LUWU– Empat siswa SMA Negeri 10 Luwu, Kecamatan Bua, Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan, menjalani perawatan medis di Puskesmas Bua setelah mengalami keluhan seperti lemas, mual, sakit perut hingga diare.
Keluhan tersebut sebelumnya diduga berkaitan dengan makanan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dikonsumsi para siswa pada Rabu (9/9/2026).
Namun, hingga Jumat (11/9/2026), belum ada kepastian bahwa keluhan para siswa disebabkan oleh makanan MBG.
Kepala Puskesmas Bua, Muhammad Ali Aksan, mengatakan, dari empat siswi yang mendapatkan perawatan, seluruhnya berjenis kelamin perempuan.
Menurutnya, setelah dilakukan pemeriksaan dan penelusuran terhadap kondisi para siswa, ditemukan sejumlah riwayat kesehatan maupun faktor lain yang dapat berkaitan dengan keluhan yang mereka alami.
“Kalau yang masuk Puskesmas ada empat siswi. Jadi semuanya perempuan,” kata Muhammad Ali saat ditemui di Puskesmas Bua, Jumat (11/9/2026).
Ia menjelaskan, pasien pertama datang pada Kamis (10/9/2026) sekitar pukul 08.30 Wita. Berdasarkan keterangan yang diperoleh dari siswi dan orangtuanya, pasien tersebut tidak sarapan dan memiliki riwayat sakit maag.
“Yang pertama itu saya sudah datangi di ruangannya, di ruangan rawat inap. Katanya dia tidak makan pagi. Jadi kemungkinan itu magnya yang kambuh,” ujarnya.
Pasien kedua masuk sekitar pukul 12.30 Wita dengan keluhan diare. Kepada petugas, siswi tersebut mengaku mengonsumsi MBG pada Rabu siang, kemudian makan pada malam dan pagi hari sebelum kembali mendapatkan makanan.
Pasien ketiga masuk sekitar pukul 16.00 Wita dengan keluhan diare. Siswi tersebut juga mengaku mengonsumsi MBG pada Rabu siang, kemudian makan malam, sarapan dan makan siang pada hari berikutnya.
Sementara pasien keempat masuk pada Kamis malam sekitar pukul 22.00 Wita dengan keluhan diare.
Namun, berdasarkan penelusuran Puskesmas, siswi tersebut sebelumnya mengonsumsi makanan lain, yakni siomay pedas, serta memiliki riwayat maag.
“Dari empat orang itu ada tiga orang riwayat mag, satu orang ada yang infeksi saluran kemih. Jadi makanya dia sering sakit perut di bagian bawah,” jelas Muhammad Ali.
Petugas juga menemukan kondisi kebersihan diri pada salah satu siswi yang dinilai dapat menjadi faktor risiko diare.
“Ada juga tadi satu siswi itu didapat kukunya panjang. Kukunya kotor. Jadi kemungkinan juga dia diare karena itu,” katanya.
Kondisi empat siswa membaik
Muhammad Ali mengatakan, kondisi keempat siswa yang menjalani perawatan di Puskesmas Bua saat ini sudah membaik.
Satu siswa sebenarnya sudah diperbolehkan untuk pulang, tetapi masih menjalani evaluasi dokter sehingga tetap berada di ruang rawat inap.
“Satu orang sebenarnya sudah mau pulang, tapi dokter masih mau evaluasi. Jadi masih di ruangan rawat inap. Yang tiga orang itu masih dirawat juga, tapi sudah saya lihat tadi sudah baik-baik,” ujarnya.
Ia menambahkan, seluruh biaya perawatan siswa ditanggung melalui BPJS Kesehatan.
Bagi siswa yang kepesertaan BPJS-nya belum aktif, pihak Puskesmas dapat membantu mengaktifkannya melalui program Universal Health Coverage (UHC) Kabupaten Luwu.
“Jadi selama dia KK atau KTP Luwu, dia bisa berobat gratis dengan program UHC itu,” jelasnya.
Sekolah: Belum bisa simpulkan MBG penyebab sakit
Sementara itu, Kepala SMA Negeri 10 Luwu, Arifin, mengatakan, pada Kamis (10/9/2026), terdapat enam siswa yang meminta izin pulang karena mengeluhkan sakit perut.
Menurut Arifin, para siswa tersebut meminta izin pulang sekitar pukul 13.00 Wita.
“Saya tanya sakit perutnya karena apa, mereka bilang tidak tahu juga, cuma sakit perut, mau pulang,” kata Arifin.
Ia mengatakan, saat itu kondisi sekolah juga masih menghadapi keterbatasan air akibat kemarau sehingga siswa mengalami kesulitan menggunakan toilet.
Namun, sekitar pukul 14.00 Wita, dua personel Polsek Bua datang ke sekolah dan menyampaikan informasi mengenai adanya siswa yang diduga sakit setelah mengonsumsi MBG.
Arifin kemudian meminta agar informasi tersebut terlebih dahulu diperiksa.
“Saya bilang, tunggu dulu. Kita cek dulu kebenarannya. Apakah itu benar bahwa setelah makan MBG dia sakit perut atau bagaimana?” ujarnya.
Menurut Arifin, makanan MBG dikonsumsi siswa pada Rabu sekitar pukul 12.30 Wita, sementara keluhan baru dirasakan sejumlah siswa beberapa jam kemudian, bahkan ada yang baru mengalami keluhan pada Kamis dini hari hingga pagi.
“Jadi kami tidak bisa mengambil kesimpulan bahwa itu faktor MBG. Karena sudah selang beberapa waktu dan sudah ada makanan lain juga yang mereka konsumsi sebelum itu dan sesudah itu,” katanya.
Arifin juga membenarkan terdapat empat siswa yang akhirnya mendapatkan perawatan di Puskesmas Bua.
Ia mengatakan, kondisi seluruh siswa tersebut kini membaik.
Siswa tetap menerima MBG
Arifin menegaskan, sampai Jumat, program MBG di SMA Negeri 10 Luwu masih berjalan.
Ia mengatakan, sebagian besar siswa tetap mengonsumsi makanan yang disediakan melalui program tersebut.
“Sampai sekarang kami masih menerima manfaat MBG. Bahkan tadi anak-anak saya ada yang kami kumpul, saya tanya ada yang makan MBG, jawabannya masih makan,” ujarnya.
Jumlah porsi MBG yang diterima sekolah disesuaikan dengan jumlah siswa, yakni sekitar 803 porsi, ditambah makanan untuk guru dan staf.
Arifin juga mengaku ikut mengonsumsi makanan MBG pada hari tersebut. Bahkan, ia sempat mengonsumsi dua porsi karena ada makanan milik rekannya yang tidak dimakan.
“Saya selaku kepala sekolah saat itu sempat menikmati MBG dan alhamdulillah pada hari itu sempat makan dua porsi karena ada teman satu yang tidak makan. Jadi karena saya lapar dan tidak sarapan, saya makan dua porsi. Alhamdulillah sehat walafiat, tidak ada efek sama sekali. Guru yang lain juga tidak merasakan,” katanya.
Hingga kini, penyebab pasti keluhan kesehatan yang dialami sejumlah siswa masih perlu dipastikan melalui pemeriksaan lebih lanjut.
Karena itu, dugaan bahwa keluhan tersebut berkaitan dengan makanan MBG belum dapat disimpulkan sebelum hasil pemeriksaan dan penelusuran kesehatan selesai.


No comments:
Post a Comment