Aliansi Wija To Luwu Desak Gubernur Sulsel Minta Maaf atas Pernyataannya “Kenapa tidak sekalian keluar dari Indonesia, gitu kan?”
INSPIRASI TIMUR INDONESIA

PALOPO  - Warga Rampi, yang tergabung dalam Aliansi Wija To Luwu menggelar long march dari jalan Ratulangi menuju Lapangan Gaspa Kota Palopo, Sulawesi Selatan, Jumat (03/6/2022) pagi.

Jenral lapangan (Jendlap) aksi, Teofilus mengatakan aksi long march menuntut Gubernur Sulawesi Selatan Andi Sudirman Sulaiman untuk meminta maaf kepada warga Rampi atas pernyataannya pada saat berpidato di hari jadi Luwu Timur yang mengatakan "Sama Yang ke Rampi Saya Sampaikan di Luwu Utara tadi, Katanya ada yang mau keluar dari Sulawesi Selatan? Kenapa tidak sekalian keluar dari Indonesia, gitu kan?.

“Kami mendesak Gubernur Sulsel Andi Sudirman Sulaiman meminta maaf secara terbuka di media Nasional, Regional dan Lokal terhadap warga Luwu Raya khususnya warga Rampi,” kata Teofilus saat dikonfirmasi, Jumat (03/06/2022).

Menurut Teofilus, pernyataan Gubernur Sulsel tersebut terkesan rasis dan separatis sehingga membuat warga Luwu Raya secara umum dan warga Rampi secara khusus tersinggung dan merasa dilecehkan.

“Meskipun sudah mendapat kecaman dari tokoh adat, masyarakat dan aktivis dari berbaga kalangan melalui media Nasional, Regional maupun Lokal agar Guberbur Sulsel ASS meminta maa secara terbuka kepada warga Luwu Raya khusunya warga Rampi namun sampai saat ini belum mendapat respon,” ucap Teofilus.

Sebelumnya diberitakan Pidato Gubernur Sulawesi Selatan (Sulsel) Andi Sudirman Sulaiman pada Rapat Paripurna Istimewa Hari Jadi ke-19 Kabupaten Luwu Timur pada Kamis (12/5/2022), menuai sorotan dari masyarakat Rampi. 

Pada awalnya, pidato Gubernur Sulsel Andi Sudirman membahas tentang pembangunan jalan penghubung Kabupaten Luwu Timur Sulsel dan Morowali Sulawesi Tengah.

Namun kemudian dia membahas jalan yang ada di Kecamatan Rampi, Kabupaten Luwu Utara. Tidak berhenti di situ saja, gubernur termuda di Indonesia itu juga menyinggung warga Rampi yang ingin keluar dari Sulsel karena merasa tidak diperhatikan. 

"Katanya ada yang mau keluar dari Sulawesi Selatan ini? Kenapa tidak sekalian keluar dari Indonesia, gitu kan? Kita bukan tidak mau bangun, tidak. Kenapa? Panjangnya kita tentu bertahap. Kemampuan keuangan wilayah ini tidak sekuat yang kita pikirkan,” katanya dilansir dari kanal YouTube Dinas Kominfo SP Luwu Timur. 

Dia mengatakan pembangunan itu harus dilakukan secara bertahap, mengingat kontur tanah di Rampi labil. Apalagi menurutnya jarak ke Rampi itu mencapai 80 kilometer.

“Kalau kali-kalinya ke Rampi itu 80 kilometer saya sudah cek. Kalau anggaran kita kasih ke teman-teman TNI untuk buka akses saja, tapi tunggu dulu pak, rintisan jalan daerah lain oke, tapi kalau di Rampi, buka satu kilo tertutup satu kilo," tambah Sudirman.  

 

Tuai Sorotan Warga Rampi Ketua Ikatan Pelajar Mahasiswa Rampi (IPMR) Ramon Dasinga mengatakan pernyataan Gubernur Sulsel tersebut tidak sepantasnya diucapkan dalam pidato atau forum resmi.

“Indonesia ini bukan milik Pak Gubernur Sulsel Andi Sudirman Sulaiman, kenapa seenaknya menyuruh Masyarakat Rampi keluar dari Indonesia. Ini bukan diskusi warung kopi tapi ini forum resmi, kami sangat sayangkan pernyataan pak gubernur tersebut, harusnya pak gubernur tidak menyampaikan bahasa seperti itu,” kata Ramon, kepada kompas.com, Jumat (13/5/2022)

Tokoh masyarakat Rampi, Freddy Erenst menilai pidato Gubernur Sulsel terkesan sangat mempermalukan warga Rampi.  

“Ini Gubernur tidak punya etika komunikasi, sepertinya dia tidak menganggap kita, lebih terhormat berkomunikasi dengan seorang yang tidak punya pendidikan dan tidak ada jabatan tapi punya etika,” ujar Freddy.

Previous Post Next Post