Begadang kerap dipandang sebagai bagian dari gaya hidup modern. Di kalangan perempuan, kebiasaan ini sering dikaitkan dengan kesibukan, tuntutan profesional, atau aktivitas akademik yang padat. Tak jarang, kurang tidur dianggap sebagai konsekuensi logis dari produktivitas dan pencapaian. Namun, di balik itu, begadang menyimpan dampak yang tidak sederhana terutama terhadap kesehatan fisik, mental, dan kualitas relasi sosial.
Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa kurang tidur berdampak langsung pada tubuh perempuan. Gangguan keseimbangan hormon, seperti estrogen dan kortisol, dapat memicu siklus menstruasi tidak teratur, penurunan daya tahan tubuh, hingga meningkatkan risiko penyakit kronis, termasuk hipertensi dan diabetes. Dari sisi fisik, begadang juga berkontribusi pada penuaan dini kulit, munculnya jerawat, serta kenaikan berat badan akibat metabolisme yang terganggu.
Dampak tersebut tidak berhenti pada kesehatan fisik. Kurang tidur juga memengaruhi kondisi psikologis. Perempuan yang sering begadang lebih rentan mengalami perubahan suasana hati, mudah lelah secara emosional, dan mengalami stres berkepanjangan. Fungsi kognitif, seperti konsentrasi dan pengendalian emosi, ikut menurun ketika tubuh tidak memperoleh waktu istirahat yang memadai.
Dalam kehidupan sosial, kondisi ini berpengaruh pada cara seseorang berinteraksi. Kelelahan fisik dan mental dapat mengurangi energi untuk bersosialisasi, memperpendek kesabaran dalam berkomunikasi, serta menurunkan kepekaan emosional. Relasi termasuk relasi romantis menuntut kehadiran diri secara utuh, baik secara fisik maupun emosional. Ketika hal tersebut terganggu, proses membangun hubungan menjadi lebih menantang.
Di sinilah muncul anggapan bahwa perempuan yang sering begadang cenderung “sulit menemukan pasangan”. Anggapan ini tentu tidak dapat dipahami secara harfiah. Jodoh bukan ditentukan oleh jam tidur. Namun, secara tidak langsung, gaya hidup yang tidak seimbang dapat memengaruhi kesiapan seseorang dalam membangun hubungan jangka panjang. Relasi yang sehat membutuhkan kestabilan emosi, komunikasi yang baik, dan kemampuan mengelola stres semuanya berkaitan erat dengan kualitas istirahat.
Sayangnya, narasi publik kerap menyederhanakan persoalan ini dengan menyalahkan individu, khususnya perempuan. Padahal, kebiasaan begadang sering kali lahir dari tekanan struktural: budaya kerja yang menormalisasi jam panjang, tuntutan ekonomi, serta ekspektasi sosial untuk selalu produktif. Dalam konteks ini, begadang bukan sekadar pilihan personal, melainkan bagian dari sistem yang kurang ramah terhadap kesehatan.
Oleh karena itu, isu begadang seharusnya dibaca sebagai persoalan kesehatan dan kualitas hidup, bukan sebagai mitos tentang jodoh. Tidur yang cukup merupakan kebutuhan dasar yang berperan penting dalam menjaga kesehatan tubuh, kestabilan mental, dan kualitas relasi sosial. Bagi perempuan, merawat waktu istirahat adalah bentuk perawatan diri yang berdampak luas termasuk dalam membangun hubungan yang sehat dan setara.
Alih-alih terus mereproduksi stigma “sulit menemukan pasangan”, masyarakat perlu menggeser cara pandang. Relasi yang baik tumbuh dari individu yang sehat secara fisik dan mental. Dalam tubuh yang cukup istirahat dan pikiran yang lebih jernih, hubungan personal memiliki peluang lebih besar untuk berkembang secara alami.
