Jangan Sepelekan Meski Rendah, Gempa dan Tsunami Setinggi 0,5 Meter Berpotensi Terjadi di Luwu Utara, Ini Penjelasan BMKG

SPACE PANJANG

 





LUWU UTARA – Badan Meteorlogi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menyebut wilayah Kabupaten Luwu Utara, Sulawesi Selatan, dinilai rawan terjadi bencana gempa bumi dan tsunami.

Kepala Bidang Mitigasi Gempa Bumi dan Tsunami pusat,  Daryono  mengatakan wilayah Luwu Utara dan sekitarnya memiliki kegempaan rendah namun hal tersebut tidak bisa disepelekan karena dalam peta tektonik terdapat jalur sesar yang menghubungkan sesar Palu Koro dengan sesar Kolaka dan itu melalui wilayah Luwu Utara, jika terjadi tsunami akan mencapai setengah (0,5) meter.

“Nah karena tsunami terjadi di laut, tsunaminya setengah meter, dari pengalaman kami daerah yang pernah dilanda tsunami di Jawa dan Sumatera dengan ketinggian setengah meter sudah bisa menimbulkan kerusakan bangunan pantai,” kata Daryono, saat dikonfirmasi, Jumat (03/9/2021).

Menurut Daryono beberapa aktivitas sudah terdeteksi dan BMKG mencatat ada gempa-gempa kecil baik yang diamati melalui jaringan regional di Makassar maupun jaringan nasional di Jakarta.

Pada 13 Desember 2018 terjadi gempa di Luwu Utara, ini adalah jalur sesar yang merupakan terusan dari sesar Palu Koro yang tersambung dengan sesar Kolaka dan ini memotong wilayah Luwu Utara dan menyeberangi laut hingga sampai ke Kolaka.

“Gempa berikutnya pada 13 Juni 2020 gempa ini berada di perbatasan Luwu Utara dengan Luwu Timur, pada 27 Agustus 2021 terjadi di Kolaka dan kalau dilihat pada peta tektonik terhubung antara sesar Palu Koro menuju ke selatan, meskipun yang selama ini banyak dikenal sesar ini berbelok ke arah tenggara melalui Sorowako, Matano dan Morowali, tetapi dalam peta tektonik banyak juga yang menggambarkan melalui sesar Palu Koro menuju Selatan yaitu melalui Kabupaten Luwu Utara,” jelas Daryono. 

Lanjut Daryono, wilayah Luwu Utara terdapat beberapa aktivitas gempa meskipun rendah tetapi dengan adanya jalur sesar Palu Koro ini tidak boleh disepelekan.

“Sedangkan yang tidak memiliki jalur sesar terjadi gempa seperti kemarin di Tojo una-una  dengan kekuatan 6,3 magnitudo dan 5,8 magnitudo,” ucap Daryono. 

BMKG mengimbau kepada warga yang ada disekitar pantai agar tetap waspada jika hal yang tidak diinginkan tersebut benar-benar terjadi karena tsunami dengan ketinggian setengah meter bisa merusak wilayah pantai dan sekitarnya.

“Selain itu kerusakan yang dapat ditimbulkan oleh titik gempa yang ada di Luwu Utara juga diprediksi akan berdampak langsung ke wilayah sekitar yakni Kabupaten Luwu dan Luwu Timur,” ujar Daryono.

Untuk meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat, saat ini BMKG melakukan kegiatan sekolah lapang gempa bumi.

“Kami juga sudah memberikan kesiapsiagaan melalui sekolah lapang gempa bumi di Luwu Utara memberikan pemahaman kepada masyarakat Luwu Utara terkait dengan titik gempa yang ada di daerah tersebut untuk lebih mempersiapkan diri menghadapi kemungkinan terjadinya bencana gempa bumi dan tsunami,” tutur Daryono. 

Bupati Luwu Utara, Indah Putri Indriani mengatakan BMKG telah menetapkan 157 Desa/Kelurahan di Luwu Utara sebagai daerah yang rawan bencana, oleh karena itu peningkatan kapasitas sangat penting dilakukan tidak hanya pemerintah tetapi juga masyarakat.

“Potensi gempabumi bisa saja terjadi, mengingat Luwu Utara sebagaimana diungkap BMKG bahwa pascabencana gempabumi di Palu pada 2018 lalu, rupanya menghidupkan sesar Palu-Koro, dan harus segera diantisipasi dengan memperkuat kesiapsiagaan melalui kegiatan mitigasi dan sosialisasi jalur evakuasi,” tambah Indah.

Previous Post Next Post