Hidup di Gubuk Kecil Bersama Keluarga, Warga Desa Salu Jambu ini Butuh Uluran Tangan

SPACE PANJANG

 




PALOPO - Bapak Muslimah, warga Desa Salu Jambu, Kecamatan Lamasi, Kabupaten Luwu, bersama 8 orang anggota keluarganya, bermigrasi ke Kelurahan Purangi, Kecamatan Sendana, Kota Palopo, demi mencari biaya hidup untuk keluarganya.

Diketahui, bersama kedelapan orang keluarganya tersebut, mereka tinggal di sebuah gubuk kecil berukuran sekitar 3 x 2 meter, dengan penuh kekurangan seperti lampu penerang, air bersih dan makanan pokok.

Arno, merupakan salah satu warga Kelurahan Purangi, mengaku merasa prihatin melihat keadaan keluarga bapak Muslimah tersebut. Mereka bersama beberapa warga, kemudian membantunya dengan memberikan beberapa kebutuhan pokok seperti beras, serta kebutuhan lainnya.

"Setidaknya kita bisa bantu sesuai dengan kemampuan kita. Alhmadulillah tadi Ibu ada beberapa kebutuhan yang dia kasih ke keluarga itu, kasihan apa lagi anaknya masih kecil dan ibu mertuanya lagi sakit. Kemudian iparnya yang baru-baru kecelakaan, akibat tangannya digilas mesin penggilingan sagu," kata Arno.

Saat ditemui awak media inspirasitimur.com, Muslimah mengungkapkan bahwa, alasan kedatangannya di Kelurahan Purangi bersama 8 orang keluarganya, dengan tujuan mengadu nasib dengan bekerja untuk kelangsungan hidup bersama keluarga. 

"Namun karena pendapatan saya sangat minim, sehingga tak cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Sementara ibu mertua saya yang sedang sakit, maka istri dan anak-anak saya juga ikut kesini agar bisa membantu untuk merawatnya," ungkapnya, Minggu (8/8/2021).

Sementara itu, Nurbaeti, selaku Ketua RT 2 RW 3, Kelurahan Purangi, saat dikonfirmasi mengatakan bahwa, pihaknya akan segera mengunjungi, terkait keberadaan bapak Muslimah beserta keluarganya datang ke Purangi.

"Besok Insya Allah kalau tidak ada halangan kami berkunjung ke tempatnya," ujarnya.

Menanggapi hal tersebut, Arzad, selaku Ketua Wilayah Relawan Kemanusiaan Gerakan Tanggap Ta'lim On The Road (GT-TOTR) Palopo, berharap sejumlah komunitas/organisasi relawan, pemuda dan mahasiswa agar ikut andil membantu keluarga bapak Muslimah tersebut.

"Sangat di sayangkan apabila kita sebagai pemuda milenial khususnya yang tergabung dalam komunitas relawan kemanusiaan sama sekali tidak menunjukkan sikap kerelawanan kita kepada masyarakat sekitar, jangan hanya ketika terjadi bencana besar di luar daerah lalu kita begitu antusias, dan sedikit melupakan kebutuhan orang lain disekitar kita," tegas Arzad.

Hal senada, Ilham Bim, yang juga merupakan Kader GT-TOTR Palopo, berharap agar pihak pemerintah terkait utamanya Kabupaten Luwu, dapat memberikan bantuan, mengingat angka Covid-19 di Kota Palopo yang kian bertambah seiring bertambahnya angka kemiskinan.

"Harapan saya agar kiranya ada tindak lanjut cepat dari pemerintah setempat, masyarakat yang mempunyai finansial yangg cukup, serta tindakan dari teman-teman relawan. Jangan sampai ini hanya menjadi konsumsi publik tapi tanpa aksi, maka dari itu subjeknya betul mengarah ke objeknya," pungkas Ilham.

Sekadar diketahui, Bapak Muslimah bersama keluarganya sementara ini bercocok tanam di tanah milik salah seorang warga Purangi, dengan menanam sayur-sayuran dan juga ikut bersama masyarakat bekerja sebagai pemarut bahan pembuatan sagu. (ben)

Previous Post Next Post