LUWU – Ratusan hektare lahan persawahan di Desa Seba-Seba, Kecamatan Walenrang Timur, Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan, mengalami kekeringan akibat musim kemarau yang berkepanjangan.
Kondisi tersebut mengancam tanaman padi milik petani yang
baru berusia sekitar satu bulan. Tanah persawahan mulai retak dan sumber air
untuk irigasi semakin sulit diperoleh.
Pantauan pada Kamis (13/8/2026) siang, sejumlah areal
persawahan di Desa Seba-Seba terlihat kering. Tanaman padi yang seharusnya
memasuki masa perawatan dan pemupukan terancam mati jika tidak segera
mendapatkan pasokan air.
Untuk mempertahankan tanaman, petani terpaksa memompa air
dari sungai yang berjarak sekitar satu kilometer dari areal persawahan.
Petani bahkan harus menggunakan dua mesin pompa secara
berjenjang. Air dari sungai lebih dulu dipompa menuju titik tertentu, kemudian
kembali dipompa menggunakan mesin kedua untuk dialirkan ke sawah yang berada di
seberang jalan.
Salah seorang petani, ibu Hermin, mengatakan tanaman
padinya kini telah berusia lebih dari satu bulan. Namun, kondisi sawah yang
kering membuat proses perawatan tanaman menjadi sulit.
"Baru lebih satu bulan. Mau dipupuk tapi tidak ada
airnya, mau dibersihkan tapi tanahnya keras," kata Hermin.
Menurut Hermin, petani harus mengeluarkan biaya tambahan
untuk menyewa mesin pompa. Satu mesin pompa disewa dengan biaya sekitar
Rp500.000 untuk beberapa hari, kemudian dapat diperpanjang sesuai kebutuhan.
Beban petani semakin berat karena kebutuhan bahan bakar
untuk mengoperasikan dua mesin pompa mencapai sekitar 30 liter per hari.
"Setiap mesin 15 liter. Jadi dua mesin sekitar 30
liter dalam sehari semalam," ucapnya.
Hermin mengatakan petani juga kesulitan mendapatkan bahan
bakar. Dalam kondisi tertentu, mereka bahkan terpaksa mengambil bahan bakar
dari sepeda motor agar mesin pompa tetap bisa beroperasi.
"Yang penting pompa untuk sawah bisa
beroperasi," ujarnya.
Petani berharap pemerintah memberikan bantuan sarana
pengairan, terutama sumur bor, sehingga lahan persawahan tetap mendapatkan
pasokan air ketika musim kemarau.
"Kami berharap bantuan berupa sumur bor agar sawah
kami kalau kering bisa teraliri air," tutur Hermin.
Dinas Pertanian siapkan pompa dan sumur bor
Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Luwu, Islamuddin,
mengatakan pemerintah daerah telah menyiapkan sejumlah langkah untuk mengatasi
kekurangan air di lahan pertanian.
Menurut Islamuddin, Kabupaten Luwu memiliki sekitar
34.000 hektare lahan baku sawah. Dari jumlah tersebut, sekitar 22.000 hektare
berada dalam kawasan lahan pertanian pangan berkelanjutan (LP2B).
Intervensi teknis akan dilakukan melalui bantuan pompa
maupun pembangunan sumur bor di sejumlah wilayah yang mengalami kekeringan.
Islamuddin menyebut beberapa lokasi telah diusulkan untuk
mendapatkan bantuan, di antaranya Balubu, Tallangbulawang, dan Noling.
"Ada beberapa lokasi yang sebetulnya kami sudah
siapkan untuk mencarikan solusi dalam bentuk irigasi perpompaan dan sumur
bor," jelas Islamuddin.
Data kelompok tani di sejumlah wilayah tersebut, kata
dia, telah dikirimkan ke Kementerian Pertanian untuk mendapatkan dukungan
bantuan.
Islamuddin juga meminta petani yang mengalami kekeringan
segera melaporkan kondisi lahannya kepada Dinas Pertanian Kabupaten Luwu agar
dapat dilakukan penanganan.
"Kalau ada yang mau silahkan melaporkan lahannya
kering, silakan menghubungi kami. Kami akan mencarikan solusi," terangnya.
Menurut dia, jika masih terdapat sumber air seperti
sungai yang debitnya memungkinkan, penggunaan pompa menjadi salah satu solusi
yang dapat dilakukan dengan cepat.
Bupati minta penanganan tak berhenti pada pendataan
Sementara itu, Bupati Luwu, Patahudding, meminta jajaran
pemerintah daerah tidak berhenti pada rapat dan pendataan dalam menangani
dampak kekeringan.
Ia menginstruksikan perangkat daerah terkait segera turun
ke lapangan untuk memastikan kondisi riil sekaligus mengidentifikasi kebutuhan
masyarakat.
"Yang kita butuhkan sekarang adalah data kebutuhan
yang konkret. Berapa pompa yang tersedia, berapa yang masih dibutuhkan, dan
titik mana yang harus segera ditangani," tegas Patahudding.
Menurut Patahudding, penanganan kekeringan harus
diarahkan pada solusi yang cepat sekaligus efisien.
Penggunaan pompa air, sumur bor, dan deep well dinilai
lebih efektif untuk penanganan jangka menengah dan panjang dibandingkan
distribusi air menggunakan armada tangki secara terus-menerus.
Pemkab Luwu juga meminta organisasi perangkat daerah
(OPD) teknis memperkuat koordinasi dengan Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan,
pemerintah pusat, BPBD, TNI, Polri, serta pemerintah desa.
Koordinasi tersebut diperlukan untuk mempercepat dukungan
sarana dan prasarana bagi wilayah yang terdampak kekeringan.
Selain sektor pertanian, pemerintah daerah juga
menyiapkan langkah untuk menjaga ketersediaan air bersih bagi masyarakat di
wilayah terdampak.
“Penanganan kekeringan diarahkan untuk menjaga
produktivitas lahan pertanian, mempertahankan ketahanan pangan, sekaligus
memastikan kebutuhan dasar masyarakat terhadap air tetap terpenuhi selama musim
kemarau,” tegas Patahudding.

No comments:
Post a Comment