LUWU – Hujan yang turun seharusnya membawa kesejukan. Namun, bagi Nirwana dan keluarganya di Lingkungan Batu Murrung, Desa Senga, Kecamatan Belopa, Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan, hujan justru menghadirkan kekhawatiran.
Atap rumah yang rusak dan berlubang membuat air hujan masuk ke dalam rumah. Keluarga ini bahkan kesulitan beristirahat ketika hujan turun karena harus mencari sudut rumah yang masih bisa digunakan untuk berteduh.
“Tidak bisa tidur kalau hujan, Pak. Kami duduk saja di pinggir-pinggir,” kata Nirwana saat menceritakan kondisi rumah yang mereka tempati.
Rumah sederhana itu kini berada dalam kondisi memprihatinkan. Dinding yang terbuat dari papan terlihat lapuk, sementara atap berbahan anyaman telah rusak di sejumlah bagian. Cahaya matahari dapat menembus celah atap, sedangkan beberapa bagian dinding hanya ditambal menggunakan bahan seadanya.
Meski kondisinya jauh dari kata layak, rumah tersebut tetap menjadi tempat berlindung bagi keluarga Nirwana.
Enam Orang Tinggal di Rumah yang Tak Layak
Sebanyak enam orang tinggal di rumah tersebut, termasuk seorang bayi yang baru lahir. Kondisi bangunan yang rusak, keterbatasan ruang, serta keadaan ekonomi keluarga membuat mereka kesulitan memperbaiki rumah secara mandiri.
Suami Nirwana yang sebelumnya bekerja sebagai tukang batu kini tidak lagi mampu melakukan pekerjaan berat seperti dahulu karena kondisi kesehatannya.
Sementara itu, Nirwana lebih banyak menghabiskan waktu di rumah untuk mengurus anak dan memenuhi kebutuhan keluarga.
Dalam kondisi tersebut, memperbaiki atap yang bocor, mengganti dinding yang lapuk, maupun memperkuat bagian rumah yang rusak menjadi pekerjaan yang sulit mereka wujudkan.
Bagi keluarga ini, rumah bukan sekadar tempat beristirahat. Rumah juga menjadi tempat anak-anak tumbuh dan seorang bayi menjalani hari-hari pertamanya. Namun, kondisi bangunan yang memprihatinkan membuat mereka belum bisa merasa aman dan nyaman ketika berada di dalam rumah.
Sudah Berusaha Mencari Bantuan
Nirwana mengaku telah berupaya mencari bantuan agar keluarganya bisa mendapatkan tempat tinggal yang lebih layak. Ia bahkan sudah dua kali mendatangi Dinas Sosial Kabupaten Luwu untuk menyampaikan kondisi rumah yang mereka tempati.
Namun, menurut penuturannya, ia mendapat informasi bahwa program bantuan bedah rumah kini ditangani instansi yang membidangi perumahan dan kawasan permukiman.
“Saya sudah dua kali datang ke Dinas Sosial, Pak. Katanya anggaran bedah rumah sudah pindah ke Perkim. Saya belum sempat ke sana karena besoknya saya melahirkan. Sampai sekarang belum pernah ke Perkim,” ujar Nirwana.
Setelah melahirkan, perhatian Nirwana kembali tertuju pada kebutuhan keluarga dan perawatan bayinya. Hingga kini, ia masih berharap ada jalan keluar agar rumah mereka bisa diperbaiki.
Belum adanya perbaikan membuat keluarga tersebut masih bertahan di rumah dengan kondisi atap dan dinding yang rusak.
Berharap Uluran Tangan untuk Rumah yang Lebih Layak
Nirwana dan keluarganya tidak mengharapkan rumah mewah. Mereka hanya ingin memiliki tempat tinggal yang aman, atap yang tidak lagi bocor, serta dinding yang lebih kokoh agar bisa menjalani kehidupan sehari-hari dengan tenang.
Kisah keluarga ini menjadi pengingat bahwa masih ada warga yang membutuhkan perhatian dan bantuan untuk memenuhi kebutuhan dasar, termasuk tempat tinggal yang layak.
Pemerintah Kabupaten Luwu, instansi terkait, pemerintah desa, maupun pihak swasta dan masyarakat yang memiliki kepedulian diharapkan dapat melihat langsung kondisi keluarga tersebut serta membantu mencarikan solusi sesuai kebutuhan mereka.
Bantuan dapat berupa pemeriksaan kondisi rumah, pendampingan pengajuan program perbaikan rumah, material bangunan, maupun bentuk dukungan lain yang sesuai dengan kebutuhan keluarga.
Bagi warga atau pihak yang ingin membantu, langkah awal yang dapat dilakukan adalah berkoordinasi dengan pemerintah Desa Senga atau aparat setempat untuk memastikan kondisi keluarga dan kebutuhan yang paling mendesak.
Harapannya, keluarga Nirwana tidak harus terus menghadapi kecemasan setiap kali hujan turun. Dengan kepedulian bersama, mereka berpeluang mendapatkan tempat tinggal yang lebih aman dan layak, terutama bagi anak-anak dan bayi yang baru lahir.
Kini, keluarga di Batu Murrung itu masih menanti uluran tangan. Bagi mereka, bantuan untuk memperbaiki rumah bukan sekadar membenahi atap dan dinding, melainkan juga menghadirkan rasa aman dan harapan untuk menjalani kehidupan yang lebih baik.

No comments:
Post a Comment