OPINI : Hari Kemerdekaan, Dari Refleksi Ke Aktualisasi

SPACE PANJANG

 




 


Oleh : Firmansyah

Setiap manusia dilahirkan merdeka sejak lahir, setidaknya di Indonesia itu berlaku sejak 1945. Sejak saat itu, setiap manusia yang lahir di Indonesia mewarisi kemerdekaan bangsa dan negaranya.

Sebelum Agustus 1945, warga Indonesia harus memperjuangkan kemerdekaan itu. Dan setelahnya, tantangan yang berat datang silih berganti. Kalau menurut Bung Karno, mempertahankan lebih berat dari pada memperjuangkan. “Perjuanganku lebih mudah karena melawan penjajah, namun perjuangan kalian akan lebih sulit karena melawan bangsa sendiri”.

Terbukti setelah merdeka, bangsa kita diperhadapkan berbagai masalah. Krisis multidimensi menghantam dari berbagai sektor. Persoalan ekonomi, sosial, dan politik menguji kekuatan dan persatuan bangsa.

Untungnya Pancasila menjadi pilihan tepat dari sebuah kristalisasi nilai kehidupan yang memang rumusannya lahir bukan dari penghayatan yang hampa. Pancasila lahir secara formal untuk menjadi sebuah ideologi negara bangsa bersamaan dengan Proklamasi kemerdekaan Indonesia.

Tantangan Pancasila sebagai pandangan hidup berbangsa dan bernegara dalam menghadapi krisis multidimensi beberapa kali kewalahan di setiap titik kritis persoalan bangsa. Krisis multidimensi Indonesia telah membuka rahasia di balik “topeng”. Melahirkan ketidakpercayaan rakyat kepada negaranya sendiri. Ia dengan putus asa membentuk sindiran sebagian warganya terhadap sebuah negara yang menurutnya tampil dengan topeng yang serba “seolah-olah”. Seolah-olah stabil dalam perekonomian, seolah-olah kuat dalam politik, seolah-olah bersih dalam pemerintahan, seolah-olah sadar dalam persatuan, dan jiwa nasionalisme menjadi taruhannya.

Nasionalisme mengalami degradasi di tengah ancaman disintegrasi bangsa. Persatuan bangsa diuji kekuatan dan kehandalannya oleh karena kelalaian bangsa kita sendiri. Beberapa ancaman seperti ini sebelumnya pernah diprediksi oleh Francis Fukuyama dalam bukunya The Great Disruption, bahwa modal sosial kita menurun karena hilangnya rasa saling percaya antar suku, agama, ras, dan budaya. Justru sikap saling curiga antar anak bangsa yang semakin diperuncing dengan berbagai polusi informasi yang juga menjadi tantangan tersendiri di masa kini. Pemahaman terhadap Pancasila sebagai sebuah ideologi harus saling menguatkan dengan jiwa nasionalisme kita.

Pendalaman pemahaman dibutuhkan dalam menafsirkan dan mengembangkan nilai-nilai Pancasila untuk pembangunan nasional jangka panjang bangsa ini. Kesenjangan antara ideologi yang ideal normatif dengan realitas yang aktual empiris yang makin jauh akan semakin memperkeruh perjalanan bangsa ini. Bangsa ini membutuhkan bukti keselarasan antara kebijakan dan penerapannya. Dengan pemahaman yang mendalam terhadap ideologi bangsa kita, diharapkan dapat menjiwai dan mengarahkan dinamika perkembangan bangsa dan negara dalam berbagai aspek kehidupan.

Setiap tahun kita merefleksi bersama kemerdekaan bangsa kita. Semakin tahun tantangan bangsa ini semakin dinamis. Dan itu meniscayakan keberagaman cara merefleksi kemerdekaan, cara mengisi kemerdekaan yang beraneka ragam, dan melahirkan kekayaan inovasi dan kreatifitas dalam mengaktualisasikannya. Kita jangan alergi dengan perbedaan di tengah-tengah keberagaman bangsa. Selama aktualisasi itu berlandaskan pada Pancasila yang sudah menjadi kesepakatan bersama sebagai ideologi negara yang besar ini.

Ada yang dengan tepat bernyanyi “17 Agustus tahun 45, itulah hari kemerdekaan kita” tapi ada juga yang sedikit santuy berlirik “16 Agustus tahun 45, besoknya hari kemerdekaan kita”. Merespon yang santuy ini jangan dengan penuh emosi langsung menyalahkan dan mengafirkannya sebagai warga negara. Kita jangan mudah saling menyalahkan selama masih memiliki tujuan yang sama.

Bisa saja besok atau lusa ada yang masih dengan semangatnya menjiwai “18 Agustus tahun 45, kemarin hari kemerdekaan kita”. Saya kira itu tidak menutup kemungkinan terjadi di tengah kobaran semangat kemerdekaan masyarakat kita yang beraneka ragam ini. Dan itu masih tetap dengan maksud yang sama. Bukankah kemerdekaan kita ini diperoleh karena berawal dari kesamaan nasib dan dengan tujuan yang sama.

Merdekalah, sejak dalam hati dan pikiran !"

Previous Post Next Post