YOGYAKARTA – Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Imigrasi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) mengoptimalkan program ketahanan pangan dan pendekatan budaya untuk mencegah tindak pidana perdagangan orang (TPPO) serta keberangkatan pekerja migran Indonesia secara nonprosedural.
Upaya tersebut dilakukan melalui program penanaman jagung, pertunjukan wayang kulit, serta penguatan peran Petugas Imigrasi Pembina Desa (PIMPASA) di Kabupaten Gunungkidul.
Direktur Jenderal Imigrasi Hendarsam Marantoko mengatakan, kerentanan ekonomi dan keterbatasan lapangan pekerjaan di wilayah perdesaan menjadi salah satu faktor yang membuat masyarakat tergiur tawaran pekerjaan bergaji tinggi di luar negeri melalui jalur ilegal.
"Kami coba mencegah migrasi nonprosedural dengan menyasar dari sisi ketahanan pangan. Mengapa, karena kerentanan ekonomi dan kesulitan pangan membuat masyarakat di daerah rentan tergiur oleh iming-iming janji pekerjaan bergaji tinggi di luar negeri melalui jalur ilegal," ujar Hendarsam dalam kegiatan Panen Raya Jagung di Tahunan, Bulurejo, Kapanewon Semin, Selasa (29/9/2026).
Imigrasi tanam jagung di lima kelurahan
Program ketahanan pangan tersebut diwujudkan melalui penanaman jagung seluas 2,5 hektare yang tersebar di lima kelurahan.
Kegiatan ini dilaksanakan melalui kolaborasi dengan kelompok tani dan penyuluh pertanian.Program tersebut diharapkan dapat memperkuat ekonomi masyarakat di tingkat akar rumput sekaligus menyediakan alternatif sumber penghidupan yang berkelanjutan.
Menurut Hendarsam, penguatan ekonomi masyarakat menjadi bagian dari upaya pencegahan agar warga tidak mudah terjebak tawaran pekerjaan ilegal di luar negeri.
Gunakan wayang kulit untuk edukasi migrasi aman
Selain melalui ketahanan pangan, Imigrasi Yogyakarta juga menggunakan pendekatan budaya untuk meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai migrasi aman dan risiko keberangkatan nonprosedural.
Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Imigrasi DIY, Yuni Santi Nurani, mengatakan, pertunjukan wayang kulit digelar untuk menjangkau masyarakat umum hingga kalangan pelajar.
Kegiatan tersebut dilaksanakan di SMK Muhammadiyah Semin dan SMAN 1 Semin, bekerja sama dengan Dinas Kebudayaan DIY.
Pendekatan budaya ini diharapkan dapat membuat edukasi mengenai bahaya perdagangan orang dan migrasi ilegal lebih mudah diterima oleh masyarakat, termasuk generasi muda.
Ada 15 desa binaan imigrasi
Yuni menjelaskan, desa binaan imigrasi menjadi ruang kolaborasi untuk mendekatkan layanan informasi keimigrasian dan edukasi migrasi aman kepada masyarakat.
Saat ini, terdapat 15 desa binaan imigrasi di wilayah kerja Kantor Imigrasi Yogyakarta yang didampingi delapan PIMPASA. Desa binaan tersebut tersebar di Kabupaten Sleman, Kabupaten Gunungkidul, dan Kota Yogyakarta.
Melalui PIMPASA, masyarakat dapat memperoleh informasi mengenai keimigrasian, migrasi aman, serta pencegahan tindak pidana perdagangan orang dan keberangkatan pekerja migran secara nonprosedural.
Hendarsam berharap, kegiatan panen raya dan edukasi melalui pertunjukan wayang kulit dapat memperkuat kehadiran Imigrasi di tengah masyarakat.
Upaya tersebut juga diharapkan mampu meningkatkan pemberdayaan masyarakat sekaligus mengurangi kerentanan terhadap praktik perdagangan orang dan migrasi ilegal.

No comments:
Post a Comment