Ditengah aktivitas industri nikel di Sorowako, upaya menjaga keanekaragaman hayati menjadi bagian penting dari pembicaraan tentang keberlanjutan. Seekor anoa jantan yang dirawat Hussein menyimpan harapan sekaligus tantangan: bagaimana memastikan satwa endemik Sulawesi itu tetap lestari di tengah perubahan bentang alam.
LUWU TIMUR - Seekor anoa jantan berusia sekitar
dua tahun berada di kawasan konservasi Taman Kehati Sawerigading Wallacea, area
operasional PT Vale Indonesia Tbk di Sorowako, Kabupaten Luwu Timur, Sulawesi
Selatan.
Satwa endemik Sulawesi yang
dikenal memiliki karakter liar itu kini berada dalam perawatan Hussein. Setiap
hari, ia memastikan kebutuhan pakan dan kondisi anoa tersebut terpenuhi.
Rumput, daun lamtoro, dan berbagai jenis dedaunan segar menjadi bagian dari
menu hariannya.
Namun, bagi Hussein, merawat
anoa bukan semata-mata memastikan satwa itu tetap hidup dan sehat. Ada harapan
yang lebih besar: melihat anoa tersebut berkembang biak.
Harapan itu belum mudah
diwujudkan. Anoa yang dirawatnya saat ini berjenis kelamin jantan dan belum
memiliki pasangan.
“Dipelihara di sini
sebenarnya kita mau kembangbiakan. Tapi sampai sekarang ini tidak ada
pasangannya. Hanya jantan sekarang,” kata Hussein, Jumat
(30/10/2026).
Ia berharap ada upaya
menghadirkan anoa betina agar program pengembangbiakan dapat dipertimbangkan.
“Kalau memang ini mau
dikembangbiakkan, tolong usahakan anak-anak betinanya, supaya bisa berkembang.
Sama seperti rusa, kan, berkembang di sini,” ucapnya.
Permintaan Hussein
memperlihatkan bahwa pekerjaan konservasi tidak berhenti pada penyediaan
kandang dan pemberian pakan. Ada kebutuhan untuk memastikan keberlanjutan
populasi, menjaga kondisi satwa, serta memenuhi persyaratan ilmiah dan
peraturan yang berlaku.
Rencana mendatangkan
anoa betina
Harapan untuk menghadirkan
anoa betina juga menjadi bagian dari rencana konservasi keanekaragaman hayati
PT Vale Indonesia Tbk.
Head of Health, Safety,
Sustainability, Environment and Operation Risk (HSSER) PT Vale Indonesia Tbk,
Febrin Sitorus, menjelaskan bahwa perusahaan memiliki rencana mendatangkan anoa
betina untuk mendukung upaya konservasi satwa yang terancam punah tersebut.
Rencana itu diarahkan untuk
mendukung pengembangbiakan, menjaga kemurnian genetik, serta mengurangi tekanan
terhadap populasi anoa di alam.
“Meski demikian,
upaya tersebut tidak dapat dilakukan begitu saja. PT Vale perlu berkoordinasi
dan memperoleh persetujuan dari Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam
Sulawesi Selatan (BBKSDA Sulsel), sesuai ketentuan dalam perjanjian kerja sama
mengenai penguatan konservasi keanekaragaman hayati melalui pengelolaan pusat
konservasi satwa khusus,” ujar Febrin.
Febrin juga menegaskan bahwa
PT Vale belum pernah melakukan pelepasliaran anoa. Perlindungan keanekaragaman hayati,
menurut Febrin, menjadi bagian dari kebijakan perusahaan, termasuk perlindungan
terhadap satwa liar yang dilindungi.
“Program yang
direncanakan juga mencakup pengembangan koridor ekologis di Sorowako dengan
perhatian pada anoa dan spesies endemik lainnya. Koridor ekologis diharapkan dapat menjaga keberadaan
satwa, kualitas habitat, keterhubungan antarkawasan, ketersediaan sumber daya,
serta fungsi ekosistem dalam jangka panjang,” tuturnya.
“Dengan demikian,
konservasi tidak hanya diarahkan pada satu individu satwa, tetapi juga pada
lingkungan yang menopang kehidupan berbagai spesies,” tambahnya.
Menjaga habitat,
memulihkan ekosistem
Taman Kehati Sawerigading
Wallacea menjadi salah satu ruang pengelolaan keanekaragaman hayati di kawasan
operasional PT Vale. Area yang dikelola mencapai sekitar 15 hektare, dengan
rencana pengembangan kawasan seluas 60 hektare.
Di kawasan tersebut, upaya
konservasi tidak hanya berkaitan dengan satwa. Pengelolaan tumbuhan lokal dan
endemik, pembibitan, serta kegiatan edukasi lingkungan juga menjadi bagian dari
aktivitas yang dikembangkan.
Arboretum di kawasan ini
memiliki koleksi 74 jenis pohon lokal dan endemik. Area tersebut menjadi ruang
pengenalan kekayaan vegetasi setempat sekaligus bagian dari upaya menjaga
keberadaan jenis tumbuhan yang tumbuh di wilayah Sulawesi.
Perhatian terhadap vegetasi
juga berkaitan dengan pemulihan lahan. Sebab, keberadaan tumbuhan merupakan
salah satu unsur penting dalam membangun kembali fungsi ekologis kawasan yang
terdampak kegiatan pertambangan.
Febrin menyebutkan, fasilitas
pembibitan atau nursery PT Vale memiliki kapasitas produksi hingga 700.000
bibit per tahun. Namun, jumlah produksi aktual disesuaikan dengan kebutuhan
reklamasi progresif setiap tahun serta kebutuhan eksternal, termasuk dukungan
bibit untuk kegiatan penghijauan.
“Rata-rata produksi
aktualnya sekitar 250.000 bibit per tahun. Hingga
2025, luas area yang telah direvegetasi mencapai 3.863 hektare, dengan tingkat
keberhasilan tumbuh tanaman di atas 80 persen,” jelasnya.
Data tersebut memperlihatkan
skala pekerjaan pemulihan lahan yang dilakukan perusahaan. Namun, angka
keberhasilan revegetasi juga perlu ditempatkan dalam konteks yang lebih luas:
pemulihan ekosistem tidak hanya diukur dari jumlah bibit yang ditanam atau luas
lahan yang ditanami, tetapi juga dari kemampuan kawasan untuk kembali
menjalankan fungsi ekologisnya.
Ketersediaan habitat,
keberadaan vegetasi lokal, keterhubungan kawasan, dan kemampuan lingkungan
mendukung kehidupan satwa menjadi bagian dari pekerjaan jangka panjang.
Di kawasan Taman Kehati
Sawerigading Wallacea, PT Vale juga memelihara rusa. Selain itu, terdapat rencana
pengembangan fasilitas penangkaran kupu-kupu endemik. Keberadaan arboretum,
nursery, serta fasilitas edukasi lingkungan seperti Wooden House dan DOJO
melengkapi aktivitas pengelolaan kawasan tersebut.
Konservasi
membutuhkan standar ilmiah
Meski fasilitas perawatan
menjadi salah satu unsur penting, keberhasilan konservasi satwa tidak dapat
hanya dinilai dari kemampuan memelihara hewan dalam lingkungan terkendali.
Kepala Balai Besar Konservasi
Sumber Daya Alam Sulawesi Selatan, Hasnawir, menjelaskan bahwa pengelolaan
satwa secara ex situ harus memperhatikan etika konservasi dan prinsip
kesejahteraan satwa.
“Kandang atau ruang
pemeliharaan harus sesuai dengan kebutuhan biologis dan perilaku alami satwa.
Aspek lain yang perlu diperhatikan meliputi kecukupan pakan dan air, kebersihan
lingkungan, pemantauan kesehatan, dukungan tenaga medis hewan, pencatatan,
serta penerapan biosekuriti dan biosafety,” ungkap Hasnawir.
Menurut Hasnawir, dalam
konteks anoa, lingkungan pemeliharaan perlu dirancang menyerupai kondisi
habitat alaminya. Ketersediaan ruang teduh, tempat berlindung, area berkubang,
serta pakan yang sesuai dengan kebutuhan herbivora menjadi bagian dari standar
perawatan.
“Pengembangbiakan
juga membutuhkan pertimbangan khusus. Selain kondisi kesehatan dan kesiapan
satwa, kemurnian genetik harus dijaga agar upaya konservasi tidak justru
menimbulkan persoalan baru bagi kelestarian spesies,” terangnya.
Sementara itu, pelepasliaran
satwa ke alam tidak bisa dilakukan hanya karena hewan telah lama dipelihara
atau terlihat sehat. Diperlukan kajian mengenai kesesuaian habitat,
ketersediaan pakan, keamanan kawasan, potensi ancaman perburuan, serta kondisi
kesehatan dan kemampuan satwa untuk bertahan hidup tanpa ketergantungan pada
manusia.
“Karena itu, setiap
rencana pengembangbiakan maupun pelepasliaran harus melalui kajian dan
koordinasi dengan otoritas konservasi sesuai ketentuan yang berlaku,”
paparnya.
Mengukur
keberlanjutan dari dampak ekologis
Hilirisasi mineral menjadi
salah satu agenda penting dalam pembangunan industri nasional. Melalui
hilirisasi, mineral tidak hanya dipasarkan sebagai bahan mentah, tetapi diolah
untuk menghasilkan produk dengan nilai tambah lebih tinggi.
Namun, penciptaan nilai
tambah ekonomi juga membawa tanggung jawab untuk memastikan bahwa kegiatan
industri berjalan dengan memperhatikan daya dukung lingkungan dan keberlanjutan
sumber daya alam.
Dalam konteks tersebut,
konservasi anoa di Sorowako menghadirkan sisi lain dari pembicaraan tentang
hilirisasi. Di balik aktivitas industri, terdapat pekerjaan yang tidak kalah
penting: menjaga habitat, memulihkan lahan, melindungi spesies endemik, dan
memastikan fungsi ekosistem tetap terpelihara.
Kisah Hussein memperlihatkan
bahwa komitmen konservasi pada akhirnya berhadapan dengan pekerjaan nyata di
lapangan. Seekor anoa jantan yang dirawat setiap hari menjadi pengingat bahwa
pelestarian satwa membutuhkan perhatian berkelanjutan, bukan sekadar program
atau fasilitas.
Rencana menghadirkan anoa
betina masih membutuhkan proses dan persetujuan. Koridor ekologis juga
memerlukan perencanaan serta pelaksanaan jangka panjang. Sementara itu,
keberhasilan revegetasi perlu terus diikuti dengan pemantauan kualitas
ekosistem.
Di titik inilah ukuran
keberlanjutan menjadi penting. Bukan hanya seberapa besar nilai tambah yang
dihasilkan dari pengolahan mineral, tetapi juga seberapa jauh kegiatan industri
mampu menjaga alam yang menjadi bagian dari kehidupan masyarakat dan generasi mendatang.
Bagi Hussein, harapan itu
masih sederhana: anoa yang dirawatnya kelak memiliki pasangan dan dapat
berkembang biak. Bagi konservasi, harapan tersebut jauh lebih luas, yakni
memastikan anoa dan habitatnya tetap menjadi bagian dari kekayaan alam Sulawesi.

No comments:
Post a Comment