PALOPO – Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Damkar) Kota Palopo, Sulawesi Selatan, menerjunkan personel untuk membantu proses pencarian dan evakuasi korban kecelakaan pesawat ATR 42-500 yang mengalami kecelakaan dalam penerbangan dari Yogyakarta menuju Makassar, Sabtu (17/1/2026).
Kepala Dinas Pemadam
Kebakaran dan Penyelamatan Kota Palopo, Rachmad, mengatakan pihaknya
mengirimkan lima personel untuk bergabung dalam operasi pencarian dan
penyelamatan (search and rescue/SAR) yang dilakukan oleh tim gabungan di lokasi
kejadian. Penugasan tersebut dilakukan sebagai bentuk dukungan kemanusiaan
serta sinergi antarinstansi dalam penanganan bencana, dengan status Bawah Kendali Operasi (BKO)
atau diperbantukan kepada tim SAR gabungan..
“Sebanyak lima personel
Damkar Kota Palopo kami BKO -kan
ke lokasi untuk membantu proses pencarian dan evakuasi korban kecelakaan pesawat
ATR,” kata Rachmad saat dikonfirmasi melalui sambungan telepon, Kamis (22/1/2026) sore.
Rachmad menjelaskan, kelima
personel tersebut diberangkatkan dari Kota Palopo pada Senin (19/1/2026) malam.
Setelah menempuh perjalanan darat, mereka tiba di lokasi pencarian yang berada
di Desa Tompo Bulu, Kecamatan Balocci, dan langsung bergabung dengan tim SAR
gabungan.
“Kami bergabung dengan tim
yang ada di Desa Tompo Bulu, Kecamatan Balocci. Personel Damkar Palopo langsung
menyesuaikan dengan sistem kerja dan pembagian tugas yang telah ditetapkan oleh
komando SAR gabungan,” ucapnya.
Menurut Rachmad, tim SAR
gabungan di lokasi terdiri dari berbagai unsur, antara lain Basarnas, TNI,
Polri, pemerintah daerah setempat, serta relawan. Seluruh unsur bekerja secara
terpadu untuk mempercepat proses pencarian dan evakuasi korban pesawat yang
diduga jatuh di wilayah perbukitan tersebut.
Ia mengungkapkan, medan di
lokasi pencarian cukup berat dan menantang. Wilayah Desa Tompo Bulu didominasi
kawasan perbukitan dengan kontur terjal, vegetasi hutan yang lebat, serta akses
jalan yang terbatas. Kondisi ini membuat proses pencarian membutuhkan tenaga
ekstra, ketelitian, dan koordinasi yang baik antarunsur.
“Medannya cukup ekstrem.
Selain perbukitan dan hutan lebat, akses menuju beberapa titik juga masih
terbatas. Karena itu, keselamatan personel menjadi prioritas utama selama
operasi berlangsung,” ujarnya.
Lanjut Rachmad, selain kondisi medan, faktor cuaca juga
menjadi tantangan dalam proses pencarian. Hujan yang turun secara sporadis
serta kabut di beberapa titik kerap menghambat jarak pandang tim di lapangan.
Rachmad menambahkan, kelima
personel Damkar Kota Palopo yang diterjunkan telah dibekali dengan peralatan
yang cukup memadai untuk mendukung operasi penyelamatan. Peralatan tersebut
meliputi perlengkapan keselamatan diri, alat bantu evakuasi, serta perlengkapan
pendukung lainnya yang disesuaikan dengan karakter medan perbukitan dan hutan.
“Personel kami membawa
peralatan yang cukup memadai untuk membantu evakuasi, termasuk perlengkapan
keselamatan dan alat bantu di lapangan. Mereka juga sudah terbiasa menangani
kondisi darurat,” tuturnya.
Dalam operasi tersebut,
personel Damkar Palopo difokuskan untuk membantu pencarian korban, proses
evakuasi, serta mendukung kebutuhan teknis lain sesuai arahan komando SAR
gabungan. Seluruh personel diminta untuk tetap bekerja sesuai prosedur standar
operasi demi menjamin keselamatan bersama.
“Hingga saat ini, tim masih
terus melakukan pencarian. Untuk sementara, baru dua korban yang berhasil ditemukan
dan dievakuasi,” ungkapnya.
Rachmad menegaskan, Damkar Kota Palopo akan
terus memberikan dukungan penuh selama proses pencarian masih berlangsung.
Keberadaan personel di lokasi akan disesuaikan dengan kebutuhan operasi dan
hasil evaluasi tim SAR gabungan.
“Kami siap berada di lokasi
selama dibutuhkan. Prinsip kami adalah membantu semaksimal mungkin dalam misi
kemanusiaan ini,” ujar Rachmad.
Rachmad juga menyampaikan
harapannya agar proses pencarian dapat berjalan lancar dan seluruh korban
segera ditemukan. Ia menilai kerja sama dan koordinasi lintas instansi menjadi
kunci utama dalam penanganan kecelakaan ini.
“Kami berharap seluruh proses
berjalan aman dan membuahkan hasil maksimal. Yang terpenting, ada kepastian
bagi keluarga korban,” harapnya.
Seperti diketahui, pesawat
ATR 42-500 yang melayani rute Yogyakarta–Makassar dilaporkan mengalami
kecelakaan pada Sabtu (17/1/2026). Sejak laporan diterima, proses pencarian dan
penyelamatan langsung dilakukan oleh tim SAR gabungan setelah lokasi kejadian berhasil
diidentifikasi.
Pemerintah daerah bersama
seluruh unsur terkait terus berupaya mempercepat proses evakuasi dengan
mengerahkan sumber daya yang ada. Hingga kini, operasi SAR masih berlangsung
dan perkembangan di lapangan terus dilaporkan secara berkala kepada publik.
Sebelumnya diberitakan,
Pesawat ATR 42-500 milik Indonesia Air Transport dilaporkan hilang kontak saat
melintasi Wilayah Leang Leang Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan pada Sabtu
(17/1/2026).
Merespons informasi
tersebut, Basarnas Makassar tengah menuju ke lokasi titik koordinat yang
diberikan oleh AirNav.
"Saat ini, kami telah
menuju lokasi yang mana diberikan koordinat dari AirNav di sekitar Kabupaten
Maros, sekitar Leang Leang," kata Kepala Seksi Operasi Basarnas Makassar,
Andi Sultan, kepada wartawan, Sabtu (17/1/2026).
Andi Sultan mengatakan,
pihaknya telah berangkat ke lokasi hilang kontak pesawat milik Indonesia Air
Transport dengan tiga regu untuk mempercepat proses pengecekan.
"Sortir pertama untuk
melakukan asesmen ke lokasi dan juga lima orang, dan diberangkatkan lagi 15
orang yang kedua. Dan sortir berikutnya akan kami berangkatkan bersama potensi
yang ada sekitar 40 orang," ujarnya.
