Notification

×

Iklan

INSPIRASI TIMUR INDONESIA

Iklan

Indeks Berita

Panen Raya di Tengah El Nino, Padi Desa Balla Luwu Tembus 7,5 Ton per Hektare

Wednesday, 30 September 2026 | September 30, 2026 WIB | 0 Views Last Updated 2026-10-01T00:31:19Z

LUWU – Warga Desa Balla, Kecamatan Bajo, Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan, menggelar panen raya padi, Rabu (30/9/2026).

Panen tersebut menjadi momentum bagi pemerintah desa dan kelompok tani setelah berhasil mempertahankan produktivitas pertanian di tengah musim kemarau panjang yang dipengaruhi fenomena El Nino.


Kepala Desa Balla, Baso Jima, mengatakan hasil panen padi tahun ini cukup signifikan. Produktivitas sawah mencapai sekitar 7,5 ton gabah per hektare atau setara dengan sekitar 60 karung.


“Alhamdulillah, panen kami di Desa Balla ini sangat signifikan dan mengalami kenaikan. Jadi, per satu hektare itu kurang lebih 7,5 ton. Kalau jumlah karungnya sekitar 60 karung,” kata Baso Jima saat ditemui seusai panen raya, Rabu.


Menurut Baso, hasil tersebut menunjukkan peningkatan dibandingkan kondisi pada tahun sebelumnya. Ia mengatakan pemerintah desa terus memberikan dukungan terhadap sektor pertanian sebagai bagian dari upaya memperkuat ketahanan pangan masyarakat.


Ia menjelaskan, keberhasilan panen di tengah musim kemarau tidak terlepas dari kolaborasi antara pemerintah desa, kelompok tani, Babinsa, penyuluh pertanian lapangan, serta Balai Penyuluhan Pertanian (BPP).


“Alhamdulillah, kami di Desa Balla bekerja sama dengan kelompok tani. Kemudian Babinsa, Ibu Camat dan stakeholder lainnya, BPP, turun berkolaborasi dan bekerja sama menangani pertanian pada saat musim kemarau,” ujarnya.


Baso mengatakan, kolaborasi tersebut dilakukan untuk memastikan kebutuhan air tanaman tetap terpenuhi meski debit air berkurang akibat kemarau panjang.


Untuk mengatasi dampak kekeringan akibat El Nino, pemerintah desa bersama petani menerapkan dua langkah, yakni memanfaatkan sumber air irigasi dan melakukan pompanisasi.


“Untuk mengatasi kekeringan akibat El Nino, kami melakukan dua cara, yakni pengambilan air irigasi maupun pompanisasi. Ada sekitar 10 hektare lahan yang terdampak dan bisa tertangani dengan cepat,” kata Baso.


Dengan upaya tersebut, lahan pertanian yang sebelumnya berisiko mengalami kekeringan tetap dapat memperoleh pasokan air sehingga tanaman padi bisa tumbuh dan dipanen.


Baso menambahkan, pemerintah desa bersama petani juga telah mulai menyiapkan strategi menghadapi musim kemarau yang masih berlangsung.


Pemerintah desa telah berkomunikasi dengan para petani dan menggelar pertemuan untuk menentukan jadwal tanam berikutnya.


“Untuk ke depan, kami sudah berkomunikasi dengan petani, kemudian mengadakan tudang sipulung hari ini dan menentukan jadwal tanam yakni 23 November - 20 Desember,” tuturnya.


Menurut Baso, pengaturan debit air menjadi salah satu langkah utama yang akan dilakukan untuk menjaga keberlangsungan pertanian selama musim kemarau.


“Solusi yang kami ambil sementara menghadapi puncak kemarau, kami bergerak cepat mengelola pertanian sambil mengantisipasi. Kami tetap mengatur debit air yang ada dari hulu ke hilir. Kemudian membantu juga dengan pompanisasi, itu solusi terakhir,” pungkasnya.

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update