Notification

×

Iklan

INSPIRASI TIMUR INDONESIA

Iklan

Indeks Berita

Ratusan Hektare Sawah di Walenrang Timur Kekeringan, Petani Terpaksa Pompa Air dari Sungai

Thursday, 13 August 2026 | August 13, 2026 WIB | 0 Views Last Updated 2026-08-13T04:58:48Z

LUWU – Ratusan hektare lahan persawahan di Desa Seba-Seba, Kecamatan Walenrang Timur, Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan, mengalami kekeringan akibat musim kemarau yang berkepanjangan.

 


Kondisi tersebut mengancam tanaman padi milik petani yang baru berusia sekitar satu bulan. Tanah persawahan mulai retak dan sumber air untuk irigasi semakin sulit diperoleh.

 

Pantauan pada Kamis (13/8/2026) siang, sejumlah areal persawahan di Desa Seba-Seba terlihat kering. Tanaman padi yang seharusnya memasuki masa perawatan dan pemupukan terancam mati jika tidak segera mendapatkan pasokan air.

 

Untuk mempertahankan tanaman, petani terpaksa memompa air dari sungai yang berjarak sekitar satu kilometer dari areal persawahan.

 

Petani bahkan harus menggunakan dua mesin pompa secara berjenjang. Air dari sungai lebih dulu dipompa menuju titik tertentu, kemudian kembali dipompa menggunakan mesin kedua untuk dialirkan ke sawah yang berada di seberang jalan.

 

Salah seorang petani, ibu Hermin, mengatakan tanaman padinya kini telah berusia lebih dari satu bulan. Namun, kondisi sawah yang kering membuat proses perawatan tanaman menjadi sulit.

 

"Baru lebih satu bulan. Mau dipupuk tapi tidak ada airnya, mau dibersihkan tapi tanahnya keras," kata Hermin.

 

Menurut Hermin, petani harus mengeluarkan biaya tambahan untuk menyewa mesin pompa. Satu mesin pompa disewa dengan biaya sekitar Rp500.000 untuk beberapa hari, kemudian dapat diperpanjang sesuai kebutuhan.

 

Beban petani semakin berat karena kebutuhan bahan bakar untuk mengoperasikan dua mesin pompa mencapai sekitar 30 liter per hari.

 

"Setiap mesin 15 liter. Jadi dua mesin sekitar 30 liter dalam sehari semalam," ucapnya.

 

Hermin mengatakan petani juga kesulitan mendapatkan bahan bakar. Dalam kondisi tertentu, mereka bahkan terpaksa mengambil bahan bakar dari sepeda motor agar mesin pompa tetap bisa beroperasi.

 

"Yang penting pompa untuk sawah bisa beroperasi," ujarnya.

 

Petani berharap pemerintah memberikan bantuan sarana pengairan, terutama sumur bor, sehingga lahan persawahan tetap mendapatkan pasokan air ketika musim kemarau.

 

"Kami berharap bantuan berupa sumur bor agar sawah kami kalau kering bisa teraliri air," tutur Hermin.

 

 

Dinas Pertanian siapkan pompa dan sumur bor

 

Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Luwu, Islamuddin, mengatakan pemerintah daerah telah menyiapkan sejumlah langkah untuk mengatasi kekurangan air di lahan pertanian.

 

Menurut Islamuddin, Kabupaten Luwu memiliki sekitar 34.000 hektare lahan baku sawah. Dari jumlah tersebut, sekitar 22.000 hektare berada dalam kawasan lahan pertanian pangan berkelanjutan (LP2B).

 

Intervensi teknis akan dilakukan melalui bantuan pompa maupun pembangunan sumur bor di sejumlah wilayah yang mengalami kekeringan.

 

Islamuddin menyebut beberapa lokasi telah diusulkan untuk mendapatkan bantuan, di antaranya Balubu, Tallangbulawang, dan Noling.

 

"Ada beberapa lokasi yang sebetulnya kami sudah siapkan untuk mencarikan solusi dalam bentuk irigasi perpompaan dan sumur bor," jelas Islamuddin.

 

Data kelompok tani di sejumlah wilayah tersebut, kata dia, telah dikirimkan ke Kementerian Pertanian untuk mendapatkan dukungan bantuan.

 

Islamuddin juga meminta petani yang mengalami kekeringan segera melaporkan kondisi lahannya kepada Dinas Pertanian Kabupaten Luwu agar dapat dilakukan penanganan.

 

"Kalau ada yang mau silahkan melaporkan lahannya kering, silakan menghubungi kami. Kami akan mencarikan solusi," terangnya.

 

Menurut dia, jika masih terdapat sumber air seperti sungai yang debitnya memungkinkan, penggunaan pompa menjadi salah satu solusi yang dapat dilakukan dengan cepat.

 

 

Bupati minta penanganan tak berhenti pada pendataan

 

Sementara itu, Bupati Luwu, Patahudding, meminta jajaran pemerintah daerah tidak berhenti pada rapat dan pendataan dalam menangani dampak kekeringan.

 

Ia menginstruksikan perangkat daerah terkait segera turun ke lapangan untuk memastikan kondisi riil sekaligus mengidentifikasi kebutuhan masyarakat.

 

"Yang kita butuhkan sekarang adalah data kebutuhan yang konkret. Berapa pompa yang tersedia, berapa yang masih dibutuhkan, dan titik mana yang harus segera ditangani," tegas Patahudding.

 

Menurut Patahudding, penanganan kekeringan harus diarahkan pada solusi yang cepat sekaligus efisien.

 

Penggunaan pompa air, sumur bor, dan deep well dinilai lebih efektif untuk penanganan jangka menengah dan panjang dibandingkan distribusi air menggunakan armada tangki secara terus-menerus.

 

Pemkab Luwu juga meminta organisasi perangkat daerah (OPD) teknis memperkuat koordinasi dengan Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan, pemerintah pusat, BPBD, TNI, Polri, serta pemerintah desa.

 

Koordinasi tersebut diperlukan untuk mempercepat dukungan sarana dan prasarana bagi wilayah yang terdampak kekeringan.

 

Selain sektor pertanian, pemerintah daerah juga menyiapkan langkah untuk menjaga ketersediaan air bersih bagi masyarakat di wilayah terdampak.

 

“Penanganan kekeringan diarahkan untuk menjaga produktivitas lahan pertanian, mempertahankan ketahanan pangan, sekaligus memastikan kebutuhan dasar masyarakat terhadap air tetap terpenuhi selama musim kemarau,” tegas Patahudding.

 

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update