Nasib Petani Padi di Luwu Timur di Tengah Pandemi Covid-19
INSPIRASI TIMUR INDONESIA

LUWU TIMUR - Menghadapi musim panen ditengah Pandemi Corona menjadi pembahasan serius dalam rapat Forkopimda Luwu Timur yang berlangsung di Aula Rumah Jabatan Bupati Lutim ( Rabu (15/04/2020 ). Masalah yang muncul adalah Luwu Timur kekurangan alat dan operator untuk melakukan pemanenan, dan harus mendatangkan tenaga dari luar kabupaten dalam hal ini dari Sidrap. Sementara kebijakan Corona orang luar yang masuk harus menjalani karatina mandiri .
” Ya ini bagaimana solusinya, disatu sisi kita harus selamatkan padi warga, dilain sisi ada kebijakan Corona yang mengharuskan orang luar apalagi berasal dari zona merah corona harus menjalani isolasi mandiri 14 hari,” kata Husler.
Selain itu bagaiamana dengan pembeli gabah itu sendiri ketika petani selesai memanen, kalau mengandalkan pembeli di Luwu Timur sangat minim, dipastikan petani akan merugi karena gabahnya tidak ada yang membeli.
”Lagi-lagi kita harus membuka diri agar pembeli dari luar daerah masuk ke Luwu Timur membeli gabah petani," ucap Husler.
Hari ini, kita duduk bersama mencari cara terbaik, bagaimana petani kita bisa memanen dan gabah tetap terjual , selanjutnya bagaiamana pula kita menyelamatkan petani kita agar tetap aman dari penularan Virus Corona. Husler meminta Tim Gugus Tugas Covid-19 dan Dinas Pertanian merumuskan langkah strategis agar masalah teratasi dan aman.
Amrulah, PLT Kadis Pertanian menjelaskan, inilah saatnya jika ada pengusaha Luwu Timur yang ingin mengambil alih perdagangan beras dan gabah di Lutim. Selama ini pihaknya berharap agar gabah petani tidak di jual keluar.
"Berdasarkan hitungan kita, jika semua selesai melakukan panen, maka akan terkumpul gabah petani di Luwu Timur sebanyak 154 ton gabah. Kalau ingin jadi pembeli dengan bayar cash harus punya modal Rp.600 Miliar, tapi jika ada 10 M juga sudah bisalah,”  ujar Amrulah.
Kalau untuk melakukan penggilingan , Penggilingan di Luwu Timur mampu menggilig semua gabah dari petani di Luwu Timur. Memang yang jadi kendala jika sudah dipanen dan digiling mau dipasarkan kemana.
Menghadapi musim panen bulan ini, Luwu Timur sudah siap mengerahkan 22 unit Pemanen kombinasi (combine harvester), satu buah combine bisa menyelesaikan pemanenan dalam sehari maksimal itu 7 hektar. Artinya ini tidak cukup maka Luwu Timur harus mendatangkan operator dan alat dari luar daerah.
”Kita butuh sekitar 66 mesin combine lagi untuk melakukan pemanenan cepat agar padi petani tidak rontok,” tutur Amrulah.
Kekurangan alat inilah membuat kita harus mendatangkan dari luar untuk melancarkan proses pemanenan gabah masyarakat . Karena ini lagi musim Corona, tentunya ini akan dilakukan dengan cara yang tidak biasa mengikuti protocoler Covid-19 .
Rosmini Pandin, Tim Gugus Tugas Covid-19 Luwu Timur, mengatakan, jika kemungkinannya kita harus mendatangkan tenaga dan alat dari luar maka, Dinas Pertanian harus mendaftar siapa saja nama-nama oprator dari luar daerah yang akan masuk ke Lutim.
Selanjutnya, mereka harus tetap mengenakan masker dan sarung tangan saat melakukan proses pemanenan. Yang paling penting selama berada di Lutim tidak boleh keluyuran. ” Harus ada tempat buat mereka supaya mudah dipantau,” jelas Rosmini Pandin.
Tak hanya itu, Pos Covid yang ada dimasing-masing desa juga berperan aktif melakukan pemantauan dan juga mendata mereka yang masuk, diharapkan dengan pengawasan ketat kita berharap petani di Lutim tidak terjangkit Corona. 
”Soalnya kalau mereka dari Sidrap yang mau masuk ke Lutim , rawan juga, karena berasal dari zona merah, ini yang kita harus perhitungkan,” terang Rosmini Pandin.
Rapat Forkomimda ini dihadiri oleh unsur TNI, Polres Lutim, Ketua DPRD Lutim, Sekda Luwu Timur , Ketua FKUB, Kemenag Luwu Timur. Kejaksaan Negeri Malili, dan sejumlah Kepala OPD Se Luwu Timur .
Previous Post Next Post