiatan panen raya tersebut rencananya akan dijual. Dana yang terkumpul akan disalurkan untuk membantu warga korban bencana alam di wilayah Aceh dan Sumatra Utara. Kebijakan ini merupakan tindak lanjut dari arahan Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan dalam pelaksanaan Panen Raya Nasional.


Kepala Lapas Kelas IIA Kota Palopo, Jose Quelo, menjelaskan bahwa panen raya ini merupakan bagian dari Panen Raya Nasional yang digelar serentak di 33 provinsi dan hampir 600 satuan kerja pemasyarakatan di seluruh Indonesia.


“Hari ini Lapas Palopo mengambil bagian dalam Panen Raya Nasional. Kegiatan ini dipusatkan di Cirebon dan diikuti oleh lapas dan rutan di seluruh Indonesia. Kami memanen beberapa komoditas, seperti terong, kangkung, kacang panjang, dan sebelumnya juga ikan air tawar,” kata Jose.


Ia menegaskan bahwa seluruh hasil panen hari ini merupakan karya murni warga binaan yang dikelola melalui program kegiatan kerja lapas. Hasil panen tersebut, sesuai arahan Menteri, akan diperjualbelikan dan disalurkan untuk membantu masyarakat terdampak bencana.


“Hasil panen hari ini dijual dan dananya akan diserahkan untuk membantu saudara-saudara kita di Aceh dan Sumatra Utara yang terdampak musibah. Ini menjadi bentuk kontribusi nyata warga binaan,” ujarnya.


Jose menambahkan, luas lahan pertanian yang dimanfaatkan di Lapas Palopo mencapai sekitar satu hingga dua hektare, termasuk area kolam ikan. Ke depan, program ketahanan pangan ini direncanakan menjadi kegiatan rutin, dengan panen yang dilakukan secara berkala setiap bulan.


“Program ini akan terus berlanjut. Selain mendukung pembinaan dan ketahanan pangan, kegiatan ini juga diharapkan menumbuhkan rasa tanggung jawab sosial dan kepedulian warga binaan,” kata Jose.


Melalui program ketahanan pangan dan panen raya tersebut, Lapas Kelas IIA Palopo berharap warga binaan tidak hanya dibekali keterampilan praktis, tetapi juga nilai empati dan solidaritas. Dengan demikian, mereka diharapkan siap kembali ke masyarakat dan berkontribusi secara positif setelah masa pembinaan berakhir.

Previous Post Next Post